Konten dari Pengguna

Umat Islam Merayakan Maulid Nabi Setiap Hari

Asep Abdurrohman
Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Tangerang
19 September 2025 10:04 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Umat Islam Merayakan Maulid Nabi Setiap Hari
Umat Islam merayakan maulid Nabi setap hari dalam bentuk menyebut dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.
Asep Abdurrohman
Tulisan dari Asep Abdurrohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
assalamkubar.com
zoom-in-whitePerbesar
assalamkubar.com
Rabiul Awwal akan segera berakhir (27 Rabiul Awwal 1447 H). Perayaan dan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW akan segera berakhir. Meski pun di berbagai masjid dan majelis taklim masih ada yang merayakan.
Merayakan maulid Nabi Muhammad SAW identik berada di bulan Rabiul Awwal. Karena di bulan di bulan itulah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Dari anak-anak sampai dewasa hafal bahwa merayakan maulid Nabi itu tanggal 12 Rabiul Awal. Atau paling tidak masih berada di bulan Rabiul Awwal.
Meskipun demikian, faktanya masih ada sebagian masyarakat yang merayakan di luar bulan Rabiul Awwal. Ini bukan karena tidak memperhatikan bulan komariah, namun karena kesempatan merayakannya lebih longgar di luar bulan Rabiul Awwal.
Bagi umat Islam, merayakan maulid Nabi Muhammad SAW tidak harus fokus pada bulan Rabiul Awwal. Momentum Rabiul Awwal jangan hanya disibukkan dengan merayakan di sana-sini.
Namun, Rabiul Awwal sejatinya sebagai momen untuk mengisi energy umat Islam akan kecintaan kepada Rasullah SAW. Momen Rabiul Awwal adalah momen untuk mengingat kembali, agar 11 bulan ke depan umat Islam merasakan maulid Nabi Muhammad SAW setiap hari.
Sosok teladan Nabi Muhammad SAW, tidak hanya muncul di bulan Rabiul Awwal, namun muncul juga di bulan-bulan selain Rabiul Awwal. Bahkan banyak diucapkan setiap hari oleh umat Islam.
Jika kita bertanya, tokoh besar siapa di dunia ini yang banyak disebut-sebut namanya setiap hari? Tentu jawabannya bukan siapa-siapa, tetapi nama tokoh teladan yang kehadirannya sudah dibicarakan 600 tahun sebelum kelahirannya.
Dia lah sosok teladan agung kita, Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan dalam setiap lintas generasi. Namanya sering disebut-sebut dalam salat. Di dalam salat wajib, misalnya, nama Nabi Muhammad SAW banyak disebut.
Salat subuh umat islam menyebut nama Muhammad SAW sebanyak 5 kali. Dzuhur 8 kali. Ashar 8 kali. Maghrib 8 kali. Dan isya 8 kali. Jumlah semuanya menjadi 37 kali dalam sehari semalam.
Jika dikalikan setahun, sebanyak 365 hari sudah 13.505 kali. Dikalikan lagi sesuai usia kita masing-masing, tentu hasilnya bisa ratusan ribu. Itu baru dalam salat wajib, belum penyebutan namanya dalam setiap salat sunnah, lebih dari jumlah yang disebutkan di atas.
Mencitai seseorang, sudah pasti kita akan mengikuti segala permintannya. Sudah pasti akan sering mengingat dan menyebut namanya. Namun, sering mengingat dan menyebut namanya saja dalam konteks agama, tidak cukup.
Ia harus mengikuti segala apa diminta oleh Allah dan Rasul-Nya. Permintaan Rasul-Nya hukumnya wajib bagi setiap umat Islam. Menurut Imam Al-Qurtubi, mufasir besar yang hidup pada abad ke-13, bahwa mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam masalah agama hukumnya wajib.
Namun, jika mengikuti Nabi Muhammad SAW dalam masalah muamalah, maka hukumnya sunnah. Bukankah umat Islam setiap hari, sudah berusaha mengikuti Nabi Muhammad SAW? Jawabannya, tentu iya.
Lalu, apa buktinya kita mengikuti Nabi Muhammad SAW? Lihat saja kita salat dalam sehari semalam lima kali selalu mengikuti tata cara yang sudah dijelaskan oleh Nabi. Kata Nabi Muhammad SAW, β€œSalatlah kalian semua sebagaimana aku salat.”
Maka, merayakan maulid Nabi itu tidak hanya di bulan Rabiul Awwal, namun setiap hari dalam bentuk menyebut dan meniru segala perilaku Nabi. Baik meniru dalam masalah agama maupun meniru Nabi dalam masalah muamalah.
Karena, substansi merayakan maulid Nabi itu terletak pada mau ikut atau tidak? Bukan merayakan atau tidak. Apalagi merayakannya dengan cara menutup jalan umum, rasanya itu kurang tepat, bahkan cenderung dipersalahkan.
Tapi, merayakan dalam bentuk mengikuti apa yang diperintah oleh Nabi, itulah hakikatnya merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari yang endingnya bernilai ibadah dan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Semoga bermanfaat.
Trending Now