Konten dari Pengguna

Stunting Bukan Hanya Urusan Balita

Asep Paturohman
Akademsi, praktisi, penulis buku Dan jurnal
9 Januari 2026 8:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Stunting Bukan Hanya Urusan Balita
Stunting sering dianggap sebagai masalah yang hanya dialami oleh balita dan ibu hamil, padahal sebenarnya merupakan isu lintas generasi.
Asep Paturohman
Tulisan dari Asep Paturohman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak stunting. Foto: Shutterstock
Selama ini, stunting sering dipersepsikan sebagai permasalahan balita dan ibu hamil semata. Padahal, stunting adalah masalah lintas generasi yang dampaknya menjalar hingga pendidikan, produktivitas, dan daya saing bangsa. Ketika isu ini hanya dibicarakan di posyandu dan ruang kebijakan teknis, kita lupa satu kelompok penting: remaja—generasi yang kelak menjadi orang tua dan penentu kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Stunting sering kali dipahami secara sempit sebagai masalah tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya. Cara pandang ini menjadikan stunting seolah hanya menjadi masalah yang berkaitan dengan balita, ibu hamil, dan tenaga kesehatan di puskesmas atau posyandu. Padahal, stunting adalah masalah yang jauh lebih kompleks dan memiliki dampak yang luas. Anak yang mengalami stunting tidak hanya berisiko tumbuh lebih pendek, tetapi juga menghadapi kemungkinan gangguan perkembangan otak yang signifikan.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami stunting memiliki kesulitan belajar yang lebih tinggi, yang pada gilirannya dapat mengurangi produktivitas mereka saat dewasa. Misalnya, sebuah studi di Indonesia menunjukkan bahwa anak-anak stunting memiliki skor IQ yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami stunting. Dampak ini tidak hanya berhenti pada tingkat individu, melainkan meluas ke tingkat sosial dan ekonomi.
Dalam jangka panjang, stunting berpotensi menghambat daya saing nasional dan menggerus peluang Indonesia untuk memanfaatkan momentum demografi secara optimal. Jika tidak ditangani dengan serius, stunting dapat menciptakan siklus kemiskinan yang sulit diputus, di mana generasi yang terlahir dari orang tua yang mengalami stunting berisiko tinggi untuk mengalami kondisi serupa.
Penting untuk melihat stunting sebagai persoalan lintas generasi. Salah satu kelompok yang sering luput dari perhatian adalah remaja. Remaja saat ini adalah calon orang tua di masa depan dan sekaligus calon penerus bangsa. Namun, pemahaman remaja tentang stunting dan gizi masih relatif terbatas.
Istilah stunting sering terdengar secara teknis dan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari mereka. Di sisi lain, edukasi gizi di sekolah maupun masyarakat masih didominasi pendekatan konvensional yang kurang menarik bagi generasi muda. Misalnya, banyak materi pendidikan yang disampaikan secara monoton dan tidak mengaitkan dengan pengalaman nyata yang mereka hadapi. Hal ini membuat remaja merasa terasing dari isu penting ini, sehingga mereka tidak menyadari betapa krusialnya pemahaman tentang gizi dan kesehatan bagi masa depan mereka.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan komunikasi yang lebih relevan dengan karakter generasi muda. Salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan adalah pemanfaatan media digital, termasuk gim edukasi. Melalui gim edukasi bertema gizi dan stunting, remaja dapat belajar dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Informasi tentang pentingnya asupan gizi, dampak stunting, serta perilaku hidup sehat tidak disampaikan sebagai nasihat satu arah, melainkan melalui pengalaman interaktif yang menarik. Misalnya, dalam sebuah gim, remaja dapat diajak untuk merancang pola makan sehat bagi karakter dalam permainan, sehingga mereka dapat memahami konsekuensi dari pilihan gizi yang mereka buat. Dengan cara ini, mereka akan lebih mudah mengingat dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat transformasi digital yang juga menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional. Pesan kebijakan kesehatan yang sering terasa abstrak dapat diterjemahkan menjadi pengalaman konkret yang mudah dipahami. Remaja tidak merasa sedang digurui, melainkan belajar melalui pengalaman yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Pengalaman penggunaan media edukasi berbasis gim menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini mampu meningkatkan pemahaman remaja tentang stunting. Pengetahuan yang sebelumnya terasa jauh menjadi lebih dekat dan relevan. Remaja mulai menyadari bahwa stunting bukan hanya urusan balita atau pemerintah, melainkan persoalan yang berhubungan langsung dengan masa depan mereka sendiri dan generasi berikutnya. Dengan demikian, mereka akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam upaya pencegahan stunting di komunitas mereka.
Tentu saja, pemanfaatan gim edukasi bukanlah solusi tunggal. Peran keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan tetap sangat penting dan tidak tergantikan. Keluarga harus menjadi lingkungan pertama yang memberikan edukasi gizi yang baik, sementara sekolah perlu mengintegrasikan materi-materi tentang gizi dan kesehatan dalam kurikulum mereka.
Ilustrasi anak stunting. Foto: As Arsyil/Shutterstock
Tenaga kesehatan di puskesmas juga perlu dilibatkan dalam memberikan informasi dan edukasi yang tepat kepada remaja. Kebijakan publik yang konsisten, pendanaan yang memadai, serta dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan stunting. Misalnya, program pelatihan bagi guru dan tenaga kesehatan untuk menyampaikan informasi gizi yang menarik dan relevan dapat menjadi langkah awal yang baik.
Jika Indonesia ingin benar-benar memetik manfaat dari bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, strategi pencegahan stunting perlu dipermasalahkan secara serius. Fokus pada ibu hamil dan balita harus berjalan seiring dengan pendidikan remaja. Literasi gizi sejak usia remaja—termasuk melalui pendekatan digital yang ramah generasi muda—layak menjadi bagian integral dari kebijakan kesehatan dan pendidikan nasional. Dengan demikian, remaja akan lebih siap untuk menjadi orang tua yang bertanggung jawab dan dapat memberikan nutrisi yang baik bagi anak-anak mereka di masa depan.
Stunting bukan hanya urusan balita. Ia adalah persoalan lintas generasi yang menentukan berhasil atau gagalnya Indonesia dalam memanfaatkan momentum sejarahnya. Bisa jadi, keberhasilan penurunan stunting di masa depan tidak hanya ditentukan oleh program-program pemerintah semata, tetapi juga oleh kesadaran dan pengetahuan generasi muda saat ini.
Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk berkolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung, agar Indonesia dapat mencapai masa depan yang lebih cerah dan sejahtera. Dengan komitmen dan kerja sama yang kuat, kita dapat memastikan bahwa potensi bonus demografi Indonesia tidak hanya menjadi sebuah harapan, tetapi juga menjadi kenyataan yang membawa kemajuan bagi seluruh bangsa.
Trending Now