Konten dari Pengguna
Otak dan Ponsel: Mengapa Kita Selalu Ingin Mengecek Ponsel?
5 Desember 2025 18:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Otak dan Ponsel: Mengapa Kita Selalu Ingin Mengecek Ponsel?
Ponsel memicu dopamin sehingga kita terdorong terus mengeceknya. Desain aplikasi, kebutuhan sosial, dan FOMO membuat kebiasaan makin kuat, kemali polanya sebelum memengaruhi fokus dan kesehatan mentalAzahira Soffie Fatdarani
Tulisan dari Azahira Soffie Fatdarani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengungkap peran dopamin, FOMO, dan desain aplikasi dalam memicu reaksi otak yang membuat kita sulit menjauh dari layar.
Pernahkah kamu sadar, tiba-tiba tanganmu meraih ponsel padahal baru saja mengeceknya beberapa menit lalu? Atau merasa gelisah ketika ponsel tidak ada di dekatmu, seolah ada sesuatu yang penting yang mungkin terlewat? Tenang, kamu tidak sendiri. Kebiasaan kecil yang tampak sepele ini ternyata punya penjelasan ilmiahnya. Ada proses di otak—mulai dari dopamin, rasa penasaran, hingga tekanan sosial—yang membuat kita terus ingin membuka ponsel, bahkan tanpa alasan jelas.
Smartphone atau ponsel kini sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Ponsel bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga dipakai untuk belajar, mencari hiburan, hingga mengatur berbagai aktivitas. Namun, ada satu kebiasaan yang hampir dialami semua orang yaitu dorongan untuk terus membuka dan mengecek ponsel, bahkan saat tidak ada pesan atau notifikasi apa pun. Tanpa sadar, seseorang bisa memeriksa ponselnya berkali-kali hanya dalam waktu singkat. Dari perspektif psikologi, perilaku ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tetapi melibatkan proses di dalam otak yang mirip dengan pola adiksi ringan, khususnya pada sistem reward, pengendalian diri, dan kebutuhan sosial.
Salah satu alasan utama mengapa kita sering mengecek ponsel adalah karena aktivasi sistem reward dopamin. Dopamin merupakan neurotransmiter yang memberi rasa senang atau puas yang membuat kita ingin mengulangi suatu perilaku. Ketika seseorang membuka ponsel lalu menemukan pesan, notifikasi like, video menarik, atau informasi baru, otak melepaskan dopamin melalui jalur Ventral Tegmental Area (VTA) menuju Nucleus Accumbens (NAcc). Jalur ini merupakan pusat dari sistem reward yang berperan dalam pembentukan kebiasaan dan perilaku adiktif (Volkow et al., 2016). Ketika otak mengaitkan tindakan membuka ponsel dengan perasaan menyenangkan, dorongan untuk mengulanginya menjadi semakin kuat. Hal inilah yang membuat ponsel terasa “memanggil” kita berkali-kali.
Aplikasi pada ponsel juga dirancang menggunakan mekanisme variable reward, yaitu hadiah yang tidak dapat diprediksi. Setiap membuka ponsel, kita tidak pernah tahu apakah ada pesan baru, berita tertentu, atau konten menarik. Pola hadiah yang tidak pasti ini terbukti sangat efektif menciptakan kebiasaan kuat yang sulit dihentikan, mirip dengan konsep pada sistem judi (Smith & Pollak, 2020). Karena sifatnya yang tidak terprediksi, otak terus berharap ada kejutan berikutnya setiap kali ponsel dibuka.
Selain sistem reward, dorongan mengecek ponsel juga berkaitan dengan kondisi pada prefrontal cortex (PFC), yaitu area otak yang mengatur pengendalian diri, fokus, dan pengambilan keputusan. Saat seseorang sering kurang tidur, stres akademik, atau multitasking, fungsi PFC dapat menurun, sehingga kemampuan mengendalikan dorongan impulsif melemah (Lim, 2022). Dengan kontrol diri yang berkurang, seseorang lebih mudah terdistraksi oleh ponsel, lebih mudah tergoda untuk membuka ponsel, meskipun sedang dalam kegiatan yang membutuhkan konsentrasi seperti belajar atau bekerja.
Faktor lain yang membuat ponsel sulit dilepaskan karena adanya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sosial. Ketika seseorang melihat notifikasi atau interaksi media sosial, otak memprosesnya melalui aktivasi ventral striatum, interaksi sosial online mengaktifkan bagian otak yang sama dengan interaksi sosial langsung (Sherman et al., 2018). Interaksi digital seperti melihat siapa yang menyukai postingan kita atau membaca komentar positif memberikan rasa diterima dan dihargai. Karena manusia secara biologis adalah makhluk sosial, otak sangat sensitif terhadap sinyal-sinyal sosial ini, baik dalam bentuk tatap muka maupun digital. Inilah yang membuat smartphone menjadi alat sosial yang sangat kuat.
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut tertinggal informasi juga memperkuat kebiasaan mengecek ponsel. FOMO muncul ketika seseorang khawatir tidak mengikuti aktivitas atau informasi yang sedang terjadi di lingkungan sosialnya. Kondisi ini mengaktifkan bagian otak yang memproses kecemasan dan ketidaknyamanan sosial, seperti insula dan anterior cingulate cortex. Ketika seseorang tidak dapat mengakses ponselnya, ia mungkin merasa cemas karena takut melewatkan sesuatu. Perasaan ini mendorong orang untuk terus mengecek ponselnya bahkan tanpa alasan jelas.
Selain faktor neurologis dan sosial, kebiasaan mengecek ponsel sering kali terbentuk melalui habit loop yang terdiri dari pemicu (cue), kebiasaan (routine), dan ganjaran (reward). Contohnya, suara notifikasi sebagai pemicu. Melihat ponsel menjadi rutinitas, dan dopamin atau informasi baru menjadi ganjaran. Lama kelamaan, ponsel tidak perlu lagi memberikan notifikasi untuk mengaktifkan loop ini dengan kata lain seseorang akan mengecek ponsel hanya karena dorongan internal. Kebiasaan ini mempengaruhi otak sehingga tindakan mengecek ponsel terjadi secara otomatis.
Dorongan untuk terus mengecek ponsel memiliki dampak terhadap fungsi kognitif dan emosional. Pertama, perhatian menjadi mudah terpecah. Konsentrasi menjadi mudah teralih karena otak terbiasa berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain secara cepat. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang sering multitasking dengan ponsel cenderung memiliki kontrol perhatian yang lebih lemah dan memori kerja yang lebih rendah. Kedua, penggunaan ponsel yang berlebihan dapat memengaruhi emosi. Informasi berlebih, tekanan sosial media, dan perbandingan sosial dapat memicu stres, cemas, atau ketidakpuasan diri.
Dari sisi biologis, menggunakan ponsel sebelum tidur juga dapat menyebabkan gangguan tidur. Cahaya biru dari layar ponsel menghambat produksi melatonin yaitu hormon yang mengatur siklus tidur.Mahasiswa yang sering menggunakan ponsel di malam hari berisiko mengalami tidur yang kurang berkualitas, dan hal ini berdampak pada performa akademik maupun kondisi emosional.
Meskipun sulit dihentikan, kebiasaan mengecek ponsel ini dapat dikendalikan dengan menerapkan beberapa strategi. Strategi tersebut seperti membatasi notifikasi, membuat jadwal screen time, menggunakan mode fokus, atau menjauhkan ponsel saat belajar dapat membantu mengurangi keterikatan. Latihan mindfulness atau teknik pengendalian diri juga dapat memperkuat prefrontal cortex sehingga dorongan impulsif lebih mudah dikontrol.
Secara keseluruhan, kebiasaan untuk selalu membuka ponsel bukan hanya disebabkan oleh faktor kebiasaan, tetapi merupakan perpaduan antara mekanisme otak, kebutuhan sosial, dan pola perilaku yang terbentuk secara bertahap. Dengan memahami proses ini, individu dapat lebih bijak menggunakan ponsel agar tetap bermanfaat tanpa mengganggu kesehatan mental maupun aktivitas sehari-hari.

