Konten dari Pengguna

Spektrum Pendidikan Macet

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
29 Juli 2025 9:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Spektrum Pendidikan Macet
Semua yang terjadi di dalam kehidupan ini punya arti dan makna untuk manusia, termasuk macet. Macet mendidik seseorang untuk sabar.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tribunnews.com
zoom-in-whitePerbesar
Tribunnews.com
Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang penuh dengan dinamika kehidupan. Sebelum pagi tiba, malamnya sudah merancang aktivitas yang akan dijalani. Saat pagi menghampiri, masyarakat sudah menyambut datangnya pagi dengan cara bangun dini hari.
Kenapa demikian? Sejatinya kegiatan hari itu adalah guru kehidupan untuk mendidik diri agar lebih mawas tentang arti kehidupan. Kehidupan hadir ke dalam benak manusia dengan warna hitam dan putihnya. Jika putih saja yang datang kepada manusia, maka ia bukan malaikat.
Sebaliknya, jika hitam saja yang datang ia bukan setan yang selalu mendorong ke arah lembah hitam. Kedua-duanya selalu berjalan beriringan. Terkadang hitam mendominasi, terkadang putih lebih besar menyelimuti. Potensi mendominasinya sangat bergantung pada aspek iman dan takwanya seseorang.
Iman dan takwa tidak boleh hanya berhenti saat shalat saja. Iman dan takwa tidak boleh berhenti saat di masjid saja. Tetapi iman dan takwa harus menghiasi ke dalam kehidupan sehari-hari, termasuk iman dan takwa masuk ke dalam perjalanan yang macet.
Saat manusia dini hari sudah siap-siap beraktivitas. Siap dengan aktivitas yang akan dijalaninya hari itu. Berangkat pagi dengan mental kerja yang sudah dibangun sejak malam hari. Saat tiba di jalan, lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat sudah terlihat menggeliat.
Kendaraan sudah hampir memenuhi jalan raya. Semakin siang beranjak, semakin padat kendaraan yang hilir mudik di perjalanan. Saat kendaraan padat di jalan, maka terjadi apa yang disebut dengan macet.
Macet bagi sebagian besar orang adalah hal yang tidak menyenangkan. Tetapi itulah fakta di lapangan, semua kejadian harus dihadapi dengan santai dan sabar. Dunia memang tempatnya ujian kesabaran, termasuk ujian kemacetan.
Di perjalanan, memang memerlukan orang yang mengalah jika ada kendaraan yang meminta jalan. Yang diminta jalan harus berlapang dada untuk memberikan jalan. Jika yang satu meminta jalan dan yang diminta tidak memberi, maka akan timbul masalah.
Tidak sedikit masalah di perjalanan semakin ruwet dan tidak karuan karena tidak ada kedewasaan dalam berkendara. Yang meminta jalan seharusnya diberi, agar tidak menimbulkan masalah. Jika tidak memberi jalan, masalah bukan hanya datang kepada dirinya saja, tetapi akan datang kepada pengendara yang ada di sekitarnya.
Dalam macet jiwa seseorang dituntut untuk menampilkan jiwa yang waras. Jiwa yang tidak waras sebaiknya tidak usah membawa kendaraan, karena akan menimbulkan kerugian kepada orang lain.
Dalam bingkai agama, kewajiban agama akan gugur jika pemeluk agama tidak waras. Maka, orang yang berkendara dalam keadaan tidak waras baiknya tidur saja di kasur empuk di pinggir kali sambil menginternalisasikan makna dzikir ke dalam jiwanya.
Jika sedang macet tidak usah menekan klakson kecuali untuk memberi perhatian kepada pengendara lain. Klakson berbunyi jika benar-benar dibutuhkan untuk menghindari bahaya. Baik bahaya untuk diri dan maupun untuk pengendara orang lain.
Sejatinya macet tidak hanya berhentinya kendaraan, tetapi macet untuk mengeluarkan sikap sabar seseorang dari fisiknya yang sedang berhenti. Biarkan fisiknya berhenti, asal sabarnya aktif menekan emosi yang tidak karuan.
Sabar yang aktif akan melahirkan sikap yang tidak mementingkan diri sendiri. Jalan yang macet adalah tempat melatih ujian kesabaran secara kolektif. Jalan yang macet sudah biasa, tetapi mental yang macet tidak boleh mengusai.
Jalan-jalan harus dikuasai oleh orang yang punya mental luhur. Tidak hanya menginjak gas, tapi harus sering menginjak rem, agar orang lain yang lebih memerlukan jalan sampai dengan segera dan tentunya selamat.
Mobil ambulan yang meraung-raung tidak boleh lama-lama berhenti, ia harus didahulukan. Mobil pemadam juga tidak boleh berlama-lama terjebak macet, pengendara di sekitarnya sudah harus sadar bahwa mobil pemadam itu akan menyelamatkan nyawa banyak orang.
Maka macet, bukan hanya membuang sia-sia bensin menguap, tetapi membuang egosentris yang meletup-letup saat di perjalanan. Biarkan bensin menguap, asalkan ego yang keakuan itu ikut luntur oleh kesadaran yang diselimuti iman dan takwa.
Oleh karena itu, iman dan takwa harus menyinari dalam kehidupan sehari-hari, termasuk menyinari perjalanan yang sedang macet. Iman dan takwa akan tercermin dalam bentuk diri yang tidak angkuh di perjalanan, mendahulukan pemadam yang akan menyelamatkan nyawa banyak orang, memberi jalan ambulan yang urgen, memberi jalan kendaraan yang terjepit dan menghormati sesama pengguna jalan. Semoga bermanfaat. Aamiin.
Trending Now