Konten dari Pengguna

Cordell Hull dan Konferensi Ekonomi London 1933

Adrian Aulia Rahman
Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran - Politik, Sastra, dan Sejarah
29 Oktober 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Cordell Hull dan Konferensi Ekonomi London 1933
Cordell Hull, seorang Cobdenite, yang memimpikan tatanan ekonomi dunia berdasarkan perdagangan bebas. Ironisnya, cita-cita cobdenismenya harus menghadapi batu karang proteksionisme. #userstory
Adrian Aulia Rahman
Tulisan dari Adrian Aulia Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cordell Hull. Sumber: Shutterstock.
zoom-in-whitePerbesar
Cordell Hull. Sumber: Shutterstock.
Pada 12 Juni 1933, Raja George V dan Perdana Menteri Ramsay MacDonald resmi membuka Konferensi Ekonomi London 1933. Konferensi internasional ini adalah upaya kolektif dari para pemimpin dunia—termasuk Franklin D. Roosevelt, Edouard Herriot, Guido Jung, Richard Bennett, Hjalmar Schacht, dan pemimpin lainnya—untuk memperbaiki dampak krisis 1929 yang secara destruktif merusak tatanan ekonomi dunia.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin langsung oleh Menteri Luar Negeri Cordell Hull, seorang Cobdenite, yang memimpikan tatanan ekonomi dunia berdasarkan perdagangan bebas. Ironisnya, cita-cita cobdenisme yang dibawa Hull harus menghadapi batu karang proteksionisme yang ternyata masih dominan, bahkan dari dalam negerinya sendiri.

Masalah Ekonomi dan Pemerintahan FDR

Di hari terakhirnya di Gedung Putih, Presiden Herbert Hoover mengatakan, “Kita berada dalam posisi yang menyedihkan.” Itu bertentangan sama sekali dengan optimisme yang dimilikinya saat pertama memangku jabatan pada Maret 1929, “Saya tidak memiliki ketakutan untuk masa depan negara kita, masa depan cerah dengan harapan.”
Depresi besar (Great Depression), yang dimulai 1929, menghempaskan seluruh optimisme Hoover ke jurang yang paling dalam tanpa belas kasihan. Reputasinya tercoreng dengan sangat menyakitkan karena dianggap nihil kemampuan untuk menangani persoalan. Puncaknya, ia ‘dipecat’ oleh rakyatnya dalam pemilihan presiden 1932, yang dimenangkan oleh rivalnya, Franklin D. Roosevelt.
Di hadapan Hakim Agung Charles Evan Hughes, FDR mengambil sumpah jabatannya pada 4 Maret 1933. Robert Dallek, dalam bukunya Franklin D. Roosevelt: A Political Life, menulis bahwa Roosevelt dilantik di tengah bayang-bayang ketakutan. Cordell Hull, yang diangkat menjadi menteri luar negeri oleh Roosevelt, menulis dalam memoarnya, “Setiap bunga yang mekar di Washington pada musim semi 1933 seolah-olah mengandung masalah ekonomi.”
Sebagai Menteri Luar Negeri, Hull juga menghadapi tantangan besar di awal masa jabatannya. Paling tidak ada dua persoalan yang harus mendapat perhatiannya segera. Pertama adalah Konferensi Perlucutan Senjata (World Disarmament Conference) di Jenewa yang dimulai sejak 1932 dan saat itu dibayang-bayangi kegagalan.
Kedua adalah konferensi ekonomi yang akan diselenggarakan pada Juni 1933 di London. Hull yang sejak lama memiliki perhatian khusus terhadap ekonomi dunia, memandang konferensi di London itu sebagai peluang yang berharga, yang bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan ide dan keyakinannya tentang perdagangan bebas dunia.
Dalam pidato pertamanya, setelah menerima jabatan sebagai Menteri Luar Negeri, Hull menegaskan pandangannya, “Keberhasilan kebijakan luar negeri pemerintahan baru akan ditentukan oleh sejauh mana bantuannya untuk memulihkan perdagangan dunia.” Sejak awal, Hull berpandangan bahwa perdagangan dunia, yang meraibkan sekat-sekat proteksionisme ekonomi, bisa membawa stabilitas dan kemakmuran di seluruh penjuru dunia.
Sebelum dilaksanakannya Konferensi, Presiden Roosevelt mengundang pemimpin dari negara yang memiliki hubungan dagang terbesar dengan AS. Di antaranya Perdana Menteri Ramsay MacDonald yang akan menjadi tuan rumah di London, Edouard Herriot dari Prancis, Richard Bennett dari Kanada, Guido Jung dari Italia, Hjalmar Schacht dari Jerman, T. V. Soong dari Tiongkok, dan Viscount Ishii dari Jepang. Para pemimpin itu membahas masalah besar yang akan diperdebatkan saat konferensi. Dalam memoarnya, Hull menyebut ada tiga pertanyaan besar dalam Konferensi, yakni utang perang, stabilitas mata uang, serta pengurangan hambatan perdagangan dan tarif.
Sembari mempersiapkan diri untuk memimpin delegasi ke Konferensi Ekonomi London, di dalam negeri, Hull juga memperjuangkan agar Undang-Undang Timbal Balik Tarif (Reciprocal Tariff Act) bisa diajukan ke Kongres. Saat sedang dalam perjalanan menuju London, Hull mendengar dari Roosevelt bahwa Reciprocal Tariff Act belum bisa diajukan ke Kongres. Hull sangat terpukul karena rencananya, undang-undang tersebut akan ia jadikan senjata persuasif untuk mengajak peserta konferensi agar mengurangi tarif perdagangan. Kini senjata itu tak lagi dimilikinya. Dengan ironi Hull mengatakan, “saya berangkat ke London dengan harapan tinggi, tapi tiba dengan tangan kosong.”

Raibnya Harap

Konferensi Ekonomi London resmi dibuka pada 12 Juni 1933. Dalam pidato di acara pembukaan, Hull langsung melayangkan serangan terhadap nasionalisme ekonomi yang sempit, yang menjadi batu karang penghalang bagi perdagangan bebas dunia. Hull mengatakan, “Nasionalisme ekonomi yang dipaksakan pada berbagai negara adalah kebijakan yang telah kehilangan kredibilitas.” Namun, kampanye Hull mengenai perdagangan bebas tidak bisa lebih jauh karena sejatinya tangannya terikat oleh realita di dalam negerinya sendiri.
Negara-negara lain pun setengah hati untuk menempuh kebijakan pengurangan tarif. Misalnya, Prancis dan negara dengan standar emas lainnya berusaha untuk menstabilkan mata uangnya terlebih dahulu sebelum memutuskan pengurangan tarif, sedangkan Inggris memiliki prioritas untuk menyelesaikan persoalan utangnya terlebih dahulu.
Franklin Delano Roosevelt. Sumber: Shutterstock.
Hull sadar betul akan masalah besar yang ada dihadapannya. Selain sistem yang penuh kompleksitas, persepsi dalam negeri masing-masing negara pun masih banyak yang terpenjara dalam keyakinan proteksionisme ekonomi. Hull mengatakan, “Sejak jatuhnya program Wilson, negara kita dan negara lain, secara konsisten mengejar kebijakan nasionalisme, baik ekonomi maupun politik, yang semakin menyempit.” Nasionalisme sempit inilah yang menjadi batu karang kokoh penghalang perdagangan bebas dunia.
Konferensi berjalan alot dan stagnan. Presiden Roosevelt kemudian mengirim Raymond Moley ke London untuk melaporkan situasi. Kedatangan Moley ke London disambut hangat karena dianggap dia memiliki otoritas lebih tinggi yang dipercayakan Roosevelt, daripada Menlu Hull yang memimpin delegasi. Moley, setelah pembicaraan dengan Ramsay MacDonald dan penasihat ekonominya, Sir Frederick Leith-Ross, mengajukan rencana stabilisasi mata uang kepada Roosevelt. Namun, rencana Moley ditolak presiden.
Pesan Roosevelt mengenai penolakannya untuk rencana stabilisasi mata uang disebut "bombshell message" karena kegemparan yang ditimbulkannya. Hal ini menimbulkan kemarahan banyak negara, termasuk Inggris dan Prancis. Bahkan, pada 4 Juli, Macdonald mengatakan konferensi telah berakhir secara praktis karena tindakan satu negara. Namun, Hull sebisa mungkin menahan Konferensi tetap berlanjut, walaupun kebuntuannya sudah begitu jelas.
Dalam pidato penutupan Konferensi pada 27 Juli, Hull menyatakan, “Ada dua cara untuk mencapai kesepakatan internasional. Satu adalah dengan memaksakan kehendaknya melalui kekuatan, melalui perang. Yang lain adalah melalui persuasi, melalui konferensi.” Hull masih berusaha meyakinkan seluruh peserta konferensi bahwa negosiasi dan persuasi adalah satu-satunya pilihan rasional dan terbaik untuk mencapai kesepahaman, alih-alih penggunaan kekerasan.
Sayangnya, Hull juga tidak bisa menolak kenyataan bahwa Konferensi Ekonomi London telah membentur kebuntuan dan dibayang-bayangi kegagalan total. Dalam memoarnya, Hull merefleksikan, “Kegagalan Konferensi London mengakibatkan dua akibat tragis. Pertama adalah memperlambat pertumbuhan ekonomi. Dan kedua, hal itu menguntungkan negara-negara diktator seperti Jerman, Jepang, dan Italia.” Hull juga, barangkali dengan penuh penyesalan, mengatakan, “Konferensi itu adalah kesempatan pertama dan terakhir untuk menghentikan pergerakan menuju konflik.”
Ironi yang tak pernah gagal menorehkan duka dan penyesalan adalah saat cita-cita dan idealisme yang begitu teguh digenggam membentur batu karang realita yang kokoh, yang menghalangi terwujudnya idealisme tersebut. Itulah yang dialami Hull, seorang perjuangan perdagangan bebas dunia, seorang Cobdenite yang gagal mewujudkan cita-citanya. Harapannya raib di Konferensi Ekonomi London.
Trending Now