Konten dari Pengguna
Mengapa Kita Sulit Memulai, Padahal Ingin Sekali Selesai?
12 Oktober 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Kita Sulit Memulai, Padahal Ingin Sekali Selesai?
Pernah ingin menyelesaikan sesuatu, tapi malah terus menunda? Bisa jadi kamu sedang menghadapi mental block—hambatan psikologis yang bikin kamu takut untuk memulai. #userstoryAulia Salsabila
Tulisan dari Aulia Salsabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita semua pernah berada di titik itu—menatap tugas yang menumpuk, berjanji “nanti malam mulai,” lalu berakhir dengan membuka media sosial, membuat kopi, dan menenangkan diri dengan kalimat “besok aja deh.” Padahal, di dalam hati kita benar-benar ingin menyelesaikannya. Lalu, mengapa memulai sesuatu yang sederhana terasa begitu sulit?
Fenomena ini dikenal sebagai mental block—hambatan psikologis yang membuat seseorang menunda, bahkan menghindari aktivitas yang sebenarnya mampu ia lakukan. Peneliti dari Carleton University, Dr. Timothy A. Pychyl—yang banyak meneliti tentang prokrastinasi—menjelaskan bahwa penundaan bukan masalah waktu, tapi masalah emosi. Dalam bukunya Solving the Procrastination Puzzle (2013), Pychyl menulis bahwa kita sering menunda karena ingin menghindari perasaan negatif yang muncul dari tugas tersebut, seperti takut gagal, cemas, atau merasa tidak cukup baik. Artinya, kita bukan malas. Kita hanya takut merasa tidak nyaman.
Ketika dihadapkan pada pekerjaan besar, seperti skripsi, proposal, atau laporan, otak kita bereaksi dengan menilai tugas itu sebagai ancaman terhadap rasa aman dan harga diri. Maka, muncullah perilaku avoidance—menghindar. Kita mengganti aktivitas yang menegangkan dengan hal-hal yang memberi kepuasan instan, seperti scrolling, menonton drama, atau “merapikan meja dulu”. Inilah yang disebut Pychyl sebagai bentuk emotional regulation failure—kegagalan dalam mengatur emosi.
Dalam konteks komunikasi, perilaku ini bisa dijelaskan lewat teori self-efficacy dari Albert Bandura (1997). Self-efficacy atau keyakinan diri terhadap kemampuan menyelesaikan tugas berpengaruh besar terhadap motivasi. Semakin seseorang merasa tidak yakin jika ia mampu, semakin besar kemungkinan ia menunda. Maka, hambatan untuk memulai sering kali bukan karena ketidaktahuan terhadap apa yang harus dilakukan, melainkan karena ketidakpercayaan terhadap diri sendiri bahwa dirinya dapat melakukan sesuatu dengan baik.
Sayangnya, semakin sering kita menunda, semakin besar pula rasa bersalah dan kecemasan yang muncul. Terbentuklah siklus klasik: cemas–menunda–merasa bersalah–cemas lagi–menunda lagi.
Bagaimana Cara Memutusnya?
Psikolog Mel Robbins dalam bukunya The 5 Second Rule (2017) menyarankan cara sederhana: hitung mundur dari lima dan langsung lakukan langkah kecil pertama. Pendekatan ini terbukti membantu mengatasi kebiasaan overthinking yang sering jadi akar penundaan. Sementara itu, James Clear dalam Atomic Habits (2018) menekankan pentingnya memecah tugas besar menjadi bagian kecil yang realistis—karena otak lebih mudah menerima tantangan kecil ketimbang target besar yang terasa berat.
Bukan Menunggu Semangat Datang, tapi Membangun Momentum
Dalam konteks mahasiswa komunikasi, hal ini bisa menjadi refleksi mendalam. Dunia akademik sering kali menuntut hasil, tetapi lupa mengajarkan bagaimana mengelola proses. Padahal, proses inilah yang menentukan keberlanjutan motivasi dan kedisiplinan diri.
Kita sering mendengar, terkadang hanya perlu satu langkah kecil untuk memulai, seperti membuka dokumen, menulis satu kalimat, atau membaca satu halaman jurnal. Karena begitu langkah pertama diambil, beban psikologisnya mulai berkurang.
Pada akhirnya, hambatan untuk memulai bukan pertanda bahwa kita gagal, melainkan menjadi bagian dari proses belajar mengenali diri sendiri. Bukan soal seberapa cepat menyelesaikan sesuatu, melainkan seberapa berani kita menghadapi rasa takut dan tetap bergerak meski perlahan.
Seperti kata Pychyl, “The cure for procrastination is action. Not waiting for motivation, but moving despite the lack of it.”

