Konten dari Pengguna
Spektrum Pendidikan Tazkiyatun Nafs Akhir Pekan (1)
28 November 2025 9:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Spektrum Pendidikan Tazkiyatun Nafs Akhir Pekan (1)
akhir pekan membawa kondisi jiwa yang gelisah dan sekaligus bahagia. Kondisi itu membutuhkan obat manjur, salah satunya adalah salat dan membaca al-Qur'an.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari ini, jum’at 28 November 2025, pada umumnya masyarakat perkotaan yang punya aktivitas pekerjaan merasakan kondisi jiwanya sudah mengendur dan plong. Kondisi itu, muncul lantaran akhir pekan akan segera datang.
Akhir pekan hari yang ditunggu-tunggu oleh kaum pekerja, sehingga begitu akhir pekan datang kondisi jiwa merasakan kebahagian. Artinya, Senin sampai dengan Jum’at kaum pekerja berjibaku, pontang-panting, pergi pagi pulang sore, kadang lembur dan pada ujung merasakan tekanan kesehatan mental yang kurang harmonis
Kondisi ini jika tidak disikapi dengan bijak, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kehilangan keseimbangan. Fisiknya lelah dan jiwanya gelisah. Tidak heran saat libur tiba, banyak yang berleha-leha bersama keluarga.
Di rumah hanya duduk sambil nonton TV, bincang ringan bersama orang tercinta, tiduran, bahkan ada keluar mencari suasana baru. Entah itu nonton film di bioskop, rekreasi, makan bersama keluarga di luar, silaturahmi, menghadiri undangan pernikahan, mengikuti seminar, dan mengikuti pengajian.
Warna-warni kegiatan akhir pekan itu, menunjukkan bahwa masyarakat sedang mencari saluran untuk mencurahkan kondisi jiwa yang sedang membutuhkan obat. Tapi sayang, obat itu ada yang manjur dan ada yang kurang manjur.
Obat yang kurang manjur itu diminum seminggu sekali, namun minggu berikutnya kambuh lagi. Ini karena obat yang diminum belum menyentuh penyakit yang sebenarnya. Pengobatannya hanya menyentuh permukaan luar saja, tapi dalamnya masih sakit kronis.
Pengobatan yang manjur itu seharusnya obat yang langsung menekan penyakit sebenarnya, bukan hanya sekadar simtomatik. Tapi langsung digali oleh dokter yang punya kompetensi melalui serangkaian analisa medis, baik melalui anamnesa maupun pemeriksaan laboratorium.
Pertanyaanya, apakah kondisi akhir pekan itu sakit fisik ? atau kelelahan jiwa ketika banyak menghadapi kenyataan di lapangan? Jika sakit fisik sudah pas bergerak dan berobat ke dokter. Namun, apabila sakit bukan fisik melainkan kondisi jiwa, maka harus berobat ke pengobatan jiwa.
Pengobatan jiwa bukan kepada rumah sakit jiwa, tapi bergerak ke berbagai tempat untuk mendapatkan pencerahan jiwa. Pada praktiknya, bisa jadi pengobatnnya melalui media yang sudah ada, misalnya membaca al-Qur’an.
Membaca al-Qur’an bukan hanya obat fisik, tapi merupakan obat batin yang tidak tergantikan. Begitu pentingnya membaca al-Qur’an sebagai terapi untuk kehidupan umat manusia, tidak heran kitab suci itu diturunkan di malam yang istimewa, malam laitatul qadar.
Ini artinya bahwa al-Qur’ar benar-benar sangat istimewa dan merupakan mukjizat untuk Nabi Muhammad SAW, yang hikmah besarnya bisa digali oleh manusia. Membacanya ibadah. Huruf demi huruf mendapatkan pahala. Dan jiwanya bergetar memberi efek menenangkan, seperti diazepam atau luminal dalam pengobatan medis.
Membacanya tidak asal membaca, tapi betul-betul diresapi dan dihayati huruf demi huruf. Bahkan, sebelum membaca sebaiknya punya wudu, seperti wudunya mau salat. Anggap saja ketika membaca al-Qur’an kita sedang berdialog dengan kalam Allah agar mampu merasakan kedekatan dengan-Nya.
Membaca al-Qur’annya bisa di rumah atau di masjid. Membaca al-Qur’an di rumah bisa mengambil tempat di kamar khusus. Di kamar khusus itu, menggelar sajadah, lalu salat dua atau empat rakaat. Entah itu salat duha atau salat hajat.
Salatnya betul-betul dinikmati dan dihayati. Ketika membaca al-Qur’an dalam salat berupa surat al-Fatihah, bayangkan kita sedang berdialog dengan Allah yang ada di hadapan kita. Salat kita insya Allah akan khusuk dan bahagia.
Bacaan demi bacaan dan Gerakan demi gerakan dalam salat, semua prosesnya dinikmati dan tidak dianggap beban. Perintah salat, anggap saja diperintah oleh kekasih, pasti salatnya akan dibenar-benarkan dan akan dikhusuk-khusukan. Itu semua demi sang kekasih.
Begitu juga dalam salat, Allah adalah kekasih orang beriman dan bertaqwa. Setiap kali perjumpaan orang beriman dengan Allah melalui salat, setiap itu pula mampu merasakan kehadiran Allah ketika salat. Selesai salat berdoa, insya Allah jiwanya akan tenang dan mampu menghilangkan gundah serta gelisah sesuai firman-Nya di dalam kitab al-Qur’an.
Masih dalam kondisi menghadap kiblat, lalu tangan menghampiri kitab suci al-Qur’an dan membaca dengan khusuk dan penuh penghayatan, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Semoga bermanfaat.*Bersambung.

