Konten dari Pengguna

Belajar Organisasi dari Kartel Narkoba: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Aulia Firmansyah
HR Practitioner & Konsultan, pengalaman bekerja di Industri Manufaktur, Memberikan praktisi sharing di institusi pendidikan. Lulusan S1 Hukum UNPAD dan Lulusan S2 Hukum Bisnis UI. Berpengalaman di Litigasi PPHI dan Memiliki Sertifikasi BNSP MSDM
20 Agustus 2024 10:52 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar Organisasi dari Kartel Narkoba: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Apakah kita bisa belajar sesuatu dari cara kartel narkoba menjalankan organisasinya? Meski terdengar kontroversial, tidak ada yang membenarkan tindakan kriminal dan kekerasan yang dilakukan oleh karte
Aulia Firmansyah
Tulisan dari Aulia Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ilustrasi terorganisirnya kartel narkoba, dari AI Image Generator, ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi terorganisirnya kartel narkoba, dari AI Image Generator, ChatGPT
Apakah kita bisa belajar sesuatu dari cara kartel narkoba menjalankan organisasinya? Meski terdengar kontroversial, tidak ada yang membenarkan tindakan kriminal dan kekerasan yang dilakukan oleh kartel narkoba. Namun, di balik semua tindakan ilegal mereka, ada beberapa prinsip manajemen yang dapat menjadi wawasan berharga bagi perusahaan dalam membangun organisasi yang efisien dan solid. Dengan mengesampingkan unsur-unsur negatif seperti kekerasan dan intimidasi, kita bisa melihat bagaimana mereka membangun kontrol yang efektif, menjaga loyalitas, dan menciptakan budaya organisasi yang kuat.
Kartel narkoba di Meksiko, seperti Sinaloa atau Jalisco New Generation Cartel (CJNG), dikenal memiliki struktur yang hierarkis dan tersentralisasi. Mereka mampu mengendalikan operasi besar dengan banyak anggota yang tersebar di berbagai negara, menunjukkan bahwa mereka memiliki sistem pengelolaan yang sangat efisien. Dalam konteks manajemen sumber daya manusia (Human Capital), beberapa aspek dari cara mereka menjalankan organisasi dapat diaplikasikan secara etis dalam perusahaan.
Pentingnya Kode Etik dan Kepemimpinan Berintegritas
Setiap organisasi membutuhkan kode etik yang kuat sebagai panduan bagi seluruh karyawannya. Mahaguru manajemen sumber daya manusia, Dave Ulrich, pernah menyatakan, "Ethics is the foundation upon which great companies are built. Without it, trust erodes, and organizations crumble."
Kode etik adalah landasan yang memastikan bahwa setiap keputusan dan tindakan yang diambil selaras dengan nilai-nilai dan tujuan perusahaan.
Dalam kartel, meskipun mereka beroperasi di luar hukum, mereka memiliki aturan dan kode internal yang ketat untuk mengatur anggotanya. Ini menunjukkan bahwa aturan yang jelas dan dipatuhi oleh semua anggota sangat penting untuk menjaga keutuhan organisasi. Dalam perusahaan, kode etik yang baik juga dapat mencegah tindakan yang merugikan perusahaan, seperti korupsi dan pelanggaran kepatuhan, serta membangun kepercayaan baik di dalam maupun di luar organisasi.
Rekrutmen: Loyalitas dan Kecocokan Budaya
Rekrutmen yang tepat bukan hanya soal menemukan orang dengan keterampilan yang diperlukan, tetapi juga mencari mereka yang memiliki loyalitas dan visi yang sejalan dengan perusahaan. Seperti yang dikatakan oleh Peter Drucker,
"Culture eats strategy for breakfast."
Budaya yang kuat hanya bisa dibangun oleh individu-individu yang benar-benar percaya pada misi dan nilai-nilai perusahaan. Kartel narkoba sering kali merekrut berdasarkan ikatan pribadi dan kepercayaan, memastikan bahwa setiap anggota yang baru direkrut benar-benar setia kepada organisasi.
Dalam konteks perusahaan, penting untuk merekrut karyawan yang tidak hanya kompeten tetapi juga memiliki nilai-nilai yang selaras dengan perusahaan. Proses seleksi yang ketat dan wawancara mendalam dapat membantu menemukan kandidat yang benar-benar cocok, memastikan bahwa mereka akan bekerja dengan dedikasi tinggi dan tidak mudah tergoda oleh tawaran dari luar.
Sistem Reward dan Punishment yang Seimbang
Salah satu alasan kartel narkoba bisa mempertahankan loyalitas anggotanya adalah melalui sistem reward dan punishment yang jelas. Mereka yang setia dan berhasil melaksanakan tugas dengan baik diberi imbalan besar, sementara mereka yang berkhianat atau gagal menjalankan tugas menghadapi hukuman berat. Tentu saja, dalam perusahaan, pendekatan ini harus diterapkan secara positif dan legal.
β€œEmployees who feel appreciated will always do more than what is expected,” ungkap Ken Blanchard, seorang ahli dalam manajemen. Penghargaan dalam bentuk bonus, kenaikan gaji, atau pengakuan publik bisa menjadi motivasi yang kuat bagi karyawan untuk bekerja lebih keras dan lebih setia. Di sisi lain, sistem punishment yang tepat, seperti evaluasi kinerja yang adil atau konsekuensi atas ketidakpatuhan, dapat menjaga disiplin dan standar kerja tetap tinggi.
Pendekatan Personal dalam Manajemen
Selain itu, kartel narkoba sangat memahami pentingnya hubungan personal dalam menjaga kohesi organisasi. Mereka menciptakan ikatan yang kuat antara anggota melalui dukungan sosial, perlindungan, dan bahkan bantuan finansial untuk keluarga mereka. Dalam perusahaan, pendekatan personal yang positif dapat diterapkan untuk menciptakan iklim kerja yang inklusif dan mendukung.
Douglas McGregor, salah satu tokoh terkenal dalam teori manajemen, menyatakan bahwa,
"The human side of enterprise is essential to its success."
Membangun hubungan personal yang baik antara manajer dan karyawan dapat meningkatkan loyalitas dan produktivitas. Program mentoring, perhatian terhadap kesejahteraan karyawan, dan komunikasi yang terbuka adalah beberapa cara untuk menerapkan pendekatan personal dalam manajemen organisasi.
Kesimpulan
Meskipun kartel narkoba adalah contoh ekstrem dari organisasi yang beroperasi dengan cara yang salah, beberapa prinsip manajemen mereka, jika diterapkan dengan etika yang benar, dapat memberikan wawasan berharga dalam mengelola perusahaan. Kode etik yang kuat, rekrutmen berbasis nilai, sistem reward dan punishment yang adil, serta pendekatan personal dalam manajemen adalah aspek-aspek penting yang dapat diadopsi oleh perusahaan untuk membangun organisasi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, pemimpin perusahaan dapat belajar bahwa karyawan yang merasa dihargai, didukung, dan dihormati akan memberikan loyalitas dan kinerja terbaik mereka.
Trending Now