Konten dari Pengguna

Tukang Pel Sebagai Ruang Belajar

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
23 Oktober 2025 10:06 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tukang Pel Sebagai Ruang Belajar
Tukang Pel ibaratnya adalah guru kehidupan yang menghadirkan nilai untuk belajar. Belajar dari rendah hati, menjaga kebersihan dan menjaga kerapian ruang kehidupan.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Brilio. Net
zoom-in-whitePerbesar
Brilio. Net
Di mana ada kantor, di situlah ada karyawan. Karyawan yang kerja di kantor terdiri dari pimpinan perusahaan, yang disebut dengan direktur. Direktur dibantu oleh wakil direktur. Wakil direktur bidang ini dan itu, sesuai dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Setelah direktur dan wakil-wakilnya, ada General Manajer. Di bawah GM ada berbagai kepala produksi, yang dikendalikan olehnya. Di bawah kepala produksi ada kepala regu. Setelah itu para karyawan dan terakhir ada yang disebut tukang bersih-bersih, yang dikenal dengan office boy.
Office Boy, yang disingkat OB itu adalah petugas kebersihan dan sekaligus membantu kelancaran tugas-tugas yang ada di kantor. Setiap kali OB merapikan, membersihkan, dan membantu kelancaran kantor, setiap itu pula OB bergerak dan bergerak dengan dinamis.
Tugas yang paling menonjol dalam diri OB lebih sebagai tukang bersih-bersih. Yang dibersihkan mulai dari lantai kantor, membersihkan meja, mencuci piring, dan membersihkan kaca dan lain sebagainya.
Sebagai tukang bersih, OB datang lebih awal dan pulang paling akhir. Hampir tidak pernah ada, OB datang belakangan dan pulang lebih cepat, kecuali lain suatu hal yang bersifat darurat dan insidental.
Tugas keseharian, OB membersihkan yang tampak kotor, merapikan yang tidak rapi dan melayani para karyawan yang ada di kantor. Saat OB membersihkan lantai, kita teringat bahwa diri ini harus dibersihkan dari sikap menganggap remeh orang lain.
OB memang dipandang rendah, oleh sebagian besar masyarakat, sehingga wajar jika dipandang sebelah mata oleh orang lain. Namun, sejatinya OB mempunyai tugas yang sangat mulia. Ia rela membersihkan lantai, barang-barang dan kadang memilah sampah agar lebih mudah dibuang.
Tugas OB itu, terpatri betul dalam diri sebagian besar masyarakat bahwa itu adalah tugas rendahan. Tugas yang diemban oleh seseorang yang tidak memiliki strata pendidikan yang tinggi. Meski demikian adanya, namun agama tidak memilah dan memilih berbagai profesi yang bisa dibanggakan.
Buat apa punya kedudukan tinggi dan gelar mentereng, tapi sikap dan hatinya tidak mampu menjadi radar untuk melihat orang lain secara humanis. Agama melihat pada kemuliaan hatinya, bukan pada kedudukannya. Agama melihat pada ketaqwaannya, bukan pada tingginya pendidikan.
Takwa adalah beningnya hati. Beningnya hati, seperti beningnya lantai yang sudah dipel oleh OB. Setiap hari OB selalu membersihkan lantai dan meja, setiap itu pula pelajaran penting ditontonkan kepada segenap karyawan yang ada di kantor.
lantai bersih, meja rapi, piring bersih dan ruangan rapi adalah guru untuk semua karyawan. Lantai bersih, teringat hati kita harus bersih. Meja rapi, teringat kita pun harus rapi sikap empatinya. Piring bersih, teringat bekas pakai harus tanggung jawab. Dan ruang rapi, teringat aura manusia sejuk melihat ketertiban dan keindahan.
Sejatinya, tugas dan tanggung jawab OB itu adalah materi pelajaran yang dihadapkan kepada semua karyawan. Materi tentang: kebersihan hati, kerapian sikap dan menebarkan keindahan dan kenyamanan kepada penghuni ruangan.
Materi itu dalam kehidupan sehari-hari sangatlah berharga dan penting. Banyak orang yang tidak tersentuh dengan bersihnya lantai. Banyak orang yang tidak meraba keadaan dengan ruangan yang rapi.
Lantai bersih dan ruangan rapi pada dasarnya mengajarkan kepada orang yang melihat: sampai sejauh mana hati dan sikap ini rapi ketika berhadapan dengan komunitas sosial. Saat menginjak lantai yang masih basah, karena baru dipel oleh OB, saat itu pula sikap humanis harus segera muncul.
Bibir diusahakan harus segera bersapa dengan OB, dengan perkataan “ mohon maaf ya Bu atau Teh, lantainya jadi kotor lagi.” Perkataan itu pertanda hatinya hidup dan bersih. Namun, jika lantai masih basah dan kaki terus berjalan tanpa ada rasa empati kepada OB, saat itulah harus segera bertanya kepada hati ,”ada apa gerangan hati ini? Belum bisa menyapa dengan sikap humanis?.”
Pertanda harus sering belajar lewat berbagai fakta dan kejadian yang dikirim oleh Allah ke hadapan kita atau belajar kepada orang-orang yang secara status sosial lebih rendah dan lebih tidak beruntung kehidupannya.
Dari sanalah sentuhan pendidikan yang ada di lapangan, kadang bisa lebih cepat masuk ke dalam hati sanubari, jika dibandingkan belajar di kelas secara formal yang hanya menghasilkan hafalan dan berakhir dengan nilai yang statis.
Trending Now