Konten dari Pengguna
Ironi Nobel Perdamaian di Tengah Deru Perang
24 Oktober 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ironi Nobel Perdamaian di Tengah Deru Perang
Ironi Nobel: saat moral global tunduk pada kepentingan: Jika penghargaan setinggi Nobel diberikan tanpa memperhitungkan dampak nyata penderitaan manusia, ia kehilangan fondasi ilmiahnya. #userstoryAulia Firmansyah
Tulisan dari Aulia Firmansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak ada ironi yang lebih menyakitkan bagi nurani global selain ketika Nobel Perdamaian—simbol tertinggi bagi kemanusiaan—justru terasa kehilangan arah di saat dunia paling membutuhkannya. Tahun ini menjadi titik kulminasi dari paradoks itu. Di tengah tragedi kemanusiaan di Gaza—yang oleh banyak akademisi, lembaga hak asasi, dan bahkan mayoritas negara di PBB telah dikategorikan sebagai agresi—Komite Nobel justru memberikan penghargaan kepada sosok yang diam seribu bahasa terhadap kekerasan itu, tetapi vokal menyerang pemerintahan Venezuela.
Keputusan ini bukan sekadar kontroversial; ia membuka luka lama tentang bagaimana politik global menyusup ke ruang moral yang seharusnya netral. Nobel Perdamaian kini tampak seperti barometer diplomasi Barat—diukur bukan dari keberanian menentang ketidakadilan, melainkan dari kesesuaian pandangan terhadap geopolitik dominan. Ironinya semakin dalam ketika nama Donald Trump—presiden yang secara terbuka mendukung suplai senjata ke Israel sepanjang agresi ke Gaza—ikut masuk dalam wacana nominasi.
Di sisi lain, dunia justru menyaksikan tokoh-tokoh yang benar-benar berada di garis depan perjuangan kemanusiaan—seperti Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina—diabaikan. Padahal, ia memiliki otoritas, integritas, dan konsistensi moral, berbicara lantang ketika banyak tokoh dunia memilih diam. Ia bukan aktivis musiman; ia berdiri di atas data, hukum internasional, dan keberanian moral yang jarang dimiliki diplomat modern.
Bagi banyak kalangan, keputusan ini menimbulkan pertanyaan yang lebih dalam: Apakah Nobel Perdamaian masih menjadi simbol harapan universal, atau sudah berubah menjadi alat legitimasi moral bagi kepentingan geopolitik tertentu?
Ketika dunia sepakat menuntut penghentian perang, hanya Amerika Serikat yang menolak resolusi PBB yang menyerukan gencatan senjata. Maka tak heran jika penghargaan yang seharusnya memuliakan keberanian moral kini terasa seperti gema kosong di aula diplomasi global—indah di kata, tapi hampa di makna.
Ketika Ilmu, Moral, dan Kepentingan Bertabrakan dalam Nama Kemanusiaan
Ironi seperti ini tidak boleh dinormalisasi. Nobel, apa pun kategorinya, lahir dari semangat ilmiah yang bisa diuji, diterapkan, dan dirasakan secara nyata oleh manusia.
Tiga pilar utamanya—keilmiahan, keterterapan, dan kemanusiaan—seharusnya menjadi kompas yang menjaga integritas penghargaan ini tetap objektif. Dalam sains, setiap teori diuji oleh data; dalam teknologi, setiap ide diuji oleh penerapan; dan dalam kemanusiaan, setiap keputusan diuji oleh nyawa manusia yang terpengaruh olehnya.
Jika penghargaan setinggi Nobel diberikan tanpa memperhitungkan dampak nyata terhadap penderitaan manusia, ia kehilangan fondasi ilmiahnya. Karena kemanusiaan bukan abstraksi moral yang bisa dinegosiasikan—ia adalah fakta empiris: jumlah korban, derita yang terdokumentasi, dan pelanggaran yang terukur oleh instrumen hukum internasional.
Dengan mengabaikan itu, dunia seolah menyetujui bahwa penderitaan bisa dinegosiasikan sesuai kepentingan politik. Padahal, inti dari perdamaian sejati bukan terletak pada siapa yang menang debat moral, melainkan pada siapa yang berani menghentikan penderitaan manusia secara nyata. Jika Nobel tidak lagi berpihak pada kebenaran yang terukur, ia bukan lagi simbol harapan—melainkan refleksi betapa mudahnya dunia menghapus batas antara kemuliaan dan kepentingan.

