Konten dari Pengguna

Tahun Baru dan Kesadaran Mengelola Waktu (2)

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
6 Januari 2026 9:51 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tahun Baru dan Kesadaran Mengelola Waktu (2)
Kegiatan di awal tahun baru, hampir selalu melibatkan salat. Salat itu ada waktunya, seperti pergantian tahun yang sudah pasti ketika menginjak akhir desember.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tribunnews.com
zoom-in-whitePerbesar
Tribunnews.com
Selesai berdoa bangun tidur, diri segera beranjak ke kamar mandi untuk membuang kotoran air seni. Di sini, tubuh sudah diatur untuk membuang kotoran yang tidak boleh ditahan berlama-lama. Ditahan berlama-lama, diujung nanti akan menimbulkan penyakit. Dari pada ditahan, sebaiknya dibuang saja di tempatnya.
Keluar kamar mandi, mengambil air wudu di kran air yang sudah disetting sesuai sunnah wudu, menghadap kiblat. Tidak lupa membaca doa setelah wudu sambil menengadah dan menghadap kiblat. Kondisi ini, memberi arti bahwa manusia tidak boleh kosong dari kegiatan yang memberi makna untuk kehidupan.
Waktu demi waktu, harus dikelola dengan baik. Hari demi hari harus diberi sentuhan manfaat, baik untuk urusan dunia maupun untuk urusan akhirat. Atau urusan dunia yang dapat menghantarkan kepada akhirat. Maka inilah manusia diikat dengan waktu. Waktu berlalu sudah dilewati, hasilnya memberi dampak positif.
berwudu sudah dan berdoa sudah dilakukan, lanjut mempersiapkan untuk melaksanakan salat subuh dengan mengenakan pakaian terbaik. Pakaian yang dikenakan, rapi dan bersih dari najis yang menempel di pakaian. Sebelum berangkat ke masjid, jika masih ada waktu untuk melaksanakan salat tahajud, bisa salat tahajud dulu.
Di masjid, selesai menunaikan salat tidak lupa menyapa sesama jamaah yang sama-sama menunaikan salat. Hubungan dengan Allah boleh baik, namun jangan lupa hubungan dengan sesama manusia harus baik. Salat berjama’ah adalah simbol antara jamaah yang satu dengan yang lainnya saling bersama-sama dalam salat dan kebaikan.
Di sana ada tegur sapa. Baik setelah selesai salat ataupun keluar masjid sama-sama sambil berdiskusi ringan. Merapatkan barisan dalam salat memberi arti bahwa jamaah yang salat itu harus rapat juga empati dan simpatinya. Orang yang salat berjamaah, namun empati dan simpatinya tetap cuek dan tidak menghiraukan kondisi lingkungannya adalah salatnya dipertanyakan.
Salat berkorelasi baik dengan diri dan lingkungannya. Seseorang yang sudah melaksanakan salat, idealnya teratur dalam hidupnya. Karena salat, memberi kerangka manusia beriman untuk lebih menata diri sebaik mungkin. Seperti waktu salat yang sudah diploting lima kali dalam sehari.
Ploting waktu salatnya sungguh sangat presisi dengan kebutuhan manusia. Baik kebutuhan untuk kesehatan fisik maupun untuk kesehatan mental. Dalam pergantian waktu, di sana ada pergantian warna. Warna itu memberi stimulasi terhadap kesehatan manusia.
Ketika subuh tiba, di sana ada warna biru yang dapat mempengaruhi kelenjar tiroid. Dzuhur menghampiri, warna kuning bertaburan memberi dampak kesehatan terhadap pencernaan. Ashar tiba, muncul warna oranye yang dapat mempengaruhi kesehatan prostat dan testis.
Hilang warna oranye, muncul waktu maghrib. Di waktu maghrib, warna merah bertaburan. Warna merah ini selaras dengan frekwensi jin dan iblis. Warna merah hilang datang waktu isya. Di waktu isya, warna gelap segera datang menyapa. Di waktu isya itulah manusia tiba waktunya istirahat setelah menunaikan salat.
Salat selesai ditunaikan, keluar masjid sambil menyapa tetangga yang salat. Menyapa tetangga yang sudah selesai salat dengan suasana sejuk dan tenang, memberi energi kebaikan yang lebih. Tidak seperti menyapa tetangga di luar salat, menyapa selesai salat memberi aura positif dalam pembicaraannya.
Tiba di depan pintu rumah, ucapkan salam, meski anggota keluarga sedang salat atau dzikir. Salam yang diucapkan oleh kita akan dijawab oleh malaikat. Aura cahaya selesai salat, disambung kembali oleh lantunan bacaan al-Qur’an. Membaca al-Qur’an dikeraskan, agar seisi rumah bisa menyimak. Atau jika sama-sama membaca al-Qur’an, cari tempat yang sekiranya tidak saling bersahutan.
Selesai membaca al-Qur’an, mandi dan sarapan. Lalu berangkat kerja ke berbagai tempat kerja. Selesai kerja pulang ke rumah, jika tidak ada keperluan lain. Kondisi waktu dari hari ke hari yang sudah diisi dengan berbagai kegiatan itu, bukan hanya semata-mata kegiatan yang tidak ada hikmahnya, namun penuh hikmah meresap ke dalam jiwa.
Di antara sekian banyak hikmah, manusia diajarkan oleh kegiatan yang menyita waktu itu untuk pandai mengatur waktu. Waktu, tidak ada yang terbuang sia-sia. Meskipun dipakai untuk menyapa pos ronda, di sana ada nilai kehidupan untuk berbagi waktu dengan masyarakat.
Pengorbanan waktu yang digunakan untuk masyarakat adalah investasi terbaik untuk mendulang keberuntungan dan keberkahan. Berkah usianya dan berkah tenaganya. Usia dan tenaga dipakai untuk membantu sesama, baik dalam bentuk pikiran maupun dalam bentuk waktu yang disediakan untuk kebaikan orang lain. Dan hikmah kebaikannya akan kembali kepada diri dan keluarganya. Semoga bermanfaat.
Trending Now