Konten dari Pengguna

Hari Nasional UMKM 2025: Spirit Bung Hatta dan Inovasi Menembus Pasar Global

Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD
Dosen di Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Nobel Indonesia kota Makassar. Saat ini juga sebagai Koordinator konsultan di UPT Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Sulawesi Selatan. Ph.D (Doctor of Philosophy in Management) di UniKL Malaysia 2025
11 Agustus 2025 13:21 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hari Nasional UMKM 2025: Spirit Bung Hatta dan Inovasi Menembus Pasar Global
Artikel tentang hari nasional UMKM yang diperingati setiap tanggal 12 Agustus setiap tahunnya. Hari Nasional UMKM lahir dari Kongres Nasional UMKM dan Temu Nasional Pendamping II (TNP II) di Yogya
Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD
Tulisan dari Bahrul ulum Ilham, SPd, MM, PhD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Logo Hari Nasional UMKM 2025 sumber : DPN Asosiasi BDS Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Logo Hari Nasional UMKM 2025 sumber : DPN Asosiasi BDS Indonesia
Indonesia kembali merayakan Hari Nasional UMKM pada Selasa, 12 Agustus 2025. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya tanggal di kalender. Namun, bagi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), momen ini adalah peneguhan komitmen untuk terus berkarya, beradaptasi, dan membawa ekonomi bangsa melaju di tengah gelombang perubahan global.
Hari Nasional UMKM lahir dari Kongres Nasional UMKM dan Temu Nasional Pendamping II (TNP II) di Yogyakarta, 25–26 Mei 2016. Pertemuan ini melahirkan Piagam Yogyakarta yang berisi tujuh komitmen strategis atau Sapta Upaya Memperkokoh Pilar-Pilar UMKM untuk Akselerasi Kemandirian Bangsa.
Tanggal 12 Agustus dipilih bukan tanpa alasan—hari ini adalah hari lahir Bung Hatta (1902), Bapak Koperasi Indonesia yang mewariskan visi ekonomi kerakyatan: ekonomi yang bertumpu pada kebersamaan, kemandirian, dan keadilan distribusi.
Sebagai salah seorang deklarator yang turut menandatangani Piagam Yogyakarta pada 2016 lalu, dokumen bersejarah yang melahirkan momentum lahirnya Hari Nasional UMKM menegaskan bahwa hari nasional (Harnas) UMKM adalah HARI KERJA, bukan hari libur. Sebagaimana hari ini kita kembali meneguhkan semangat kerja kewirausahaan dan membangun Indonesia melalui ekonomi kerakyatan.
UMKM: Kekuatan Nyata, Bukan Slogan
Di panggung global, UMKM adalah tulang punggung perekonomian. Data Bank Dunia menunjukkan 95% pelaku bisnis di dunia adalah UMKM, dengan kontribusi 35% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global dan penyerapan tenaga kerja mencapai 50%.
Di Indonesia, angka ini bahkan lebih impresif. Kementerian Koperasi dan UKM mencatat 65,4 juta unit UMKM yang mempekerjakan 114,7 juta orang atau 56% tenaga kerja nasional, menyumbang lebih dari 60% terhadap PDB nasional. Dengan skala sebesar ini, keberhasilan atau kegagalan UMKM langsung berpengaruh pada stabilitas ekonomi, tingkat kesejahteraan, dan daya beli masyarakat.
Sejarah mencatat ketangguhan UMKM. Pada krisis moneter 1998, ketika perusahaan-perusahaan besar tumbang, UMKM tetap bergerak dan menjadi penyangga ekonomi rakyat.
Kini, tantangan yang dihadapi UMKM tidak lagi sama seperti dua dekade lalu. Arus produk asing dengan harga yang semakin kompetitif memicu persaingan global yang ketat. Di saat yang sama, gelombang digitalisasi mengubah wajah distribusi dan pola konsumsi, memaksa pelaku usaha menyesuaikan cara berproduksi dan memasarkan barang. Tak kalah penting, perubahan perilaku konsumen yang kini semakin menggemari belanja daring menuntut UMKM untuk beradaptasi cepat agar tetap relevan di pasar.
Pemberdayaan UMKM pun harus bergeser dari sekadar bantuan modal menjadi strategi menyeluruh: peningkatan kapasitas produksi, branding yang kuat, sertifikasi kualitas, market access, dan adopsi teknologi.
Inovasi: Tiket Menuju Pasar Dunia
“Inovasi adalah prasyarat bagi keberlanjutan UMKM. Tanpa inovasi, kita berisiko stagnan. Dengan inovasi berkelanjutan, UMKM tidak hanya bertahan, tapi juga menjadi motor transformasi ekonomi,” ujar Bahrul.
Inovasi tidak hanya soal produk baru, tetapi juga strategi bisnis, kemitraan, dan cara pemasaran. Di era perdagangan bebas, UMKM yang mampu membaca tren, berkolaborasi lintas sektor, dan memanfaatkan teknologi akan memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional.
Tahun ini, Hari Nasional UMKM disambut di tengah tantangan ekonomi global, perubahan teknologi yang kian cepat, dan kompetisi pasar yang makin ketat.
Namun, keyakinan tetap teguh: UMKM Indonesia adalah tulang punggung ekonomi bangsa—tangguh menghadapi badai, kreatif menemukan peluang, dan berdaya membangun negeri.
Mari jadikan momentum ini untuk berkolaborasi lintas sektor, memperkuat inovasi, dan memastikan setiap pelaku usaha memiliki akses pasar, pembiayaan, serta pendampingan yang memadai.
“Bersama kita wujudkan Republik UMKM Menuju Indonesia Emas 2045—di mana UMKM tidak hanya bertahan, tetapi memimpin perubahan. UMKM Kuat, Indonesia Hebat
Trending Now