Konten dari Pengguna
Tahun Baru dan Kesadaran Mengelola Waktu (1)
5 Januari 2026 9:58 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Tahun Baru dan Kesadaran Mengelola Waktu (1)
Tahun baru memberi spirit bahwa manusia harus bisa mengatur waktu. Waktu yang dipakai harus memiliki output yang baik, jika tidak, maka akan rugi.Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bumi ini berputar pada porosnya. Sementara manusia berputar dengan mengisi waktu yang sudah ditetapkan oleh pembuat waktu. Setiap hari manusia dalam beraktivitas selalu berdampingan dengan waktu. Mulai dari pagi sampai pagi kembali. Mulai jam enam sore sampai jam enam pagi.
Waktu itu terus berputar. Berganti waktu dari jam ke jam. Berganti waktu dari pekan ke pekan. Berganti waktu dari bulan ke bulan. Dan tibalah berganti tahun lama ke tahun baru. Tahun lama adalah tahun di mana aktivitas menyertai di dalamnya. Waktu tidak akan berubah, selamanya bergerak seperti itu.
Bergerak dari mulai pagi sampai sore. Yang berubah adalah pengisi waktunya. Pengisi waktu itu manusia. Manusia terus didampingi oleh waktu, sampai tiba waktu itu tidak lagi menemani manusia alias meninggalkan alam dunia.
Waktu yang digenggam oleh manusia melintasi umurnya yang panjang, bukti bahwa manusia tidak bisa melipat waktu. Waktu itu terus berjalan sampai ketemu titik awalnya. Dalam konteks manusia pengisi waktu, perlu menata ulang bagaimana menyalakan waktu dengan efektif.
Setiap diri yang menggunakan waktu, perlu mengatur waktu sebaik mungkin. Waktu itu tidak boleh dibuang sia-sia. Berjalan ke sana kemari tanpa tujuan yang jelas, itu pertanda sedang membuang waktu. Duduk santai sambil diskusi dengan sahabat tercinta, itu pertanda sedang mengelola waktu.
Duduk santai diiringi diskusi ringan adalah upaya diri untuk mengefektifkan waktu. Manusia beriman bersanding dengan agama yang benar dengan sendirinya harus punya komitmen waktu. Waktu yang dimiliki oleh semua manusia adalah sama-sama berjumlah 24 jam.
Waktu sejumlah 24 jam itu perlu diatur sebaik mungkin. Mulai dari bangun subuh sampai malam menjelang tidur, perlu manajemen waktu. Dalam kaidah agama, manusia sudah diberikan waktu sebanyak 12 bulan. Dari 12 bulan itu ada empat bulan yang mendapatkan perhatian khusus.
Empat bulan khusus itu tidak lain sebagai slot waktu untuk merenung dan mengevaluasi. Dari sini, manusia mendapatkan inspirasi bahwa penataan waktu itu penting adanya. Ibaratnya, dalam kehidupan sekolah ada berbagai macam program. Mulai dari program evaluasi harian, pekanan, bulanan sampai evaluasi dalam satu semester.
Evaluasi satu semester sampai evaluasi tahunan. Dalam pandangan yang lebih kritis lagi, waktu yang berjumlah 12 bulan dipetakan dengan meminjam istilah sekolah; program (promes) semester dan program tahunan (prota). Ini waktu yang dibingkai dalam konteks global.
Perlu kiranya membingkai waktu dalam konteks harian, mingguan, bulanan, semesteran dan tahunan. Dalam konteks harian, manusia beriman sudah diberikan contoh dalam perintah salat. Salat sehari semalam berjumlah lima waktu. Dalam bayangan agama, manusia beriman harus bisa mengatur waktu.
Bangun subuh, tentu tidak boleh lewat dari waktu yang sudah ditentukan oleh aturan waktu salat subuh. Ia mesti bangun sebelum subuh, menurut idealnya. Atau paling tidak bangun beberapa saat sebelum subuh. Artinya, alarm dalam tubuh mesti disetel. Jangan hanya menyetel alarm yang terdapat di ponsel, alarm tubuh pun perlu disetel.
Cara menyetel alarm tubuh, setelah berdoa kepada Allah , katakan kepada tubuh “kamu harus bangun jam 04.00 dini hari.” Ucapan itu terus didengungkan kepada jiwa kita agar masuk dan bersemayam dalam batin. Lama-lama ucapan itu akan memberi sugesti kepada tubuh. Akhirnya, tubuh sudah terbiasa dan sudah mengenal perintah bangun dini hari lewat alarm alami dalam tubuh.
Setelah bangun, berikan jeda waktu kepada tubuh sesaat sebelum bersyukur lewat untaian doa bangun tidur. Biarkan tubuh loading dulu menuju kesadaran penuh. Seperti komputer yang baru dinyalakan, biarkan dulu sampai selesai loadingnya. Selesai loading, baru tubuh siap menerima perintah berikutnya.
Di sinilah jiwa manusia diisi dengan kalimat fitrah dalam bentuk doa. Doa bangun tidur, seperti yang sudah kita hafal bersama adalah ucapan syukur. Mengawali kesadaran jiwa, manusia memberi nutrisi terbaik dengan ucapan alhamdulillah.
Waktu pertama setelah tidur, yang kali pertama dimasukkan ke dalam jiwa adalah ucapan alhamdulillah. Ini pendidikan untuk mengisi waktu dengan aktivitas terbaik. Di dalamnya, ada pembuka waktu dengan kalimat yang akan membawa berkah. Ucapan berkah yang mengandung nutrisi, secara tidak sadar mengingatkan kepada manusia bahwa hidup ini adalah harus didesain sesuai kendak pencipta waktu.
Buktinya, setiap mata melek dari tidur, manusia mengucapkan segala puji bagi Allah. Manusia tidak ada daya dan upaya, di dalamnya sudah diatur oleh Sang Pencipta bahwa manusia tidak akan bisa lepas dari kebutuhan terhadap Tuhan. Ini juga senada dengan firman-Nya, semua manusia ketika di alam rahim sudah bersaksi kepada Allah, bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah. *Bersambung

