Konten dari Pengguna
Spektrum Pendidikan Tazkiyatun Nafs Akhir Pekan (2)
28 November 2025 15:20 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Spektrum Pendidikan Tazkiyatun Nafs Akhir Pekan (2)
Pendidikan tazkiyatun nafs akhir pekan banyak bentuk, di antara mengikuti kajian keagamaan yang diampu oleh ustaz-ustaz yang memiliki lata belakang pendidikan yang jelas.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca al-Qur’an seharusnya menjadi nafas kehidupan umat Islam yang merindukan kedamaian batin. Secara simbolik, umat Islam disinggung secara halus oleh Allah dalam sehari semalam membaca al-Qur’an paling tidak 17 kali. Sama dengan jumlah rakaat dalam bilangan salat.
Singgungan halus itu baiknya banyak dibicarakan dalam berbagai forum pengajian. Jumlah rakaat bukan sekadar bilangan tanpa makna, namun jauh dari itu jumlah rakaat menjadi pemberi motivasi agar umat Islam sadar betul bahwa membaca al-Qur’an itu adalah titah ilahi.
17 kali membaca al-Qur’an dalam salat memang cukup berat kalau diterapkan di luar salat. Paling tidak, sehari lima kali. Atau minimal selepas salat magrib dan selepas salat subuh. Setelah magrib untuk memperbaiki keadaan jiwa yang sudah dipakai seharian ketika kerja dan sekaligus mempersiapkan fisik sebelum tidur.
Sebelum tidur, fisik dan jiwa diberikan nutrisi lengkap agar tidurnya punya kualitas. Setelah salat subuh, untuk mempersiapkan jiwa agar mampu bertahan dan sekaligus punya kreativitas dalam bekerja.
Dalam konteks lain pembersihan jiwa di akhir pekan bisa mengambil bentuk lain, selain membaca al-Qur’an. Umpamanya, mengikuti kajian-kajian yang ada di lingkungan rumah. namun, hendaknya guru yang menjadi pengisi kajian adalah yang betul-betul mempunyai latar belakang keilmuan yang jelas.
Di lapangan banyak ditemukan ustaz-ustaz yang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang jelas. Bahkan, di antara mereka ada yang mantan pengurus masjid, mantan penjual pakaian di pasar, mantan musisi, pegawai pajak, pelanjut ayahnya dan lain sebagainya.
Awalnya, para mantan itu bisa menjadi ustaz karena ada kesempatan atau diberi kesempatan oleh pihak-pihak tertentu. Setelah dipanggil ustaz oleh masyarakat, lama kelamaan percaya diri. Lalu banyak yang meminta jadwal ke berbagai masjid dengan forum ustaz atau ikatan dai sebagai wadah pergerakannya.
Meski begitu, banyak juga ustaz-ustaz yang memiliki latar belakang keilmuan yang jelas. Baik itu pernah mondok, kuliah maupun berbagai pendidikan keagamaan lainnya. Tapi, lagi-lagi ustaz-ustaz yang pernah kuliah, baik itu S1, S2 atau S3, jumlahnya sangat terbatas.
Di lain pihak, pemerintah dan pihak swasta sudah ambil peran untuk memakmurkan kajian keagamaan dengan memberikan beasiswa penuh kepada para calon ulama. Misalnya, Kementerian Agama tahun 2015 lalu kerja sama dengan PTKIN (Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri) dan PTKIS (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) mengadakan beasiswa Program 5000 Doktor.
Mahasiswa yang masuk hingga 2019, ada 2223. Yang sudah lulus 1102. Artinya kurang dari 50% program 5000 Doktor belum lulus. Jumlah 1102 doktor itu pulang ke daerahnya masing-masing dan mengabdi di lingkungan perguruan tinggi tempat mengajarnya. Belum lagi Baznas RI dan berbagai lembaga lainnya yang ikut mempersiapkan SDM untuk mencerdaskan masyarakat.
Baru-baru ini, Imam Besar masjid Istiqal Jakarta yang juga Menteri Agama, Nasaruddin Umar, membuat Program PKU MI (Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal) untuk jenjang S2 S3 yang biayai penuh oleh negara.
Program tersebut, tidak tanggung-tanggung arahnya untuk mencetak kader ulama yang bertaraf nasional dan internasional. Kuliahnya di PTIQ Jakarta dan diberikan kesempatan kuliah di Amerika dan Timur Tengah. Tapi, lagi-lagi jumlah yang bisa ikut terbatas.
Kembali ke permasalahan di atas, bahwa betul mengikuti kajian keagamaan itu harus kepada ustaz yang punya kompetensi. Jika sembarangan, jangan harap akan bisa menerima pencerahan dari para ustaz. Bisa jadi malah justru masyarakat menjadi bingung.
Ini bid’ah. itu bid’ah. Seolah-olah beragama kaku, padahal orang yang menyampaikan kajiannya tidak memahami bahwa beragama itu memudahkan bukan menyusahkan. Dari sekian ustaz-ustaz yang beredar di masyarakat, faktanya banyak yang terafiliasi ke berbagai ormas atau kelompok keagamaan.
Ada yang bernaung di bawah NU, Muhammdiyah, Persis, PUI, HTI, Salafi, PKS, Matlaul Anwar, Al-Irsyad, NII, Jamaah Tablig dan lain sebagainya. Keragaman para ustaz tersebut, tidak sedikit menimbulkan gesekan-gesekan.
Bagi masjid yang sudah dewasa, tidak masalah mengambil ustaz dari berbagai kalangan. Namun, bagi masjid yang kaku tidak mau sembarangan mengambil ustaz, kecuali ustaz yang berasal dari kelompoknya.
Dengan melihat hal itu, bagi para pencari kajian, harus pinta-pintar memilih dan memilah. Ustaz yang memberi rasa damai, mencerahkan, moderat dan humoris banyak dicari oleh masyarakat. Tapi sekali lagi, jumlah mereka sangat terbatas.
Wajar, jika ustaz yang mencerahkan itu sering diburu oleh masyarakat, meski tempatnya jauh tidak menjadi masalah, yang penting jiwanya bisa tercerahkan. Ketika sudah tercerahkan, motivasi ibadahnya meningkat dan terus meningkat. Pada akhirnya, pendidikan tazkiyatun nafs bisa terlaksana. Semoga bermanfaat.*Bersambung.

