Konten dari Pengguna
Ruang Hati yang Tak Terisi
19 Oktober 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Ruang Hati yang Tak Terisi
Tentang ruang hati yang tetap utuh untuk yang pergi, dan keberanian untuk mencinta lagi—tanpa menghapus, tapi menyambung. #userstoryAyu Runingsih
Tulisan dari Ayu Runingsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sebuah refleksi tentang kehilangan, ruang hati yang tetap utuh, dan keberanian untuk mencinta lagi.

Setiap kepergian meninggalkan ruang yang tak tergantikan. Namun, justru di situlah aku belajar: sebelum mencinta lagi, aku harus berdamai dengan ruang hati yang sudah ada—meski ia kini hanya diisi kenangan.
Dulu, aku selalu berharap ada seseorang yang mampu menerimaku seutuhnya, bersama setiap ruang di hatiku yang pernah—dan mungkin masih—ditempati oleh kenangan tentang dia yang telah pergi. Dan kemudian, kutemukan dia: seorang lelaki dengan kedewasaan yang tak hanya terpancang pada usia, tetapi juga pada caranya memahami hidup. Dia bisa tegas, tapi juga bisa manja; bisa menjadi sandaran, tapi juga tak sungkan membutuhkan. Dia istimewa, karena dialah yang dengan ikhlas menerima bukan hanya diriku, tetapi juga jejak-jejak cinta yang telah lebih dulu ada di hatiku.
Namun, takdir menorehkan cerita yang berbeda. Setelah berjalan beriringan beberapa waktu, dia pun dipanggil menghadap Sang Pencipta. Beberapa minggu setelahnya, sahabat dekatnya menyampaikan sebuah pesan yang selama ini tersimpan: bahwa diam-diam, dia pernah berbagi tentang rasa iri yang sesekali datang—iri pada sosok lelaki yang masih mendiami sebuah ruang sunyi di relung hatiku. Namun, yang justru kusadari adalah: aku sekali lagi kehilangan. Bukan karena pilihan, melainkan karena kepastian yang tak terelakkan.
Namun, waktu tidak selalu menyembuhkanku secepat yang diharapkan. Beberapa hari lalu, aku kembali terperangkap dalam rindu—rindu pada dia yang masih setia menempati ruang khusus itu. Aku mengunjungi lagi kenangan-kenangan yang tersimpan, menyentuh satu per satu bekas yang ditinggalkannya.
Memang, aku masih bisa merasakan getaran suka pada lelaki lain. Namun, ada pintu di hatiku yang enggan terbuka—bukan karena tak ada yang mengetuk, tapi karena aku takut kembali merasakan hampa yang ditinggalkan oleh kepergian. Di sisi lain, aku selalu berpegang pada prinsip: bila aku dekat dengan seseorang, aku tak ingin mereka merasakan pedihnya ditinggalkan.
Apakah ini artinya aku tak mengizinkan siapa pun menggantikannya?
Apakah aku trauma akan kepergian?
Atau jangan-jangan, yang kutakutkan adalah membuat orang lain merasakan luka yang sama untuk kesekian kalinya?
Sejak ia tiada, yang terjadi adalah pergulatan batin, perjumpaan dengan masa lalu, dan akhirnya: sebuah keputusan untuk tak terburu membuka babak baru. Aku selalu yakin, aku butuh lelaki yang tak hanya menerimaku, tapi juga menerima kehadiran “dia” dalam ingatanku. Tapi kini, aku sadar—yang kumau lebih dalam dari itu.
Aku ingin pulih terlebih dahulu.
Aku ingin berdamai dengan semua yang telah terjadi, sebelum mengizinkan seseorang yang baru mengetuk pintu hatiku.
Aku tak ingin melukai siapa pun di masa depan.
Aku tak rela melihat orang yang kucintai nanti harus berbagi perasaan dengan bayangan seorang yang telah pergi—karena ya, dia akan selalu ada di ruang hatiku. Tak tergantikan, tapi juga tak lagi menghalangi.
Namun kini, aku tak ingin lagi tenggelam dalam duka atas kepergiannya.
Aku ingin percaya, di mana pun ia sekarang, ia tahu bahwa aku akan belajar mencintai lagi—bukan untuk melupakannya, tapi untuk menghidupi kembali arti cinta yang dulu ia ajarkan.
Bahwa cinta tak harus meruntuhkan, tapi bisa menyambungkan.
Bahwa kepergiannya bukan akhir dari cintaku, melainkan awal dari caraku mencintai dengan lebih sadar, lebih utuh, dan lebih berani.

