Konten dari Pengguna

Jum'atan di Masjid Sultan Singapura

Bambang Dwiyanto
Freelancer, alumni PLN
25 Agustus 2025 11:15 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Jum'atan di Masjid Sultan Singapura
Masjid selalu ramai dikunjungi, bukan hanya oleh umat Islam yang hendak menunaikan solat dan istirahat, namun juga oleh warga non muslim sebagai bagian dari kegiatan wisata atau kunjungan budaya.
Bambang Dwiyanto
Tulisan dari Bambang Dwiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jum'atan di Masjid Sultan Singapura
zoom-in-whitePerbesar
Jum'atan di Masjid Sultan Singapura (1)
zoom-in-whitePerbesar
Jum'atan di Masjid Sultan Singapura (2)
zoom-in-whitePerbesar
Bagi umat muslim yang sedang berwisata atau jalan-jalan ke Singapura, rumah ibadah yang juga menjadi destinasi wisata ni wajib untuk dikunjungi. Masjid Sultan, terletak di kampong Glam, Distrik Rochor ini terlihat ikonik dan punya sejarah panjang. Sejarahnya telah banyak diulas di berbagai media.
Posisi bangunan masjid berada di antara Muscat Street dan North Bridge Road. 10 menit berjalan kaki dari stasiun MRT Bugis.
Mulai dibangun pada tahun 1824 dan selesai 1826, masjid Sultan mengalami beberapa kali renovasi. Artinya, usia masjid sudah dua abad. Masjid dengan kubah emas yang besar dan menyolok ini berdaya tampung 2.000 jamaah.
Masjid pertama yang dibangun di Singapura ini telah menjadi salah satu obyek wisata yang sangat populer di Singapura. Pada beberapa situs yang mengulas aneka obyek wisata di negara kota tersebut, hampir selalu ditemui masjid Sultan menjadi salah satu diantaranya.
Masjid selalu ramai dikunjungi, bukan hanya oleh umat Islam yang hendak menunaikan solat dan istirahat, namun juga oleh warga non muslim sebagai bagian dari kegiatan wisata atau kunjungan budaya. Masjid ini memang terbuka bagi siapa saja. Pengelola masjid menyediakan tempat bagi pengunjung dari bagian belakang masjid untuk menikmati keindahan arsitektur masjid. Busana khusus semacam sarung juga disediakan bagi pengunjung yang bercelana pendek.
Di sekitar masjid berkembang menjadi kawasan belanja souvenir dan pusat kuliner halal. Beragam resto, rumah makan dan kedai bernuansa Timur Tengah berjajar dengan pramuniaga yang aktif menyaa dan mengajak pengunjung untuk mampir. Ada menu masakan Arab, Turki, Libanon dan juga warung Indonesia.
Pada Jum’at 15 Agustus 2025 atau 21 Safar 1447 H, saya bersama anak bungsu berkesempatan solat Jum’at di masjid Sultan. Waktu solat lohor hari itu jam 13.09. Meski secara geografis Singapura sejajar dengan daerah di waktu Indonesia barat, Singapura memiliki waktu yang sama dengan Waktu Indonesia Bagian Tengah (WITA).
Ketika masuk halaman masjid kami disambut petugas masjid yang cukup senior dengan sapaan hangat ā€œAssalamualaikumā€. Sepertinya masjid memberdayakan orang-orang usia senior untuk bertugas pada event-event khusus seperti solat Jum’at ini. Singapura memang dikenal mendorong warga lanjut usia untuk terus bekerja setelah pensiun. Usia pensiun juga dinaikkan secara bertahap, kini di angka 63 tahun. Di beberapa sektor lain juga banyak dijumpai warga usia lanjut masih terus bekerja.
Masjid hari itu penuh dengan jamaah. Lantai dua yang biasanya untuk solat kaum muslimah, pada saat solat Jum’at digunakan untuk jamaah Jum’at. Istri saya menunggu di luar, duduk di bangku-bangku yang disediakan. Banyak juga menunggu dan melihat-lihat dari situ, selain ibu-ibu juga para wisatawan yang menyaksikan ritual ibadah Jum’atan.
Yang menarik, khatib menyampaikan kutbahnya dalam bahasa Melayu. Kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris melalui layer LED yang banyak dipasang di kiri kanan jamaah. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam adalah ustaz Hanan Farihin bin Jasmani, dengan tema kutbah ā€Berkhidmat kepada insan, peroleh bantuan Tuhanā€. Isi kutbah singkat, padat dan bernas. Kita diminta untuk tidak Lelah berbuat baik bagi sesama agar memperoleh ridho dan bantuan Alloh.
Sementara di luar masjid para turis sibuk memilih souvenir yang banyak dijajakan kios-kios. Banyak juga yang makan siang di berbagai resto, cafe dan kedai. Toleransi begitu terasa di sini. Mereka saling menghargai. Dan damai dalam keberagaman. Kami berbaur dengan manusia aneka bangsa dan ras di sini.
Setelah solat Jum’at selesai, pada jam 14.00 masjid dibuka kembali bagi umum, termasuk bagi muslimah yang akan menunaikan solat lohor. Praktis sepanjang hari masjid tidak pernah sepi.
Mengutip informasi pada akun sosial medianya, masjid ini juga banyak menyelenggaraan kajian dan acara lainnya. Pada brosur ā€œMasjid Sultan Programmes Aug 2025ā€, ada program NAQRA (Nurturing Arabic and Qur’anic Reading for All, Malam Terapi Hati, Basic Salat Cource, Maulidur Rasul Series, Qiyamullail and Kuliah Subuh dan Masjid Sultan Onsite Guided Tour. Ada pula kuliah Zuhr, kuliah Asr dan kuliah Maghrib. Masjid juga dibuka untuk yang akan melaksanakan i’tikaf pada malam-malam tertentu.
Sama seperti di Indonesia yang sedang marak, qiyamullail dan kuliah subuh kemudian diakhiri dengan sarapan pagi bersama (congregational breakfast). Alhamdulillah
Ayo, berkhidmat ke masjid Sultan.
(foto-foto: koleksi pribadi saya)
Trending Now