Konten dari Pengguna

1814-1914: Seratus Tahun Perdamaian?

Adrian Aulia Rahman
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah
27 November 2025 12:30 WIB
Β·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
1814-1914: Seratus Tahun Perdamaian?
Kongres Wina 1814 menandai dimulainya sebuah era, yang oleh Karl Polanyi disebut one hundred years peace, perdamaian relatif yang akan berakhir dengan peristiwa pembunuhan di Sarajevo.
Adrian Aulia Rahman
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Klemens von Metternich dan Otto von Bismarck, dua negarawan paling beperngaruh di Eropa Abad ke-19. Keduanya berperan penting dalam mencipatanan keseimbangan kekuatan (balance of power) di Eropa. Sumber gambar: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Klemens von Metternich dan Otto von Bismarck, dua negarawan paling beperngaruh di Eropa Abad ke-19. Keduanya berperan penting dalam mencipatanan keseimbangan kekuatan (balance of power) di Eropa. Sumber gambar: Shutterstock.
Sejarawan A. J. P. Taylor menyebut bahwa periode perdamaian Eropa sangat dipengaruhi oleh adanya keseimbangan kekuatan (balance of power). Raibnya keseimbangan, seringkali karena ambisi hegemoni penguasa, tanpa belas kasihan akan membawa Eropa pada perang destruktif yang merugikan seperti yang dilakukan Philip II, Louis XIV, dan Napoleon. Di Wina tahun 1814, saat senja kekuasaan Napoleon, para pemimpin Eropa berkumpul untuk merestorasi ekuilibrium yang hancur. Kongres Wina 1814 menandai dimulainya sebuah era, yang oleh Karl Polanyi disebut one hundred years peace, perdamaian relatif yang akan berakhir dengan peristiwa pembunuhan di Sarajevo seratus tahun kemudian.
Seratus tahun sejarah Eropa sejak Kongres Wina, didominasi oleh dua nama: Klemens von Metternich dan Otto von Bismarck. Keduanya seorang diplomat brilian, konservatif tak tergoyahkan, sekaligus praktisi kekuasaan tanda tanding. Sistem Metternich yang terbentuk sejak 1814 goyah saat terjadi Revolusi 1848 dan keluarnya Manifesto Lamartine yang menyatakan bahwa Prancis tidak lagi terikat dengan Perjanjian Wina 1814. Perang Krimea dan Unifikasi Jerman secara sempurna menghancurkan sistem Metternich. Namun Bismarck mewarisi keyakinan Metternich bahwa ekuilibrium Eropa harus tetap dipelihara, maka dimulailah era Bismarckian, yang merevisi tatanan Sistem Kongres namun tetap mempertahankan keseimbangan kekuatan di Eropa.
Warisan Metternich
Ambisi Kaisar Napoleon Bonaparte untuk menguasai Eropa menemui kebuntuan pada tahun 1814, dan kehancuran total setelah kekalahan terakhirnya di medan tempur Waterloo. Klemens von Metternich menjadi salah satu inisiator sebuah kongres perdamaian, yang akan diadakan di Wina dimana ia menjadi tuan rumah dan tokoh dominan. Inggris diwakili oleh Lord Castlereagh, Rusia langsung diwakili oleh Tsar Alexander I, dan Prancis sebagai pihak yang kalah, diwakili oleh seorang diplomat brilian sekaligus licik, seorang β€˜sampah dalam stoking sutra’ Talleyrand.
Kekuatan yang berkumpul di Kongres Wina merupakan wajah dari dua aliansi dominan kontra-Napoleon. Quadruple Alliance yang dipimpin oleh Inggris, dan Aliansi Suci (Holly Alliance) yang didominasi Rusia dan Austria serta Prusia, tanpa keterlibatan Inggris. Bagi Metternich, sebagaimana dijelaskan Henry Kissinger dalam bukunya Diplomacy, Quadruple Alliance dimaksudkan untuk keamanan geopolitik dengan keterlibatan Inggris sebagai penyeimbang, sedangkan Aliansi Suci untuk keamanan domestik dalam membendung paham-paham revolusioner.
Kongres Perdamaian yang diselenggarakan di Kota Wina. Kongres ini dihadiri oleh beberapa negarawan paling berpengaruh di Eropa pada masanya, seperti Tsar Alexander I, Metterncih, Castlereagh, dan Talleyran. Sumber gambar: Shutterstock.
Namun pasca-Kongres Aix-la-Chapelle 1818, Inggris menarik diri dari sistem kongres dan lebih berperan, seperti yang disebut oleh Andrew Lambert dalam bukunya No More Napoleon, sebagai offshore balancer (penyeimbang di luar garis). Inggris enggan terlibat dalam intrik kekuatan konservatif Aliansi Suci untuk meredam kebebasan dan paham progresif, terlebih setelah George Canning menjadi menteri luar negeri menggantikan Castlereagh yang bunuh diri. Inggris tetap berkepentingan dalam menjaga keseimbangan Eropa, terutama dalam menjamin netralitas Belgia yang diarsiteki oleh Lord Palmerston.
Ujian besar pertama dalam Sistem Kongres adalah masalah Turki (Eastern Question). Pada 1833, Metternich menggagas Perjanjian Munchengratz antara Austria, Rusia, dan Prusia. Ditulis A. J. P. Taylor dalam bukunya The Struggle for Mastery in Europe, ketentuan dalam perjanjian tersebut adalah menjamin status quo di Turki, memberikan jaminan atas Polandia, dan menentang kebijakan non-intervensi jika ada penguasa yang meminta bantuan melawan liberalisme.
Keseimbangan dan stabilitas Eropa masih terjaga, sampai meletusnya Revolusi 1848 yang membuat menteri luar negeri Prancis Lamartine, mengeluarkan Manifesto Lamartine pada 4 Maret 1848 yang menyatakan bahwa Prancis tak lagi terikat dengan Perjanjian Wina 1814. Sebelas hari kemudian, Metternich jatuh dari kekuasaannya. Walaupun peristiwa ini konsekuensial dalam sejarah Eropa, namun dampak politiknya tidak begitu destruktif merusak kesembangan Eropa. Peristiwa yang akan benar-benar merusak Sistem Kongres adalah peristiwa enam tahun kemudian, saat Eropa terjebak dalam Perang Krimea.
Pada 1852, Napoleon III dari Prancis meminta Sultan Turki untuk menobatkannya sebagai pelindung Kristen di Timur, namun hal ini sangat ditentang oleh Rusia. Saat konflik semakin meruncing, Austria menyatakan netralitasnya. Perdana Menteri Lord Aberdeen di London memiliki keraguan untuk melakukan intervensi, bahkan kepada menteri luar negerinya, Lord John Russell, Aberdeen mengatakan bahwa β€˜orang barbar Turki tidak menyukai kita.’ Lord Palmerston sebagai menteri dalam negeri mendorong Aberdeen untuk melakukan intervensi setelah Rusia menginvasi Wallachia dan Moldovia. Aberdeen tetap menahan diri sampai pada Maret 1854 mendeklarasi perang kepada Rusia. Perang Krimea ini menghancurkan arsitektur politik Sistem Metternich, dengan tercerainya Aliansi Suci. Namun keseimbangan kekuatan berusaha dipulihkan dalam perjanjian di Kongres Paris yang ditandatangani pada Maret 1856.
Sistem Bismarckian
Enam tahun setelah Kongres Paris, seorang diplomat yang bertugas di St. Petersburg dan Paris yang bernama Otto von Bismarck, diangkat menjadi ministerpraesident Prusia. Dalam pidatonya di Reichstag, Bismarck menyampaikan pernyataan terkenalnya yang menandaskan filosofi politiknya bahwa Jerman tidak mengandalkan liberalisme Prusia tetapi pada kekuatannya, tidak ditentukan oleh suara mayoritas tetapi oleh besi dan darah.
Filosofi besi dan darah Bismarck melandasi ambisinya untuk penyatuan Jerman melalui tiga perang. Perang pertama melawan Denmark pada 1863, yang berakhir dengan kekalahan Denmark yang membuat Prusia menguasai administrasi Schleswig. Tahun 1866, Prusia berhasil memberikan kekalahan bagi Austria dalam konflik selama tujuh minggu. Empat tahun kemudian, dalam persoalan tahta Spanyol, Bismarck dengan manipulasi Ems Telegram-nya berhasil menghasut Napoleon III untuk mendeklarasikan perang pada 1870. Naas bagi Napoleon III, Prancis mengalami kekalahan sekaligus penghinaan memalukan, saat Bismarck menobatkan Raja Wilhelm menjadi kaisar dari Jerman Bersatu di Hall of Mirrors, Versailles.
Ilustrasi peta Eropa, benua sering terjebak dalam perang untuk memperebutkan pengaruh dan dominasi politik. Sumber gambar: Shutterstock.
Jerman muncul menjadi kekuatan dominan di Eropa setelah berhasil mempecundangi Wina dan Paris. Namun Bismarck tidak duduk diam menikmati kemenangan sesaat, ia justru berusaha mengonsolidasikan politik Eropa dalam kendalinya. Pada 1873, Bismarck berhasil membentuk Liga Tiga Kaisar (Dreikaiserbund) bersama Rusia dan Austria. Liga tersebut terancam pecah saat masalah Timur mengenai Balkan menjadi masalah utama dalam politik Eropa.
Nasionalisme Balkan yang semakin menguat di tengah melemahnya kekuasaan Ottoman, menjadi masalah bagi para kekuatan besar. Rusia dengan ambisi slavismenya berusaha mendukung entitas politik yang ingin merdeka di Balkan. Inggris memiliki kepentingan untuk menjaga keutuhan Ottoman terutama dalam persaingan geopolitik dengan Rusia di Asia Tengah yang disebut The Great Game. Jerman memiliki kepentingan minimal, namun Bismarck berkepentingan untuk menjaga agar Dreikaiserbund tidak pecah.
Masalah semakin memanas saat Rusia menyatakan perang kepada Turki. Benjamin Disraeli di London condong pada kebijakan intervensi, untuk menjamin keutuhan Konstantinopel, namun terhalang Menteri Luar Negeri Lord Derby yang lebih isolasionis dan menahan diri. Puncak dari masalah Balkan ini adalah diselenggarakannya Kongres Berlin tahun 1878 yang langsung dipimpin oleh Bismarck. Disraeli turut hadir dengan memastikan hak Inggris untuk menduduki Siprus. Selain pemberian kemerdekaan bagi negara-negara di Balkan, Kongres Berlin juga memastikan kembali keseimbangan Eropa.
Sepanjang menjabat, Bismarck selalu memastikan bahwa aliansi Prancis-Rusia tidak pernah terwujud. Sayangnya, Kaiser Wilhelm II memecat sang negarawan tua pada 1890. Jonathan Steinberg dalam bukunya Bismarck: A Life benar saat menulis bahwa sang Kanselir tidak pernah menguasai Jerman, dan pemecatannya adalah buktinya. Wilhelm II memutuskan untuk tidak memperpanjang Perjanjian Reasuransi (Reinsurance Treaty) dengan Rusia, yang membuat Moskow semakin mendekat kepada Prancis. Tahun 1891, Rusia menandatangani perjanjian aliansi dengan Prancis. Ketakutan Bismarck kini terwujud.
Inggris dan perdana menteri Konservatif yang menang dalam pemilu 1895, Lord Salisbury, mempertahankan diri dalam kebijakan splendid isolationism-nya. Sebagaimana dijelaskan J. A. S. Grenville dalam bukunya Lord Salisbury and Foreign Policy, Salisbury menghindari aliansi masa damai juga menghindari komitmen untuk berperang. Namun ancaman Jerman yang semakin meningkat, membuat penerus Salisbury, Lord Balfour dan Menlu Lord Lansdowne menandatangani Perjanjian Entente Cordiale dengan Prancis pada 1904. Inggris secara perlahan melepas kebijakan isolasinya, dan memberikan komitmen parsial. Pada 1807, Edward Grey berhasil membawa Inggris terlibat dalam Triple Entente dengan Rusia dan Prancis. Jalan menuju konflik besar tanpa disadari semakin terbuka lebar.
Ilustrasi Perang Dunia I, perang besar yang menelan jutaan jiwa dan mengubah sejjarah dunia untuk selama-lamanya. Sumber gambar: Shutterstock.
Antagonisme semakin meruncing, keseimbangan kekuatan semakin memudar. Eropa terbelah dalam dua kubu aliansi. Di satu sisi ada Jerman dan Austria dan di sisi lain Prancis-Inggris-Rusia terikat dalam aliansi. Eropa sudah tersiram gasoline, dan sedikit saja percikan api bisa menimbulkan kebakaran hebat. Kebakaran hebat itu terjadi 34 hari setelah pembunuhan pewaris tahta Austria, Pangeran Franz Ferdinand di Sarajevo. Agustus 1914, lonceng katastropik berbunyi di Eropa, dan dunia menyaksikan salah satu perang paling destruktif dalam sejarah dengan dimulainya Perang Dunia I.
Ironi yang sungguh menyakitkan. Benua yang telah memimpin dalam inovasi dan revolusi industri, berhasil menciptakan perdamaian relatif sejak Kongres Wina, menikmati pertumbuhan pesat dalam perdagangan dan kebudayaan, harus hancur dalam perang destruktif yang menelan jutaan nyawa. Tahun 1914 tidak hanya menandai akhir dari perdamaian berdasar keseimbangan pasca-Kongres Wina, tetapi juga memungkas dominasi Eropa di dunia dan menandai akhir dari tatanan dunia lama.
Trending Now