Konten dari Pengguna
Mengapa Patah Hati Terasa Seperti Luka Fisik?
20 November 2025 8:00 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Patah Hati Terasa Seperti Luka Fisik?
Patah hati ternyata diproses otak seperti nyeri fisik. Penolakan, pengkhianatan, atau ditinggalkan memicu aktivitas saraf yang membuat sakitnya terasa nyata. #userstoryAstiani Seni Fauziah
Tulisan dari Astiani Seni Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Patah hati, ditinggalkan, atau dikhianati pasangan sering digambarkan sebagai āsakitā; bukan hanya secara emosional, melainkan juga seperti nyeri fisik di dada. Banyak orang merasakan sesak, mual, gemetar, sulit tidur, dan kehilangan tenaga setelah ditinggalkan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting dalam biopsikologi: Mengapa sakit hati terasa seperti luka fisik?
Penelitian neurosains menunjukkan bahwa otak manusia memproses rasa sakit sosial dengan cara yang sama seperti memproses nyeri fisik. Rasa ditolak, diabaikan, atau kehilangan seseorang ternyata diproses oleh jaringan saraf yang sama dengan nyeri fisik.
Social pain atau rasa sakit sosial adalah istilah neurosains yang menggambarkan nyeri emosional akibat penolakan, pengkhianatan, atau hilangnya hubungan sosial yang penting, seperti putus cinta atau ditinggalkan pasangan. Penelitian menunjukkan bahwa otak memproses rasa sakit emosional ini melalui jaringan saraf yang sama dengan nyeri fisik, sehingga patah hati benar-benar terasa menyakitkan secara biologis.
Riset-riset fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging) menunjukkan bahwa dua area utama otakāyaitu anterior cingulate cortex (ACC) dan anterior insulaāaktif ketika seseorang mengalami penolakan sosial maupun rasa sakit fisik.
ACC berperan dalam mendeteksi dan menilai tingkat ancaman terhadap kesejahteraan diri, termasuk ancaman sosial seperti ditolak atau dikhianati. Sementara itu, insula berfungsi mengenali sensasi tubuh dan menyalurkan perasaan sakit menjadi kesadaran emosional yang nyata.
Penelitian juga memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana otak memproses sakit sosial, seperti penolakan, perpisahan, atau kehilangan, yang sering terjadi dalam konteks hubungan romantis. Dengan menggunakan teknik fMRI dan analisis pola Multivariate Pattern Analysis (MVPA), studi ini mengungkap bahwa rasa sakit akibat pengucilan sosial (social exclusion) dan perpisahan emosional (social separation) memicu aktivitas di jaringan otak yang sama dengan yang terlibat dalam rasa sakit fisik.
Daerah seperti dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan insulaāyang selama ini dikenal berperan dalam persepsi nyeri fisikājuga aktif saat individu menyaksikan atau mengalami penderitaan sosial. Selain itu, area posterior Superior Temporal Sulcus (pSTS), medial Prefrontal Cortex (mPFC), precuneus, thalamus, dan hippocampus turut menunjukkan aktivitas yang menggambarkan empati terhadap ānyeri sosialā.
Temuan ini menunjukkan bahwa āpatah hatiā atau rasa ditinggalkan bukan sekadar pengalaman emosional, melainkan juga memiliki dasar biologis yang nyata. Otak menafsirkan pengkhianatan atau hilangnya hubungan sosial sebagai ancaman terhadap ikatan dan nilai diri, sehingga memunculkan respons saraf yang serupa dengan sinyal nyeri fisik.
Aktivasi area otak seperti dACC dan insula dalam pengalaman social pain menunjukkan bahwa rasa sakit emosional bekerja melalui mekanisme biologis yang sama dengan nyeri fisik. Ketika seseorang mengalami penolakan, pengkhianatan, atau perpisahan, sistem saraf menafsirkan hal tersebut sebagai ancaman terhadap keterikatan sosial yang esensial bagi kelangsungan hidup. Aktivasi jaringan nyeri ini memicu respons stres kronis, peningkatan aktivitas amigdala, serta gangguan pada regulasi dopamin dan serotonin yang berperan penting dalam suasana hati dan motivasi.
Akibatnya, individu yang mengalami āsakit hatiā sering menunjukkan gejala gangguan perilaku, seperti sulit tidur, kehilangan motivasi belajar atau bekerja, menurunnya minat sosial, hingga pencarian kompensasi melalui adiksi media sosial atau perilaku impulsif. Otakāyang terus mengingat rasa sakit sosialāmempertahankan aktivasi sistem nyeri, sehingga membuat pemulihan emosional berlangsung lebih lambat.
Dengan demikian, rasa sakit akibat kehilangan atau dikhianati pasangan bukan hanya perasaan emosional. Social pain diolah oleh sistem otak yang sama dengan nyeri fisik, melibatkan ACC, insula, dan jaringan empati sosial.
Penelitian menunjukkan bahwa social exclusion dan social separation mengaktifkan pola aktivitas otak yang kompleks, menjelaskan mengapa patah hati benar-benar terasa menyakitkan, sehingga memengaruhi perilaku, tidur, motivasi, dan kesehatan mental secara keseluruhan.

