Konten dari Pengguna
Apa Itu Kidulting dan Mengapa Banyak Orang Dewasa Menggemarinya?
29 Oktober 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Apa Itu Kidulting dan Mengapa Banyak Orang Dewasa Menggemarinya?
Fenomena kidulting makin populer di kalangan anak muda. Cari tahu kenapa banyak orang dewasa suka hal-hal masa kecil dan apa maknanya bagi generasi sekarang.Sesilia Ayu Febriani
Tulisan dari Sesilia Ayu Febriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih kamu tiba-tiba pengin main Lego, nonton kartun lawas, atau beli mainan karakter favorit waktu kecil? Kalau iya, selamat kamu nggak sendiri. Fenomena kayak gini sekarang lagi booming banget di berbagai negara dan disebut kidulting.
Fenomena ini muncul karena banyak orang dewasa yang mulai “balas dendam masa kecil”, melakukan hal-hal yang dulu mereka suka tapi sempat ditinggalkan karena sibuk kerja, kuliah, atau ngurus hidup.
Apa Itu Kidulting ?
Istilah kidulting berasal dari gabungan kata kid (anak-anak) dan adulting (menjalani kehidupan orang dewasa). Fenomena kidulting ini lebih banyak berkaitan dengan orang dewasa yang kembali melakukan atau menikmati hal-hal masa kecil mereka.
Seperti bermain mainan, mewarnai, mengumpulkan boneka atau figure, memakai barang dengan motif kartun, atau sekadar menikmati hiburan yang dulu dianggap “anak-anak”.
Kidulting mulai populer sejak pandemi COVID-19. Saat itu, banyak orang merasa stres dan jenuh di rumah, lalu mencari hiburan lewat aktivitas yang terasa “aman dan menyenangkan”, seperti bermain, menggambar, atau nostalgia masa kecil.
Fenomena ini bukan cuma terjadi di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia. Bahkan, banyak merek besar seperti LEGO, Disney, dan Pokémon sengaja merilis produk nostalgia untuk pasar orang dewasa. Karena ternyata, makin banyak orang yang butuh “main” buat merasa hidupnya seimbang.
Kenapa Orang Dewasa Suka Kidulting?
Ternyata, ada alasan psikologis di balik kebiasaan ini. Nggak sekadar iseng atau kekanak-kanakan, lho.
Bikin Nostalgia dan Tenang
Pernah nggak kamu tiba-tiba ngerasa pengin balik ke masa kecil, waktu hidup rasanya simpel, nggak ada tagihan, nggak mikirin kerjaan, dan satu-satunya drama cuma rebutan mainan? Nah, kidulting jadi cara untuk “recharge” perasaan itu.
Psikolog menyebut nostalgia sebagai emosi positif yang bikin otak merasa aman dan nyaman. Ketika kita ngelakuin hal-hal yang dulu kita suka, otak langsung aktif memproduksi hormon bahagia kayak dopamin dan endorfin. Efeknya mirip kayak lagi healing, tapi lewat kenangan yang menyenangkan.
Misalnya, nonton ulang kartun Upin Ipin, Doraemon, atau Toy Story bisa bikin kita senyum sendiri. Bukan cuma karena lucu, tapi karena ada kenangan emosional yang ikut kebuka.
Ngasih Ruang Buat Inner Child
Setiap orang punya sisi anak kecil dalam dirinya, yang sering disebut inner child. Sisi ini menyimpan semua memori, mimpi, dan spontanitas dari masa kecil. Tapi sayangnya, begitu kita masuk dunia kerja dan tuntutan hidup, bagian itu sering “terkunci” karena harus terlihat serius dan tangguh.
Nah, kidulting bisa jadi cara buat berdamai dengan inner child itu. Ketika kita main, nonton kartun, atau beli mainan yang dulu pengin banget tapi nggak kesampaian, kita sebenarnya lagi bilang ke diri sendiri “Nggak apa-apa kok buat senang lagi.”
Bantu Kurangi Stres
Hidup dewasa itu padat banget kayak target kerja, tekanan sosial, dan urusan finansial bisa bikin otak kita kayak nggak pernah istirahat. Di sinilah kidulting berperan sebagai time out emosional.
Aktivitas ringan seperti main board game, ngerakit lego, menggambar, atau sekadar main game nostalgia bisa bantu otak beralih dari mode stres ke mode santai.
Nambah Kreativitas & Mood Positif
Bermain bukan cuma bikin rileks, tapi juga merangsang kreativitas. Ketika kita melakukan aktivitas tanpa tekanan, misalnya ngerakit mini figure, menggambar doodle, atau main game puzzle otak bagian kanan yang berperan dalam kreativitas dan imajinasi jadi aktif.
Selain itu, mainan dan hal-hal kreatif juga bantu naikin kadar dopamin di otak, yang bikin kita ngerasa bahagia, puas, dan lebih produktif. Itu sebabnya, banyak perusahaan besar seperti Google dan Pixar bahkan nyediain ruang main di kantor, karena mereka tahu, otak yang sering bermain itu otak yang lebih inovatif.
Sisi Negatif Kidulting
Walau kelihatannya menyenangkan dan menenangkan, ternyata kidulting juga punya sisi negatif kalau dilakukan tanpa batas atau kesadaran. Nih, beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Bisa Bikin Boros
Mainan koleksi, action figure edisi langka, atau tiket acara nostalgia bisa mahal banget. Kadang orang jadi impulsif karena pengin “balas dendam masa kecil” — beli semua hal yang dulu nggak sempat dimiliki. Kalau nggak dikontrol, ini bisa bikin kantong jebol dan malah nambah stres finansial.
Lupa Dunia Nyata
Karena terlalu asyik main atau tenggelam dalam nostalgia, beberapa orang jadi susah balik ke tanggung jawab sehari-hari.
Kerjaan keteteran, tugas enggak kelar, atau malah jadi malas bersosialisasi karena lebih nyaman di “dunia main” sendiri.
Dapat Stigma “Kekanak-kanakan”
Sayangnya, belum semua orang bisa nerima kalau orang dewasa masih suka mainan atau hal lucu. Masih banyak yang nganggep itu aneh atau nggak dewasa. Komentar kayak “udah gede kok masih nonton kartun?” bisa bikin orang minder sama hobinya sendiri.
Padahal, yang tahu apa yang bikin bahagia ya diri kita sendiri. Tapi, tetap aja, stigma sosial kadang bikin orang merasa harus menyembunyikan sisi anak kecilnya dan itu bisa bikin mereka kehilangan ruang untuk ekspresi diri.
Pelarian dari Masalah Nyata
Kalau kidulting dipakai buat kabur dari stres tanpa pernah menghadapi akar masalahnya, itu bisa jadi tanda escapism, pelarian yang nggak sehat. Misalnya, terus main atau belanja untuk menutupi rasa cemas atau sedih, tapi nggak pernah benar-benar menyelesaikan penyebabnya.
Dampak Lingkungan
Industri mainan dan merchandise nostalgia sering pakai banyak plastik dan kemasan sekali pakai. Kalau konsumsi kita berlebihan, efeknya bisa buruk bagi lingkungan.
Mainan yang rusak atau tren yang cepat ganti juga sering berakhir jadi sampah.
Kidulting bukan tanda kekanak-kanakan, tapi cara untuk menemukan kembali rasa bahagia yang sering hilang di dunia orang dewasa. Fenomena ini tumbuh bukan cuma karena tren, tapi karena kebutuhan untuk bernapas, bersenang-senang, dan merasa bebas walau cuma sebentar.
Jadi kalau weekend nanti kamu pengin nonton kartun lawas, main lego, atau beli mainan lucu, lakukan aja. Hidup udah cukup serius, jadi nggak apa-apa sesekali jadi anak kecil lagi.

