Konten dari Pengguna

Binahong Bangkit: Herbal Lokal Siap Masuk Panggung Dunia

Aulia Fadhilatul Ilmi
Mahasiswa aktif semester 2 prodi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
19 Juli 2025 10:04 WIB
ยท
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Binahong Bangkit: Herbal Lokal Siap Masuk Panggung Dunia
Dari tradisi ke inovasi! Gel binahong hadir sebagai terobosan pengobatan alami: praktis, efektif, dan jadi simbol kemajuan fitofarmaka Indonesia.
Aulia Fadhilatul Ilmi
Tulisan dari Aulia Fadhilatul Ilmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi tanaman herbal kering (sumber : https://www.pexels.com/id-id/foto/mangkok-keramik-putih-dan-coklat-1793035/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tanaman herbal kering (sumber : https://www.pexels.com/id-id/foto/mangkok-keramik-putih-dan-coklat-1793035/)
Infeksi kulit yang diakibatkan bakteri Staphylococcus aureus merupakan sebuah masalah kesehatan yang umum terjadi pada banyak orang. Bakteri ini sering kali menyebabkan berbagai gangguan kulit seperti jerawat, bisul, dan infeksi luka. (Damayanti, 2022). Pengobatan infeksi kulit biasanya menggunakan antibiotik, namun resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis menjadi tantangan besar dalam terapi modern. Oleh karena itu, eksplorasi bahan alami sebagai alternatif pengobatan menjadi penting. Salah satu tanaman yang memiliki potensi antibakteri adalah daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), yang dikenal memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan fenol yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri (Mamangkey, 2022).
1. Potensi Daun Binahong sebagai Antibakteri Alami
Daun binahong, atau Anredera cordifolia, mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi tanaman ini sudah lama menjadi andalan dalam pengobatan tradisional Indonesia. Tumbuhan merambat dengan daun hijau berbentuk hati ini tidak hanya cantik sebagai tanaman hias, tapi juga memiliki segudang manfaat untuk kesehatan, terutama untuk kulit. Hanya dengan daun kecil ini, kita bisa melawan bakteri jahat seperti Staphylococcus aureus yang sering membuat kulit bermasalah, mulai dari jerawat hingga luka infeksi (Lestari, 2022).
Daun binahong telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia untuk berbagai penyakit, termasuk infeksi kulit, luka, dan peradangan. Senyawa aktif seperti flavonoid dan saponin dalam daun binahong memiliki sifat antibakteri dengan mekanisme menghambat sintesis dinding sel bakteri atau mengganggu metabolisme mikroorganisme. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang sering menyebabkan infeksi kulit karena kemampuannya membentuk biofilm dan resistensi terhadap beberapa antibiotik seperti methicillin (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus atau MRSA) (Denyer, 2016:250). Oleh karena itu, pengembangan sediaan topikal berbasis bahan alami seperti ekstrak daun binahong menjadi relevan untuk menghadapi tantangan resistensi bakteri.
Di balik kesederhanaannya, daun binahong menyimpan senyawa-senyawa hebat seperti flavonoid, saponin, alkaloid, dan fenol (Hanifah, 2022). Senyawa-senyawa ini memiliki kemampuan untuk membunuh mikroorganisme. Flavonoid dapat merusak dinding sel bakteri, sehingga Staphylococcus aureus, bakteri penyebab infeksi kulit, dapat dihancurkan (Shamsudin, N, 2022). Saponin dapat membantu menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mengganggu metabolismenya (Anggraeni, 2023). Alkaloid memiliki mekanisme kerja membunuh bakteri dengan mengganggu permeabilitas membran sel (Yan, 2021). Fenol juga dikenal dapat membunuh bakteri dengan cara mengendapkan protein dan menginaktivasi enzim, sehingga metabolisme bakteri terganggu dan sel mati (Sabbineni, 2016). Oleh karena itu, daun binahong sering dipakai secara tradisional untuk mengobati luka atau infeksi kulit.
2. Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Daun Binahong
Orang - orang pada zaman dahulu menggunakan bahan alam dengan cara menumbuknya terlebih dahulu, lalu menggunakannya langsung ke kulit. Tetapi di era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ini, kita dapat meng-ekstrak zat aktif pada tanaman herbal dan membuatnya dalam bentuk sediaan gel topikal. Gel merupakan salah satu sediaan berbentuk semisolid yang banyak di pakai dalam produk farmasi karena mudah meresap, memberikan sensasi dingin pada kulit, dan juga mudah untuk dibersihkan (Mulyani, 2015).
Membuat gel dari daun binahong ternyata tidak boleh sembarangan. Para ahli biasanya mengambil ekstrak daun binahong dengan cara merendam daun kering dalam etanol, lalu memekatkannya hingga menjadi ekstrak kental yang kaya senyawa aktif. Ekstrak ini kemudian dicampur dengan bahan-bahan seperti Carbopol, yang dapat membuat tekstur gel kenyal dan lembut, serta propilen glikol untuk menjaga kelembapan (Ginting, 2024).
Karena formulasi yang akan digunakan untuk ekstrak daun binahong ini adalah sediaan gel topikal, ada beberapa parameter penting yang harus di perhatikan dalam formulasi, seperti kebenaran organoleptis, pH yang sesuai kulit ( sekitar 4,5 โ€“ 6,5), konsistensi, viskositas gel, daya sebar, daya lekat, homogenitas yang baik, daya serap atau kemampuan permeasi, uji stabilitas, dan uji kadar atau assay (Rusli, 2021). Semua parameter tersebut sangat penting untuk memastikan bahwa sediaan gel topikal bekerja secara optimal, aman, dan nyaman bagi pengguna.
3. Keunggulan dan Tantangan Pengembangan Gel Daun Binahong
Gel ekstrak binahong ini bisa menjadi sebuah inovasi sediaan topikal berbahan dasar alam, dengan kandungan metabolit sekunder yang memiliki sifat antibakteri. Mengingat saat ini sudah banyak terjadi kasus pada beberapa bakteri patogen yang mulai memiliki resistensi terhadap antibiotik. Resistensi antibiotik didefinisikan sebagai ketahanan suatu bakteri terhadap antibiotik atau agen antimikroba yang sebelumnya mampu mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri tersebut. (Denyer, 2016:249โ€“250). Fenomena resistensi antibiotik ini merupakan permasalahan serius dalam dunia kesehatan global, mengingat efektivitas terapi konvensional yang semakin menurun.
Oleh karena itu, Penggunaan bahan alam seperti daun binahong dinilai memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah ekstrak tanaman yang bisa digunakan sebagai antimikroba, potensi efek samping yang lebih rendah serta kontribusinya terhadap pendekatan pengobatan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Selain itu, tanaman binahong mudah diperoleh di wilayah Indonesia dan dapat dibudidayakan secara mandiri (Sasebohe, 2023).
Namun demikian, mengingat kemampuannya yang belum bisa sebanding dengan antibiotik sintetis seperti klindamisin, formulasi lanjutan sediaan gel ekstrak binahong perlu terus diperhatikan dan ditingkatkan, agar dapat memaksimalkan kemampuan antibakterinya. Selain itu, pengujian klinik dan praklinik juga harus dilakukan untuk melihat efek samping yang ditimbulkan, keamanan, serta keefektifannya jika digunakan dalam jangka waktu yang lama. Meskipun masih memiliki banyak keterbatasan dan diperlukannya banyak perkembangan, gel binahong tetap memiliki peluang besar sebagai obat yang bersumber dari bahan alami, terutama untuk mengatasi permasalahan kulit. Jika penelitian terus dilakukan dengan konsisten dan serius, gel ini bisa memiliki kesempatan untuk nantinya menjadi produk lokal yang memiliki daya saing di pasar internasional.
Dengan demikian, daun binahong menjadi bukti bahwa kekayaan alam Indonesia ini sesungguhnya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan, salah satunya dari tumbuhan yang beragam ternyata bisa kita buat menjadi obat modern yang praktis dan berkhasiat. Inovasi dari bahan alami seperti ini juga dapat menjadi cara yang bagus untuk mengurangi ketergantungan kita terhadap obat-obat kimia, sekaligus membantu Indonesia supaya lebih mandiri dan mengurangi bahan ekspor dari luar. Untuk mewujudkan itu semua, tentu perlu adanya kerja sama antara para peneliti, dukungan pemerintah, dan juga peran industri supaya pemanfaatan bahan alami ini benar-benar dapat memberikan dampak positif bagi dunia kesehatan dan juga bagi masyarakat.
Referensi:
Anggraeni Putri, P., Chatri, M., & Advinda, L. (n.d.). Characteristics of Saponin Secondary Metabolite Compounds in Plants Karakteristik Saponin Senyawa Metabolit Sekunder pada Tumbuhan (Vol. 8, Issue 2).
Damayanti, S. P., Mariani, R., & Nuari, D. A. (2022). Studi Literatur: Aktivitas Antibakteri Daun Binahong (Anredera cordifolia) terhadap Staphylococcus aureus. Jurnal Farmasi Sains dan Terapan (Journal of Pharmacy Science and Practice), 9(1), 42-48.
Denyer, S.P., & Gilmore, B.F. (2016). Hugo and Russellโ€™s Pharmaceutical Microbiology (9th ed.). Wiley-Blackwell. 249-250.
Ginting, E., Nadia, S., Karima, N., Ginting, R. W. R. B., & Ginting, O. S. B. (2024). Formulasi dan uji antioksidan ekstrak etanol daun binahong (Anredera cordifolia) sebagai gel pelembap. Indonesian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research, 07(02), 001โ€“013.
Hanifah H, Anjani TP. 2022. Skrining Fitokimia Daun Binahong (Anredera cordifolia) Dari Kabupaten Semarang Yang Diekstrak Menggunakan Pelarut Air. Journal of Aquatropica Asia 7(2): 99-103
Lestari, T. P., Putri, A. R., Kristianingsih, I., & Sari, F. (2022). Uji stabilitas dan uji hedonik masker gel peel-off ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia (ten.) Steenis) dengan varian konsentrasi polivinil alkohol (PVA) sebagai filming agent. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan, 8(2), 291-301.
Mamangkey, J., Pardosi, L., & Wahyuningtyas, R. S. (2022). Aktivitas mikrobiologis endofit dari ekstrak daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis). Jurnal Pro-Life, 9(1), 377-386.
Mulyani, E., & Mohammad Rizki Fadhil Pratama, dan. (2020). Formulasi dan Evaluasi Gel Topikal Antibakteri Fraksi Aktif Akar Kuning (Arcangelisia flava Merr.). Jurnal Pharmascience, 07(01), 116โ€“124.
Sabbineni, J. (2016). Phenol-An effective antibacterial Agent (Vol. 3, Issue 2).
Sasebohe, V. Y., Prakasita, V. C., & Aditiyarini, D. (2023). Aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun binahong terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Sciscitatio, 4(1), 1-14.
Shamsudin, N. F., Ahmed, Q. U., Mahmood, S., Shah, S. A. A., Khatib, A., Mukhtar, S., Alsharif, M. A., Parveen, H., & Zakaria, Z. A. (2022). Antibacterial Effects of Flavonoids and Their Structure-Activity Relationship Study: A Comparative Interpretation. In Molecules (Vol. 27, Issue 4). MDPI.
Rusli, D., Amelia, K., & Setia Sari, S. G. (2021). Formulasi dan evaluasi sediaan gel ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dengan variasi NaCMC sebagai basis. Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi, VI(1), 7โ€“12.
Yan, Y., Li, X., Zhang, C., Lv, L., Gao, B., & Li, M. (2021). antibiotics Review Research Progress on Antibacterial Activities and Mechanisms of Natural Alkaloids: A Review. https://doi.org/10.3390/antibiotics
Aulia Fadhilatul Ilmi, Mahasiswa S1 Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Trending Now