Konten dari Pengguna
Tukang Parkir sebagai Media Pendidikan Karakter
26 November 2025 13:48 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tukang Parkir sebagai Media Pendidikan Karakter
tempat pendidikan karakter sangatlah banyak. Mulai dari lembaga pendidikan Islam, tempat bela diri, sampai tukang parkir. Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) sudah lama banyak diyakini oleh masyarakat sebagai lembaga andal yang mampu mencetak manusia berkarakter. Di LPI anak didik banyak digembleng untuk menjadi manusia tangguh.
Setiap hari sebelum subuh sudah bangun menunaikan salat tahajud. Tidur hingga larut malam. Siang harinya sibuk keluar masuk ruang kelas. Kehidupan di LPI pendidikan karakter benar-benar ditanamkan.
Mandi ngantri. Makan ngantri. Jemur pakaian menunggu giliran. Uang yang diberikan oleh orang tua harus cukup. Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan sehari-hari diselesaikan dengan cara mandiri. Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan menahan rasa rindu kepada orang tua. Belum lagi sandal, alat makan, baju dan lain sebagainya sering hilang.
Itu semua gemblengan kepada anak didik agar tidak lembek dan cengeng ketika menghadapi kerasnya kehidupan di masa akan datang. Dalam konteks kehidupan perkotaan, gemblengan pendidikan karakter tidaklah hanya cukup mengandalkan LPI, perlu ada media lain sebagai pelengkap pendidikan karakter, di antaranya menjadi tukang parkir.
Tukang parkir sering terlihat di berbagai tempat. Mulai dari jalan raya, tukang parkir toko, tukang parkir pasar, tukang parkit mal, dan tukang parkir lainnya. Sebagai tukang parkir jalan raya, misalnya, harus betul-betul menjadi tukang parkir yang tahan banting.
Menjadi tukang parkir di waktu pagi, alhamdulillah cuaca sedang segar-segarnya. Menjadi tukang parkir di waktu siang, panas teriknya menyengat tubuh, tentu menggetarkan nyali bertahan. Ia harus berjibaku, mempertahankan rasa panasnya demi mendapat uang receh.
Panas menyengat mengatur lalu lintas kendaraan tidaklah mudah, harus sabar dan positif thinking menghadapi berbagai karakter pengendara yang lalu lalang di jalan raya. Tidak semua pengendara paham atas pahit getirnya sebagai tukang parkir. Profesi pinggiran itu, banyak dipandang sebelah mata.
Ada pengendara yang ikhlas memberi sekadar seribu dua ribu. Sebelum pergi, di rumah sudah menyediakan uang receh. Ada juga yang sengaja menukarkan uang receh demi untuk tukang parkir. Di pihak lain, ada juga pengendara yang tidak paham. Ia hanya lewat saja tanpa ada kata yang keluar dari mulut.
Klakson sebagai media komunikasi pun dibiarkan saja menganggur tanpa disentuh. Kendaraannya hanya lewat seolah-olah orang yang sudah membantu kelancaran di jalan tidak terlihat karena terhalang oleh tirai.
Pada kasus ini, tukang parkir mendapatkan pelajaran berharga. Ia harus sabar, tekun dan tetap yakin bahwa rezeki itu pasti menyapanya. Namun, rezeki yang datang itu harus dibarengi dengan mental yang kuat. Panas terik dan hujan lebat turun mengguyur tubuhnya, tidak boleh rapuh ketika membantu mengatur lalu lintas.
Kondisi itu harus memacu menjadi tukang parkir yang tahan banting. Tidak dianggap ada tukang parkir ketika ada pengendara lewat, biarkan saja. Melihat dengan sinis dan muka masam anggap saja canda di tengah sakit gigi. Semua itu bergantung cara menyikapinya.
Jika dianggap sakit, pasti sakit. Tapi, jika dianggap santai, jiwa tetap tegar. Anggap saja, itu angin lalu yang pergi tanpa pamit dan datang tanpa permisi. Pengendara memang beragam karakternya. Ada yang cuek. Dan ada yang hormat. Ada juga hormat sambil memberi uang dengan cara dilempar.
Receh demi receh ditunggu oleh tukang parkir. Namun, kendaraan demi kendaraan berlalu dan lewat. Ada yang lewat membuka kaca sambil menekan klakson sebagai tanda maaf. Ada juga yang lewat membuka kaca sambil memberi uang receh.
Dalam kondisi tertentu, kadang bukan hanya mengandalkan uang receh, namun tukang parkir perlu diakui keberadaannya. Pengakuan keberadaannya, tidak hanya semata-mata memberi uang receh, namun memberi senyum, lambaian tangan dan klakson merdu yang menyapa telinganya.
Mukanya kadang merah sambil mengernyitkan dahi untuk menahan panas. Jaketnya yang tebal sebagai penangkal. Dan jas hujannya terseok-seok angin lantaran tipis. Hal itu menjadi pengiring dan bukti kesungguhan mencari karunia melalui mental yang sedang digembleng di barak kehidupan nyata. Semoga bermanfaat.

