Konten dari Pengguna

Cerita Mahasiswi Rantau yang Terjebak di Tengah Konflik Digital

AULIA MELINDA AYU
MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER
4 Juni 2025 7:24 WIB
ยท
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cerita Mahasiswi Rantau yang Terjebak di Tengah Konflik Digital
Pengalaman mahasiswi rantau Kalimantan Barat di Jember saat demo ojol. Dilema antara simpati pada driver dan frustrasi terdampar di kos karena transportasi lumpuh.
AULIA MELINDA AYU
Tulisan dari AULIA MELINDA AYU tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pagi itu, 20 Mei 2025, aku terbangun siap untuk pergi ke kampus karena ada perfom speech di matakuliah pertama. Sebagai mahasiswi rantau dari Kalimantan Barat yang kuliah di Universitas Jember, rutinitas harianku sangat bergantung pada ojek online. Tapi ketika membuka aplikasi Grab dan Gojek, yang muncul hanya layar kosong tanpa driver tersedia.
Awalnya kukira ini masalah teknis biasa. Namun setelah membuka media sosial, barulah aku tahu kalau para driver sedang demo besar-besaran. Jalanan macet, aplikasi dimatikan, dan aku terdampar di kos, bingung bagaimana cara aku pergi ke kampus.
"Ketika demo ojol melumpuhkan mobilitas mahasiswa rantau di Jember. (Ilustrasi by AI Generated)"
zoom-in-whitePerbesar
"Ketika demo ojol melumpuhkan mobilitas mahasiswa rantau di Jember. (Ilustrasi by AI Generated)"
Sebagai anak Kalimantan Barat yang merantau ke Jawa Timur, aku paham betul rasanya diperlakukan tidak adil. Makanya, secara emosional, aku simpati dengan perjuangan para driver ojol yang menuntut keadilan dari perusahaan platform. Mereka berjuang untuk mendapat tarif yang layak dan perlakuan yang lebih manusiawi.
Tapi di sisi lain, sebagai mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan, ketergantunganku pada ojol bukan sekadar pilihan ini kebutuhan. Uang bulanan dari orangtua di Kalimantan harus aku atur sedemikian rupa untuk biaya hidup di Jember. Beli motor? Masih mimpi.
Jadi ketika demo ini berlangsung, aku merasakan dilema yang kompleks. Aku mendukung perjuangan mereka, tapi juga frustrasi karena prefom speech ku yang sudah dipersiapkan berhari-hari menjadi tidak maksimal.
Selama ini, ojek online menjadi jembatan yang menghubungkan aku dengan berbagai aktivitas di Jember. Dari kos ke kampus, dari kampus ke mal, dari mal ke kos dan lainnya. Aplikasi itu seperti lifeline bagi mahasiswa rantau seperti aku.
Tapi demo kemarin membuatku sadar bahwa di balik kemudahan teknologi ini, ada masalah sosial yang kompleks. Para driver yang biasanya ramah mengantarku ke berbagai tempat, ternyata berjuang melawan sistem yang mereka anggap tidak adil. Sementara aku, sebagai pengguna, tanpa sadar menjadi bagian dari ekosistem yang mereka kritik.
Ironis memang. Teknologi yang katanya mendekatkan, malah memperlihatkan jarak antara kepentingan kita yang berbeda.
Selama demo kemarin, aku punya waktu untuk merefleksi situasi ini. Sebagai mahasiswa yang menempuh matakuliah Pancasila yang sering belajar tentang konflik dan keadilan sosial, aku menyadari bahwa yang terjadi di Jember ini adalah cerminan dari persoalan global: bagaimana ekonomi digital mengubah cara kerja dan menciptakan dinamika kekuasaan yang baru.
Para driver ojol, dalam banyak hal, seperti kami mahasiswa rantau sama-sama berusaha mencari penghidupan yang layak di tanah orang. Bedanya, mereka bergantung pada perusahaan platform, sementara kami bergantung pada sistem pendidikan.
Demo kemarin membuatku sadar bahwa sebagai pengguna teknologi, aku punya tanggung jawab untuk lebih aware terhadap dampak sosial dari setiap klik yang kulakukan. Setiap orderan ojol yang kupesan, secara tidak langsung berkontribusi pada sistem yang sedang diperdebatkan ini.
Aku berharap konflik ini bisa diselesaikan dengan cara yang adil untuk semua pihak. Para driver ojol berhak mendapat perlakuan yang layak dari perusahaan platform, tapi kami sebagai pengguna juga berhak mendapat akses transportasi yang stabil.
Mungkin yang dibutuhkan adalah regulasi yang lebih ketat dari pemerintah atau inovasi dalam model bisnis platform yang lebih berkeadilan. Yang pasti, solusinya bukan dengan saling menyalahkan, tapi dengan duduk bersama mencari win-win solution.
Sebagai mahasiswi rantau yang pernah merasakan langsung dampak konflik ini, aku berharap ke depannya ada mekanisme dialog yang lebih baik. Sehingga ketika ada persoalan, semua pihak bisa menyampaikan aspirasinya tanpa harus mengorbankan kepentingan pihak lain.
Demo ojol di Jember kemarin bukan hanya soal tarif atau sistem aplikasi. Ini tentang bagaimana kita sebagai masyarakat digital bisa hidup berdampingan dengan adil meski punya kepentingan yang berbeda.
Bagi aku yang jauh dari keluarga, pengalaman ini mengingatkan bahwa merantau bukan hanya soal beradaptasi dengan lingkungan baru, tapi juga memahami kompleksitas sosial di tempat kita menuntut ilmu.
Semoga ke depannya, teknologi bisa menjadi alat yang benar-benar membebaskan dan memberdayakan semua pihak baik driver, pengguna, maupun mahasiswa rantau seperti aku yang hanya ingin kuliah dengan tenang.
Penulis adalah anak rantau dari Kalimantan yang menjadi mahasiswa Universitas Jember.
Trending Now