Konten dari Pengguna

Berhenti Menumpuk, Mulailah Bertumbuh

Aulia Firmansyah
HR Practitioner & Konsultan, pengalaman bekerja di Industri Manufaktur, Memberikan praktisi sharing di institusi pendidikan. Lulusan S1 Hukum UNPAD dan Lulusan S2 Hukum Bisnis UI. Berpengalaman di Litigasi PPHI dan Memiliki Sertifikasi BNSP MSDM
31 Oktober 2025 6:00 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Berhenti Menumpuk, Mulailah Bertumbuh
Berhenti menumpuk, mulailah bertumbuh: Menghadapi luka bukan berarti kita gagal mengelola diri; justru di sanalah proses transformasi terjadi. #userstory
Aulia Firmansyah
Tulisan dari Aulia Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi orang pusing. Foto: 9nong/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang pusing. Foto: 9nong/shutterstock
Beberapa tahun lalu, publik Jepang diguncang oleh kisah nyata Matsuri Takahashi—perempuan muda berusia 24 tahun, lulusan Universitas Tokyo, yang bekerja di perusahaan iklan raksasa Dentsu. Ia dikenal perfeksionis, selalu siap menerima pekerjaan tambahan, dan nyaris tak pernah menolak permintaan atasan. Di media sosialnya, ia sempat menulis, ā€œTubuhku hancur, tapi aku tidak boleh menyerah.ā€ Tak lama kemudian, ia ditemukan meninggal karena bunuh diri akibat karoshi—kematian karena terlalu banyak bekerja. Kasusnya menjadi simbol tragis dari generasi yang menimbun beban tak kasat mata: tanggung jawab, ekspektasi, dan ilusi kontrol yang tak pernah selesai.
Fenomena seperti ini membawa kita pada istilah yang makin sering dibicarakan dalam psikologi kontemporer: mental hoarding. Jika physical hoarding adalah menimbun barang karena takut kehilangan, mental hoarding adalah menimbun tanggung jawab, kesibukan, dan peran untuk menolak rasa tidak berdaya. Seseorang yang mengalami ini cenderung menumpuk pekerjaan atau aktivitas bukan semata karena produktif, melainkan karena setiap kesibukan memberi mereka ilusi bahwa hidupnya tetap terkendali.
Seperti yang dijelaskan oleh psikolog Randy O. Frost dan Gail Steketee, perilaku menimbun bukan soal ā€œbarangā€ itu sendiri, melainkan soal makna emosional yang diberikan seseorang pada tindakan memiliki, memegang, atau mengendalikan sesuatu. Saat objeknya bukan lagi benda—tetapi ā€œbeban kerjaā€ atau ā€œtanggung jawab,ā€ā€”mekanismenya tetap sama: setiap tambahan tugas menjadi cara untuk menenangkan ketakutan terdalam akan kehilangan makna atau kendali atas hidup.
Ilustrasi perempuan sedang bekerja. Foto: Shutterstock
Dalam konteks sosial modern, bentuk mental hoarding ini justru sering dirayakan. Kita hidup di era di mana busy dianggap sinonim dengan worthy. Pekerja yang lembur dianggap berdedikasi; manajer yang tak pernah cuti disebut pemimpin sejati. Padahal, di balik citra itu, banyak orang yang secara perlahan kehilangan keseimbangan batin.
Studi dari Japan Institute for Labour Policy and Training (2020) mencatat ratusan kasus resmi overwork yang diakui pemerintah setiap tahun—dan ribuan lainnya tersembunyi di balik data stres kronis, depresi, dan kelelahan psikis. Fenomena serupa juga muncul di berbagai negara lain di mana kecanduan kerja atau workaholism menjadi bentuk baru dari pelarian diri—bukan dari tanggung jawab, melainkan dari rasa tidak aman.
Ketika seseorang terus-menerus ā€œmenimbunā€ pekerjaan atau tanggung jawab, sesungguhnya ia sedang menolak satu hal: perasaan powerless. Ia mungkin takut kehilangan relevansi, takut dianggap tak berguna, atau bahkan takut menghadapi dirinya sendiri tanpa semua atribut kesibukan itu.
Ilustrasi stres. Foto: Shutterstock
Dalam jangka panjang, ketegangan ini bisa menimbulkan cognitive dissonance—konflik antara apa yang diyakini (ingin hidup seimbang) dan apa yang dilakukan (terus menambah beban). Tubuh mulai memberi sinyal: sulit tidur, mudah marah, atau kehilangan makna meski terlihat ā€œsibuk dan sukses.ā€ Namun, banyak yang tetap melanjutkan karena kesibukan memberi rasa aman semu, layaknya rumah penuh barang yang menenangkan di luar tapi pengap di dalam.
Refleksi pentingnya: mungkin kita tidak sedang bekerja terlalu keras karena cinta pada pekerjaan, tapi karena takut berhenti berarti kehilangan diri. Maka, sebelum mental hoarding menjelma menjadi kelelahan eksistensial, ada baiknya kita berhenti sejenak dan bertanya dengan jujur: Apa sebenarnya yang sedang saya pertahankan? Bila jawabannya adalah rasa kontrol, justru di sanalah kita perlu belajar melepas. Sebab, kemampuan melepaskan dengan sadar—bukan menimbun dengan takut—adalah bentuk tertinggi dari kendali itu sendiri.

Menyembuhkan dari Dalam: Melepaskan, Menata Ulang, dan Menguat Melalui Luka

Langkah pertama untuk keluar dari jebakan mental hoarding bukanlah berhenti bekerja, melainkan berhenti menumpuk tanpa arah. Mulailah dari refleksi kecil: ā€œApa makna kerja bagi saya?ā€ Pertanyaan sederhana ini bisa mengubah arah hidup. Banyak dari kita kehilangan makna karena visi pribadi dan misi hidup sudah tertimbun oleh target, rapat, dan ekspektasi orang lain. Maka, menata ulang visi dan misi diri adalah langkah penyembuhan pertama—mengembalikan kerja sebagai sarana aktualisasi, bukan pembuktian.
Ilustrasi self healing. Foto: U__Photo/Shutterstock
Langkah berikutnya adalah melatih kesadaran prioritas. Gunakan prinsip klasik Important vs. Urgent Matrix (Eisenhower Grid):
Ini tidak sekadar manajemen waktu, tapi manajemen kesadaran. Ia mengajarkan kita untuk memilih dengan nilai, bukan menumpuk karena takut.
Namun, ketika kita mulai mengubah arah, tantangan sering datang—dari atasan yang salah paham, rekan kerja yang menilai perubahan kita, atau bawahan yang belum terbiasa. Di sinilah pentingnya komunikasi jernih, ketegasan nilai, dan keberanian untuk konsisten. Profesional sejati tahu bahwa menjaga keseimbangan bukan berarti menolak tantangan, melainkan menentukan arah di tengah tekanan. Karena profesionalitas juga punya garis batas—bukan agar kita berhenti, melainkan tidak kehilangan arah.
Di garis batas itulah, luka sering muncul. Namun, luka tidak selalu berarti kelemahan. Seperti yang dijelaskan Dr. Lisa Feldman Barrett, ahli neuroscience dari Northeastern University, rasa sakit, baik fisik maupun emosional, adalah sinyal biologis bahwa otak sedang belajar beradaptasi. Luka memaksa sistem kita menata ulang, membangun koneksi baru, dan memperkuat daya tahan mental. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai post-traumatic growth: kemampuan manusia untuk tumbuh karena tekanan, bukan meski tekanan.
Ilustrasi psikolog. Foto: Shutterstock
Hal yang senada ditegaskan oleh David Goggins, mantan Navy SEAL yang dikenal dengan ketahanan ekstremnya: ā€œYou have to build calluses on your mind, just like on your hands.ā€ Luka, kata Goggins, adalah bagian dari proses membangun ā€œkulit tebal batinā€ā€”tidak untuk menolak rasa sakit, tetapi membentuknya sampai menjadi kekuatan.
Karena itu, menghadapi luka bukan berarti kita gagal mengelola diri; justru di sanalah proses transformasi terjadi. Mental hoarding membuat kita menolak rasa sakit dengan menumpuk kontrol, sementara pertumbuhan sejati mengajarkan kita untuk menatap rasa sakit dan belajar darinya. Di titik itulah keseimbangan tercipta; bukan karena semua terkendali, melainkan karena tahu kapan harus menggenggam, kapan harus melepaskan, dan kapan harus berani menahan rasa perih demi menjadi utuh kembali.
ā€œLuka adalah ruang belajar paling jujur. Ia menyingkirkan ilusi kontrol dan mengembalikan kita pada keberanian untuk bertumbuh.ā€
Trending Now