Konten dari Pengguna
Bukan Sekadar Emping: Melinjo, Harta Karun Farmasi dari Alam?
22 Juli 2025 11:04 WIB
·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Bukan Sekadar Emping: Melinjo, Harta Karun Farmasi dari Alam?
Artikel ini membahas potensi tanaman melinjo (Gnetum gnemon L.) dalam bidang farmasi. Selain dikenal sebagai bahan utama emping, melinjo juga mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, saponin, taninAufa Zalfa Valesty
Tulisan dari Aufa Zalfa Valesty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Emping? Siapa sih yang ngga pernah makan emping? Camilan ini memang sudah tidak asing lagi bagi lidah masyarakat Indonesia. Camilan gurih yang terbuat dari biji melinjo ini, sering kali menjadi pelengkap makanan kita ataupun sekadar makanan ringan saat bersantai.
Tapi tahu ngga sih, camilan yang biasa kita temui di warung pinggir jalan sampai restoran ini ternyata menyimpan harta karun untuk dunia farmasi. Apa benar? Yuk kita bahas.
Emping merupakan makanan ringan yang sering kali menjadi pendamping makanan berat seperti pada soto, bubur ayam, atau bahkan dimakan langsung. Camilan ini dikenal berasal dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Emping memiliki tekstur yang krispi dengan cita rasa gurih sedikit pahit. Makanan ringan yang menjadi kesukaan masyarakat Indonesia ini terbuat dari biji melinjo tua (Apriani et al., 2019).
Emping dibuat dengan proses tradisional, yaitu dengan cara mengupas biji melinjo, kemudian disangrai, digiling, lalu dijemur dan digoreng hingga renyah. Proses pembuatannya yang sederhana dan tidak membutuhkan biaya tinggi dapat dijadikan peluang besar untuk meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat. Oleh karena itu, banyak masyarakat sekarang yang mulai menanam tanaman melinjo yang merupakan bahan utama penghasil emping.
Akan tetapi, dibalik ketenaran dan rasanya yang disukai banyak orang, camilan emping diketahui dapat menyebabkan asam urat jika dikonsumsi berlebihan. Emping melinjo mengandung basa purin yang relatif tinggi. Kandungan purin yang tinggi pada bahan pangan dapat menyebabkan tingginya kadar asam urat dalam darah (Wahab et al., 2022).
Meskipun emping melinjo diketahui menyebabkan asam urat, tetapi tanaman melinjo sendiri sebenarnya memiliki manfaat yang luar biasa dalam dunia farmasi. Selama ini, pengolahan melinjo yang sering diketahui masyarakat hanyalah sekadar dibuat sebagai emping, berbagai camilan tradisional atau salah satu bahan dalam sayur asam.
Namun, beberapa penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tanaman melinjo mengandung berbagai senyawa aktif yang berguna bagi dunia farmasi. Tanaman melinjo dikenal memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan, yaitu dapat menjaga daya tahan tubuh, menghambat penuaan dini, melancarkan urin, mengobati hipertensi, dan mencegah anemia (Lestari et al., 2013).
Gnetum gnemon L. atau yang lebih dikenal dengan melinjo merupakan tanaman yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tanaman ini dulunya hanya dibiarkan tumbuh begitu saja di pinggir jalan ataupun di berbagai pekarangan rumah tanpa adanya pemeliharaan lebih lanjut.
Melinjo diketahui tumbuh berasal dari berbagai daerah di Asia. Menurut Listyati (2019), melinjo (Gnetum gnemon Linn) berasal dari Asia tropis, dan tersebar dari Assam (India) sampai ke Fiji (Pasifik). Akan tetapi, banyak masyarakat yang menganggap melinjo berasal dari Indonesia dikarenakan keberadaannya yang dekat dengan masyarakat kita.
Melinjo merupakan salah satu tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae), bijinya tidak terselimuti oleh daging tetapi terselimuti oleh kulit. Pohon melinjo punya batang yang kokoh sehingga batangnya sering dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Selain itu, melinjo adalah tanaman berumah dua yang mana bentuk dan letak individu jantan dan betinanya berbeda. Melinjo memiliki daun berbentuk oval dengan tepi yang rata dan permukaan yang mengkilap, serta memiliki serabut halus berwarna putih pada bagian dalamnya (Rahayu et al., 2021).
Oleh karena itu, dengan adanya karakteristik morfologi tanaman melinjo yang punya banyak manfaat, bidang farmasi memanfaatkan potensi tersebut sebagai bahan obat alami. Bagian-bagian tubuh tanaman melinjo memiliki berbagai kandungan senyawa kimia aktif.
Mulai dari daun melinjo, bagian ini dikenal memberikan banyak manfaat karena mengandung senyawa metabolit sekunder yang kompleks. Berdasarkan penelitian uji skrining fitokimia yang dilakukan oleh Andasari (2020), menunjukkan bahwa daun melinjo memiliki senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan tanin.
Hal tersebut terlihat pada pengujian senyawa alkaloid yang menunjukkan terbentuknya endapan jingga hingga merah coklat. Sementara pada uji senyawa flavonoid, daun melinjo menunjukkan adanya perubahan warna menjadi merah, kuning, hingga jingga. Kemudian munculnya buih pada uji senyawa saponin, serta terjadinya perubahan warna hijau kehitaman pada uji senyawa tanin.
Keberadaan senyawa-senyawa aktif tersebut menjadikan daun melinjo memiliki potensi besar dalam bidang kesehatan dan pengobatan tradisional. Seperti pada kandungan flavonoidnya, senyawa ini termasuk ke dalam golongan fenolik karena memiliki sifat sebagai antioksidatif yang berperan dalam mencegah kerusakan sel oleh radikal bebas yang reaktif dan sebagai salah satu sumber antioksidan yang berasal dari alam (Redha, 2010).
Flavonoid memiliki fungsi sebagai antioksidan dengan cara memberikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya dalam mengkelat logam. Flavonoid dapat ditemukan dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Cuppett et al., 1954). Flavonoid dapat secara langsung menangkap radikal bebas melalui sumbangan atom.
Selanjutnya saponin, senyawa ini dikenal dapat meningkatkan sistem imun serta memiliki efek antimikroba. Senyawa saponin diketahui memiliki sifat antibakteri dan sifat lyobipolar, sehingga senyawa ini mampu berinteraksi dengan membran sel dan membantu mengurangi tegangan permukaan (Taroreh et al., 2016). Mekanisme kerja saponin dengan cara mengganggu kestabilan membran sel bakteri dan menyebabkan sel bakteri mengalami lisis (Cheeke, 2004).
Di sisi lain, senyawa tanin memiliki peran dalam menghambat aktivitas mikroorganisme dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Dalam ekstrak air melinjo terkandung senyawa steroid, alkaloid, saponin, dan tanin yang bersifat antibiotik (Kining, 2022).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tarigan et al., (2019) juga menunjukkan bahwa metabolit sekunder yang terkandung pada daun melinjo, seperti tanin, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid berpotensi sebagai antibiotik.
Senyawa golongan triterpenoid menunjukkan aktivitas farmakologi yang signifikan, seperti antiviral, antibakteri, antiinflamasi, sebagai inhibisi terhadap sintesis kolesterol, dan berpotensi sebagai agen antikanker (Balafif et al., 2013). Menurut Widiyati (2006), senyawa triterpenoid bekerja sebagai antifungus, antiparasit, antivirus, antibakteri, dan insektisida. Daun melinjo juga mengandung protein, vitamin C, karbohidrat, potasium, zat besi, magnesium, dan fosfor (Lestari et al., 2013).
Selanjutnya biji melinjo, bagian tumbuhan ini diketahui memiliki kandungan senyawa aktif seperti polifenol, saponin, alkaloid, stilbenoid. Senyawa polifenol, seperti flavonoid dan tanin berfungsi sebagai antioksidan yang mampu menetralisir radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat merusak sel dan jaringan, sehingga berkontribusi pada proses penuaan dan berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung. Maka dengan begitu, kandungan polifenol yang tinggi pada biji melinjo dapat membantu melindungi tubuh dari kerusakan oksidatif.
Selain polifenol, biji melinjo juga mengandung stilbenoid, contohnya seperti gnemonoside dan resveratrol. Resveratrol dikenal sebagai senyawa yang memiliki efek antiinflamasi, antikanker, dan memberikan perlindungan terhadap penyakit kardiovaskular. Resveratrol bekerja dengan menghambat peradangan dan membantu memperbaiki fungsi pembuluh darah, sehingga dapat menurunkan risiko penyakit jantung.
Menurut Ulfa (2018), mengatakan bahwa resveratrol dapat menurunkan trigliserida, menurunkan risiko terkenanya penyakit kardiovaskular, memodulasi metabolisme lipid, dan sebagai penghambat sintesis eikosanoid dan agregasi platelat. Senyawa resveratrol juga menunjukkan potensi dalam menghambat pertumbuhan sel kanker dan meningkatkan sistem imun tubuh.
Selain itu, bagian kulit melinjo juga diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti saponin, alkaloid, terpenoid, fenolik, flavonoid dan tanin. Menurut hasil penelitian Humaira (2023), ekstrak etanol dari kulit melinjo hijau dan merah memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Efektivitas tersebut dapat terlihat dari terbentuknya zona bening di sekitar area pertumbuhan bakteri. Dari penelitian tersebut, dapat dikatakan bahwa kulit melinjo memiliki aktivitas antibakteri.
Dengan kandungan senyawa aktif yang melimpah, bagian-bagian tanaman melinjo tersebut dapat diolah menjadi suatu produk atau sediaan farmasi. Seperti pada daun melinjo yang mengandung senyawa flavonoid dan tanin, senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri, sehingga dapat diformulasikan menjadi sediaan gel atau krim untuk mengatasi infeksi kulit dan penyembuhan luka.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sayuti (2015), ekstrak daun melinjo 80% memiliki sifat antibakteri, hal tersebut dapat menjadi tolak ukur konsentrasi yang akan digunakan sebagai komponen utama dalam pembuatan gel dengan mengadaptasi prosedur formulasi dari penelitian-penelitian sebelumnya.
Akan tetapi, menurut hasil penelitian Tarigan (2019), mengindikasikan bahwa diameter zona bening yang dihasilkan esktrak daun melinjo dalam melawan bakteri Staphylococcus aureus masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan kontrol positif, sehingga efektivitasnya sebagai agen senyawa antibakteri dari tanaman masih terbatas.
Berdasarkan kedua penelitian tersebut, dapat dikatakan daun melinjo memiliki potensi sebagai sumber antibakteri, tetapi perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui konsentrasi yang efektif dalam pengembangan formulasi.
Kemudian, kulit melinjo yang terbukti memiliki aktivitas antibakteri dapat dijadikan sebagai bahan sediaan farmasi topikal. Contoh sediaannya bisa berupa sabun herbal antibakteri, salep antiseptik herbal untuk luka ringan atau jerawat, dan krim antiinflamasi untuk meredakan iritasi.
Selain itu, ekstrak kulit melinjo juga mulai dikembangkan menjadi produk kosmetik, seperti blush on atau bedak wajah, yang dapat membantu melindungi kulit dari kerusakan akibat radikal bebas sekaligus memberikan efek perawatan alami yang ramah lingkungan dan aman bagi kulit sensitif (Sagita et al., 2025).
Daftar Pustaka
Andasari, S. D., Hermanto, A. A., & Wahyuningsih, A. (2020). Perbandingan Hasil Skrining Fitokimia Daun Melinjo (Gnetum gnemon L.) Dengan Metode Maserasi Dan Sokhletasi. In Jurnal Ilmu Farmasi (Vol. 11, Issue 2).
Apriani, F., Heryanti, E., & Aprida, D. (2019). EKSPLORASI PROSPEK USAHA MIKRO RUMAHAN PANGANAN EMPING MELINJO DI KABUPATEN BENGKULU UTARA (Studi Kasus di Desa Selubuk Kecamatan Air Napal). PARETO : Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Publik, 2(Vol. 2 No. 1 (2019): PARETO). https://doi.org/https://doi.org/10.32663/pareto.v2i1.921
Balafif, R. A. R., Andayani, Y., & Gunawan, E. R. (2013). ANALISIS SENYAWA TRITERPENOID DARI HASIL FRAKSINASI EKSTRAK AIR BUAH BUNCIS (Phaseolus vulgaris Linn). In Chem. Prog (Vol. 6, Issue 2).
Cheeke, R. P. (2004). Saponins: Surprising Benefits of Desert Plants. Linus Pailing Institute.
Cuppett, S. , M., Schrepf, & C. Hall III. (1954). Natural Antioxidant – Are They Reality. . In F. Shahidi (Ed.), Natural Antioxidants, Chemistry, Health Effect and Applications (p. 12). AOCS Press.
Humaira, D. N., Zakiah, N., & Aulianshah, V. (2023). PERBANDINGAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT MELINJO HIJAU DAN MERAH (Gnetum gnemon L) TERHADAP Staphylococcus aureus. JURNAL ILMIAH FARMASI SIMPLISIA, 3(1). https://doi.org/10.30867/jifs.v3i1.353
Kining, E., Firdiani, D., & Asma, S. (2022). AKTIVITAS ANTIBAKTERI DAN ANTIBIOFILM EKSTRAK AIR DAUN MELINJO TERHADAP BAKTERI Pseudomonas aeruginosa ANTIBACTERIAL AND ANTIBIOFILM ACTIVITY OF MELINJO LEAF WATER EXTRACT AGAINST Pseudomonas aeruginosa BACTERIA. Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, 7(1).
Lestari, S., Malaka, R., & Garantjang, S. (2013). Pengawetan Telur Dengan Perendaman Ekstrak Daun Melinjo (Gnetum gnemon Linn). Jurnal Sains & Teknologi, 13, 184–189. https://www.researchgate.net/publication/331534050
Listyati, D. (2019). POTENSI PENGEMBANGAN MELINJO POTENTIAL FOR DEVELOPMENT OF MELINJO. SIRINOV, 7(1), 23–36. http://health.kompas.com/2010
Pietta, P.-G. (2000). Flavonoids as Antioxidants. Journal of Natural Products, 63(7), 1035–1042.
Rahayu, E., Rahmawati, L., & Biologi, P. (2021). Teknik Perbanyakan Tanaman Melinjo (Gnetum gnemon) Dengan Cara Okulasi Sambung. KENANGA Journal of Biological Sciences and Applied Biology, 1(1). https://doi.org/https://doi.org/10.22373/kenanga.v1i1.799
Redha, A. (2010). Flavonoid: Struktur, Sifat Antioksidatif Dan Peranannya Dalam Sistem Biologis ABDI REDHA. Jurnal Berlian, 9, 196–202.
Sagita, N. D., Sani, A. R., Supriadi, D., Sutoro, M., Zaelani, D., & Pratama, R. (2025). Pengembangan Formula Granul Effervescent Ekstrak Kulit Melinjo (Gnetum gnemon) Sebagai Antioksidan Alami. Majalah Farmasetika, 10(3), 184–194. https://doi.org/10.24198/mfarmasetika.v10i2.62308
Sayuti, N. A. (2015). Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Gel Ekstrak Daun Ketepeng Cina (Cassia alata L.). Jurnal Kefarmasian Indonesia, 5(2). https://doi.org/10.22435/jki.v5i2.4401.74-82
Tarigan, I. L., Muadifah, A., Amini, H. W., & Astutik, T. K. (2019). Studi aktivitas ekstrak etanol dan sediaan gel daun melinjo (Gnetum gnemon L) sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus Aureus. CHEMPUBLISH JOURNAL, 4(2), 89–100. https://doi.org/10.22437/chp.v4i2.7631
Taroreh, T. N. C., Rumampuk, J. F., & Veronica Siagian, K. (2016). UJI DAYA HAMBAT EKSTRAK DAUN MELINJO (Gnetum gnemon L.) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Streptococcus mutans. PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT, 5(3).
Ulfa, P. M., Alioes, Y., & Putri, B. O. (2018). Pengaruh Pemberian Ekstrak Biji Melinjo (Gnetum gnemon) Terhadap Kadar Trigliserida pada Tikus dengan Diet Tinggi Lemak. Jurnal Kesehatan Andalas, 7(2). http://jurnal.fk.unand.ac.id
Wahab, I., Darmawati, Rahmayanti, & Hadijah, S. (2022). Article+122. JEUMPA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.
Widiyati, E. (2006). garuda299484. Jurnal Gradien, 2, 116–122.
Aufa Zalfa Valesty, mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

