Konten dari Pengguna

Dual Circulation Economy Tiongkok: Mengubah Pembangunan Menjadi Pengaruh Global

Aubry Fairuza Akifa Prabowo
Mahasiswa S1 Hubungan Internasional di Universitas Sebelas Maret
5 November 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Dual Circulation Economy Tiongkok: Mengubah Pembangunan Menjadi Pengaruh Global
Dual circulation economy Tiongkok: Mengubah pembangunan menjadi pengaruh global. Tiongkok berupaya membangun citra sebagai kekuatan global yang menebarkan “it is kindness to countries”. #userstory
Aubry Fairuza Akifa Prabowo
Tulisan dari Aubry Fairuza Akifa Prabowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Wirestock on Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Wirestock on Freepik
Menjelang akhir dekade 2010-an, ketika laju ekonomi Tiongkok mencapai puncaknya, Beijing mulai menawarkan model pemerintahan alternatif yang menempatkan pembangunan ekonomi sebagai prioritas utama, menggantikan penekanan pada perlindungan hak individu dan prinsip tata kelola ala Barat.
Keberhasilan luar biasa di bawah kepemimpinan Partai Komunis dijadikan bukti bahwa sistem otoriter dapat menghasilkan pertumbuhan cepat dan stabil. Narasi tersebut kemudian meluas, bukan hanya untuk menegaskan legitimasi politik Tiongkok, melainkan juga menjadi inspirasi bagi negara-negara lain yang ingin mencapai kemakmuran tanpa meniru pola demokrasi Barat.
Ilustrasi Stasiun Beijing. Foto: Getty Images
Upaya memperluas gagasan ini semakin nyata ketika Beijing mengaitkan ekspansi ekonominya dengan diplomasi luar negeri, terutama di negara-negara berkembang di belahan selatan. Strategi itu terlihat sebagai bagian dari Dual Circulation Economy, yang memadukan kekuatan pasar domestik dengan jejaring ekonomi global. Pertumbuhan di dalam negeri dijadikan modal untuk memperluas pengaruh lewat bantuan, investasi, dan kerja sama pembangunan (Yau, 2024).
Gagasan tersebut berakar dari kebijakan reformasi yang diperkenalkan Deng Xiaoping pada 1985. Sejak saat itu, Tiongkok menegaskan bahwa keterbukaan ekonomi tidak harus diikuti perubahan politik. Deng bahkan menyebut reformasi itu sebagai “eksperimen” yang dapat menjadi contoh bagi negara berkembang.
Pemikiran ini kemudian dilanjutkan Xi Jinping pada 2017, yang menekankan bahwa keberhasilan ekonomi Tiongkok mencerminkan keunggulan sistem politiknya. Pandangan tersebut kini banyak diikuti negara-negara lain yang mulai mengadopsi pola tata kelola serupa, memperluas pengaruh global Beijing dan memunculkan pergeseran ideologis di dunia berkembang. Fenomena ini dinilai akan memengaruhi arah pembangunan global serta keseimbangan kekuasaan ekonomi pada abad ke-21.
Ilustrasi made in China. Foto: Maxx-Studio/Shutterstock
Kebijakan Dual Circulation Economy dijalankan melalui dua jalur besar yang saling melengkapi: sirkulasi internal dan eksternal. Di tingkat domestik, Tiongkok memperkuat fondasi ekonomi melalui peningkatan permintaan dalam negeri, pengembangan inovasi teknologi, dan transformasi industri. Program Made in China 2025 menjadi tonggak penting dalam memperkuat sektor manufaktur dan meningkatkan nilai tambah produk nasional.
Selain itu, dorongan terhadap ekonomi digital, riset energi hijau, dan pengembangan kendaraan listrik memperlihatkan orientasi baru yang menekankan keberlanjutan serta efisiensi sumber daya. Langkah-langkah tersebut memperkokoh kemandirian ekonomi sekaligus menciptakan kapasitas surplus yang dapat dialirkan ke pasar luar negeri.
Di sisi lain, jalur eksternal berperan sebagai sarana ekspansi ekonomi dan diplomasi pembangunan. Melalui Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok menyalurkan modal, teknologi, dan tenaga ahli ke berbagai proyek infrastruktur di Asia, Afrika, dan Eropa. Dukungan dari Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) turut memperkuat pembiayaan proyek strategis di negara berkembang.
Diskusi Belt and Road Initiative dengan para akademisi China di JW Marriot Mega Kuningan Jaksel, Senin (24/6). Foto: Agaton/kumparan
Selain itu, kerja sama Digital Silk Road dan Green Silk Road memperluas pengaruh Tiongkok di sektor teknologi digital, jaringan komunikasi, dan energi bersih. Dengan strategi ini, Beijing tidak hanya memperluas pasar dan memperkuat rantai pasok global, tetapi juga membantu negara mitra meningkatkan konektivitas serta kapasitas pembangunan mereka.
Melalui pola ganda ini, Tiongkok tampak memiliki dua tujuan utama. Pertama, memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui inovasi, produktivitas, dan daya saing industri. Kedua, memanfaatkan hasil pertumbuhan tersebut untuk memperluas jejaring kerja sama dan pengaruh global, terutama di negara-negara berkembang. Sebagian surplus ekonominya disalurkan untuk proyek pembangunan yang memberikan manfaat bagi kedua pihak, sekaligus memperkuat posisi Tiongkok di panggung internasional.
Strategi ini menunjukkan bahwa Beijing tidak semata-mata mengejar keuntungan nasional. Menurut penulis, di balik langkah ekonomi yang terukur, Tiongkok berupaya membangun citra sebagai kekuatan global yang menebarkan“it is kindness to countries” melalui kerja sama saling menguntungkan. Pendekatan tersebut memperlihatkan perpaduan antara rasionalitas ekonomi dan upaya membangun legitimasi moral sebagai aktor penting dalam pembangunan global abad ke-21.
Trending Now