Konten dari Pengguna
Mimpi yang Terkubur oleh Realita Ekonomi
25 Mei 2025 13:03 WIB
ยท
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Mimpi yang Terkubur oleh Realita Ekonomi
Sebuah refleksi tajam tentang bagaimana sistem ekonomi tidak hanya membentuk pilihan hidup, tapi juga secara perlahan mengubur mimpi banyak orang. Asih Soleha
Tulisan dari Asih Soleha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dibalik semangat untuk meraih cita-cita, ada satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan yaitu sistem ekonomi. Sistem ekonomi tidak hanya menjadi panggung dimana mimpi dibangun, tetapi juga menjadi tembok besar yang kerap meruntuhkannya. Ekonomi sering kali menjadi pembunuh mimpi yang tak terlihat di dunia yang katanya penuh peluang.
Ketika Mimpi Harus Tunduk pada Realita

Seorang anak kecil yang dulunya bermimpi menjadi astronot, pelukis, penulis, atau ilmuwan. Namun dengan bertambahnya usia, mimpi-mimpi tersebut mulai disortir oleh satu pertanyaan klasik: "Bisa menghasilkan uang nggak?". Mimpi yang tidak sejalan dengan nilai jual di pasar kerja perlahan dikubur. Mimpi yang bertahan bukan yang paling diinginkan, tetapi yang paling mungkin.
Mimpi Mahal, Pendidikan Mahal
Banyak mimpi yang butuh pendidikan tinggi, namun akses kesana tidak merata. Biaya kuliah yang mahal dan kian naik, buku-buku mahal, dan tuntutan hidup membuat banyak anak muda harus berpikir ulang. Tidak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan. Di titik ini mimpi bukan lagi tentang kebahagian, tapi tentang bertahan hidup.
Pilihan Karier yang Dikurung Oleh Kebutuhan dan Kesenjangan yang Mencekik
Ekonomi memaksa banyak orang untuk menjauh dari apa yang mereka impikan, tak jarang seseorang terjebak dalam pekerjaannya yang tak ia cintai, hanya karena harus membayar cicilan, sewa, atau menghidupi keluarga. Hanya segelintir orang yang bisa membeli mimpi mereka bahkan mimpi orang lain, sementara sebagian besar harus mengubur mimpinya. Ketimpangan ini bukan sekedar statistik tapi nyata dan menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap peluang.
Apa Harus Menyerah?
Tidak. Kita perlu sadar bahwa mimpi, untuk bisa bertahan, perlu strategi. Perlu perlawanan terhadap sistem yang tidak selalu adil. Perlu solidaritas, perubahan kebijakan, dan ruang-ruang yang mendukung mimpi bukan berdasarkan isi dompet, tapi niat dan kemampuan.

