Konten dari Pengguna

Saat Malam Terasa Sesak: Seni Mengelola Overthinking

Aubrey Naurah Aditya
Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
12 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Saat Malam Terasa Sesak: Seni Mengelola Overthinking
Artikel ini membahas bagaimana cara mengelola overthinking di malam hari.
Aubrey Naurah Aditya
Tulisan dari Aubrey Naurah Aditya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang merenung di malam hari. Foto: pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang perempuan yang sedang merenung di malam hari. Foto: pexels.com
Katanya, malam adalah waktu yang tepat untuk menenangkan pikiran. Tapi mungkin bagimu, malam adalah waktu yang menyesakkan. Pikiran-pikiran itu datang tanpa diminta, seperti tamu yang tak diundang, memenuhi ruang-ruang kepala tanpa tahu kapan harus pergi. Pikiran akan masa depan yang terasa semakin kabur, kalimat yang seharusnya tak pernah terucap, dan tentang hal-hal kecil yang berubah menjadi luka hanya karena terlalu lama singgah di kepala.
Overthinking, itulah kata yang paling tepat untuk menggambarkan situasi tersebut. Melalui The Book of Overthinking karya Gwendoline Smith, artikel ini menjadi ruangmu untuk belajar menaklukkan overthinking yang selama ini diam-diam menguasai malam.

Opini vs Fakta

Overthinking sering kali muncul karena opini buruk yang terlalu dibesar besarkan lalu mempercayainya seolah itu adalah sebuah fakta. Misalnya, ketika kamu merasa dirimu membosankan. Itu adalah opini tanpa bukti nyata yang selama ini tertanam dan kamu yakini. Smith mengajakmu untuk belajar mengubah pemikiran yang didasari opini menjadi pemikiran yang didasari oleh fakta, kebenaran, dan apa yang nyata dan bermanfaat untukmu.
Ketika kamu mendapatkan undangan reuni sekolah, misalnya. Kamu menjadi overthinking, "Duh, aku malu banget ketemu mereka. Mereka pasti udah sukses, sementara aku belum jadi apa-apa. Bagaimana kalau mereka memandangku rendah?" itu adalah sebuah opini yang bisa membuatmu tidak tidur semalaman. Sekarang kita coba mengubah mindset tersebut menjadi, "Aku yakin, mereka tidak akan memandangku rendah karena setiap orang punya prosesnya masing-masing." terlihat perbedaannya bukan? Mengubah pemikiran yang didasari oleh opini menjadi didasari oleh fakta dapat membuatmu lebih rileks.

Peta Keputusan

Kamu bisa menggunakan cara ini untuk mengelola rasa khawatir dari overthinkingmu dengan mengajukan beberapa pertanyaan bercabang.

Berpikir yang Bermanfaat

Setelah banyak berbicara tentang pemikiran yang didasarkan pada fakta, kenyataan, dan kebenaran. Berpikir yang bermanfaat juga sangat penting dalam meredakan overthinkingmu. Ini bukan soal benar atau salah, atau bagaimana seharusnya kamu berpikir, tapi lebih ke pertanyaan sederhana, yaitu apakah pikiran tersebut membantu kamu, atau justru membuatmu semakin terjebak dalam kekhawatiran?
Ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, atau seseorang yang mengatakan hal buruk tentangmu, tidak perlu khawatir. Tanyakan pada dirimu apakah hal itu benar-benar layak untuk kamu pikirkan. Ingatlah untuk selalu memikirkan, "Sebenarnya, pikiran ini ada gunanya nggak sih buat aku?"
Malam yang menyesakkan mungkin tidak selalu berubah menjadi tenang, tapi setidaknya kini kamu belajar bahwa overthinking tidak akan menghalangimu. Pikiranmu adalah milikmu, dan kamu selalu punya kuasa untuk mengarahkannya.
Trending Now