Konten dari Pengguna

Kelistrikan Indonesia Menuju Energi Hijau

Bambang Dwiyanto
Freelancer, alumni PLN
27 Oktober 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kelistrikan Indonesia Menuju Energi Hijau
Refleksi peringatan Hari Listrik Nasional ke 80. Peringatan hari listrik mengambil momentum peristiwa nasionalisasi perusahaan-perusahaan listrik yang semula dikuasai penjajah Jepang. #userstory
Bambang Dwiyanto
Tulisan dari Bambang Dwiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gardu listrik PLN. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gardu listrik PLN. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
Tanggal 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional (HLN) dan tahun ini yang ke-80 tahun. Sebuah usia yang tidak muda lagi, bahkan bisa tergolong senja jika merujuk pada usia manusia. Usia yang mencerminkan kematangan dalam berkiprah mengelola layanan kelistrikan di Indonesia.
Peringatan hari listrik mengambil momentum peristiwa nasionalisasi perusahaan-perusahaan listrik yang semula dikuasai penjajah Jepang. Setelah direbut oleh para pemuda dan buruh listrik, perusahaan-perusahaan tersebut kemudian diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.
Selanjutnya, melalui Penetapan Pemerintah No. 1 tanggal 27 Oktober 1945, dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas yang merupakan cikal bakal PLN. Jawatan mengelola pembangkit listrik yang dimiliki saat itu dengan kapasitas total 157,5 MW. Kemudian, 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional.
Ilustrasi Petugas PLN. Foto: PLN
Berbagai pihak—seperti pemerintah selaku regulator, PLN dan perusahaan listrik swasta selaku operator, Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI), pelaku bisnis kelistrikan dan elemen masyarakat terkait—memperingati hari bersejarah ini. Berbagai event digelar: seminar, pameran, aksi sosial, dan penyalaan listrik di daerah dan lain-lain.
Tahun ini, PLN menetapkan tema peringatan yaitu PLN Transformation Towards Green, sebuah tema yang singkat, padat, dan mengena. Tema ini mencerminkan komitmen PLN dan pemerintah dalam mendorong transisi energi menuju energi hijau.
Di berbagai unit PLN di seluruh Indonesia juga mulai terlihat kemeriahan peringatan HLN. Dalam siaran persnya, PLN, melalui program bertajuk “Berbagi Cahaya, Menumbuhkan Harapan”, PLN berbagi terang hingga ke pelosok. Insan PLN turun langsung membantu masyarakat yang hingga kini masih hidup dalam gelap.
Ilustrasi PLN. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Sebagai simbol dimulainya program tersebut, PLN menyalakan listrik di 11 rumah warga prasejahtera di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Jumat (17/10) lalu. Momen haru ini menjadi penanda hadirnya terang, harapan, dan semangat baru bagi masyarakat yang sebelumnya belum menikmati akses listrik.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa program ini merupakan wujud kepedulian PLN dalam menghadirkan energi listrik yang berkeadilan di seluruh pelosok tanah air. Program ini juga menjadi kado istimewa bagi masyarakat Indonesia dalam memperingati HLN ke-80. Pada HLN ini, PLN menyalakan lebih dari 8.000 titik kehidupan baru di seluruh Indonesia.
“Menyongsong Hari Listrik Nasional, kami di PLN tidak ingin merayakannya dengan acara besar-besaran. Kami, para pegawai di seluruh indonesia bersama-sama mendukung masyarakat prasejahtera untuk dapat memiliki sambungan listrik sendiri. Hari Listrik Nasional menjadi hari yang membawa terang bagi masyarakat,” ungkap Darmawan.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo di JCC, Rabu (23/11/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
Darmawan menegaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar penyambungan listrik, melainkan bentuk nyata kepedulian dan gotong royong seluruh insan PLN agar masyarakat prasejahtera juga bisa menikmati energi listrik. “Bantuan yang berasal dari gerakan kolektif ini bukan hanya soal menyalakan listrik, tapi soal menyalakan harapan. Selama masih ada satu rumah masyarakat Indonesia yang hidup dalam kegelapan, pekerjaan kami di PLN belum selesai,” tegas Darmawan.

Sejarah Kelistrikan Indonesia

Sejarah kelistrikan Indonesia sebenarnya telah dimulai pada akhir abad ke 19, pada saat beberapa perusahaan Belanda, antara lain pabrik gula dan pabrik teh, mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Kelistrikan untuk umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu N V. Nign, yang semula bergerak di bidang gas, memperluas usahanya di bidang penyediaan listrik untuk umum.
Pada tahun 1927, pemerintah Belanda membentuk s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB), yaitu perusahaan listrik negara yang mengelola PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara, dan PLTU di Jakarta. Selain itu, di beberapa Kotapraja, dibentuk perusahaan-perusahaan listrik Kotapraja.
Suasana PLTU Pluit di Jakarta. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang dalam perang dunia 2, Indonesia dikuasai Jepang. Perusahaan listrik dan gas juga diambil alih oleh Jepang dan semua personel dalam perusahaan listrik diambil alih oleh orang-orang Jepang.
Dengan jatuhnya Jepang ke tangan Sekutu dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, kesempatan yang baik ini dimanfaatkan oleh pemuda serta buruh listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.
PLN berkembang melewati beberapa fase perubahan bentuk, hingga pada tahun 1994, sesuai PP No. 23/1994, Perusahaan Umum Listrik Negara berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara atau disingkat PT PLN (Persero).
Ilustrasi PLN. Foto: Dok: PLN
Seiring perubahan lingkungan bisnis, pada akhir tahun 2022, PLN menjadi holding company yang membawahi empat subholding yang bergerak di bidang energi primer, pembangkitan dan beyond kWh dengan tetap membina anak-anak usaha lainnya. Keempat sub holding PLN adalah PLN Energi Primer Indonesia (EPI), PLN Indonesia Power (IP), PLN Nusantara Power (NP), dan PLN Icon Plus.
Sedangkan, anak usaha PLN terdiri dari PLN Batam, PLN Nusa Daya, PLN Electricity Services (dahulu Haleyora Power), PLN Enjiniring, Energi Management Indonesia, Mandau Cipta Tenaga Nusantara, dan Majapahit Holding BV.
Kini setelah 80 tahun, kelistrikan Indonesia mencatat kemajuan yang sangat signifikan. Menurut Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), hingga semester 1 tahun 2025, tercatat kapasitas terpasang pembangkit sebesar 105 Giga Watt (GW) atau 105.000 MW. Dari jumlah ini, pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT) sebesar 15,2 GW atau 14,5 % dari total pembangkit.
Ilustrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) PLN Indonesia Power (PLN IP). Foto: PLN Indonesia Power
Sementara itu, angka rasio elektrifikasi—yang merupakan perbandingan jumlah pelanggan rumah tangga yang memiliki akses listrik dengan jumlah rumah tangga—hingga saat ini sebesar 99,83%.

Menyongsong Transisi Energi

Dalam perkembangannya, mengikuti tuntutan zaman, PLN kini tidak hanya berfokus pada penyediaan listrik, tetapi juga menaruh perhatian pada lingkungan yang berkelanjutan. Berbagai upaya dilakukan untuk mendorong transisi energi di Indonesia, mulai dari menambah kapasitas pembangkit EBT, mendorong implementasi co-firing, hingga menyediakan kebutuhan listrik bersih melalui layanan Renewable Energy Certicifate (REC).
Dirut PLN Darmawan, Prasodjo, pernah mengatakan bahwa bumi kini makin memanas. Tugas kita adalah bagaimana memastikan kehidupan generasi mendatang lebih baik dari hari ini. Melalui transisi energi, PLN terus memastikan bahwa energi yang kita gunakan tidak hanya andal, tetapi juga ramah lingkungan.
Ilustrasi gaya hidup ramah lingkungan. Foto: Shutter Stock
Transisi energi adalah usaha kita untuk beralih dari pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Transisi energi bukan hanya agenda PLN atau agenda Indonesia, tetapi telah menjadi agenda global. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi dan upaya global untuk mencari solusi mengurangi emisi karbon.
Dalam hal ini, pemerintah telah mencanangkan target emisi nol persen atau net zero emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Peta jalan untuk mencapai target tersebut telah ditetapkan, salah satunya dengan mengurangi emisi batubara.
Menurut Kementerian ESDM, tahapan penting lain dari transisi energi adalah dengan penggunaan EBT karena Indonesia memiliki potensi sumber energi yang besar, seperti surya, hidro, hingga panas bumi. Selain itu, yang tak kalah penting adalah dengan mengurangi pemakaian energi yang digunakan saat ini.
Matikan AC dan lampu saat tidak digunakan supaya rumah lebih hemat listrik. Foto: Shutterstock
Transisi energi harus mempertimbangkan dua hal utama: menjaga ketahanan energi dan mempertimbangkan affordability harga. Ketahanan energi harus dijaga agar tidak terganggu akibat pergeseran energi fosil menjadi energi hijau. Transisi energi juga harus terjaga agar harga energi juga tetap terjangkau oleh masyarakat.
Transisi energi membutuhkan dukungan semua orang dengan efisiensi energi, khususnya untuk penggunaan energi yang sifatnya konsumtif.
PLN selaku stakeholder utama kelistrikan harus menjadi motor utama untuk menjalankan berbagai langkah dan strategi percepatan transisi energi. Darmawan menegaskan bahwa PLN siap menjalankan seluruh ketentuan di rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) yang telah disusun sebagai peta jalan transformasi sistem kelistrikan nasional menuju arah yang lebih hijau, adil, dan berkelanjutan.
Ilustrasi PLN. Foto: Dok: PLN
Di sisi lain, Yayasan Pendidikan dan Kesejahteraan PLN (YPK PLN) memiliki perguruan tinggi yang fokus terhadap transisi energi, yaitu Institut Teknologi PLN (ITPLN). Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki tugas utama untuk menjalankan tri dharma perguruan tinggi, yaitu dharma pendidikan, dharma penelitian, dan dharma pengabdian masyarakat.
Dalam konteks transisi energi, perguruan tinggi dapat menggunakan ketiga dharma tersebut untuk berkontribusi pada program transisi energi. Berbagai langkah penyesuaian perlu dilakukan perguruan tinggi untuk menyongsong era transisi energi yang sudah berada di depan mata. ITPLN, sebagai kampus dengan embel-embel PLN di belakang namanya, wajib terus memperkuat posisinya sebagai kampus yang fokus pada transisi energi.
Sebagaimana dunia industri yang dalam operasional maupun bisnisnya dirancang selaras dengan upaya transisi energi, termasuk pengurangan emisi karbon hingga pengembangan EBT, dunia pendidikan juga perlu merancang aktivitas tri dharma nya agar selaras dengan transisi energi pula.
Ilustrasi Universitas. Foto: Shutterstock
Pertama, dharma pendidikan. Perguruan tinggi perlu menyesuaikan kurikulumnya dengan tuntutan era transisi energi ke depan. Era ini menuntut sumber daya manusia yang berwawasan lingkungan, bersikap keberlanjutan, dan berjiwa energi terbarukan.
Kurikulum lawas yang condong ke eksploitasi energi fosil perlu disesuaikan dengan rajin-rajin menengok apa yang dilakukan dunia industri. Industri energi yang begitu agresif menekan emisi karbon dalam aktivitasnya perlu dijadikan rujukan lembaga pendidikan tinggi dalam proses pembelajarannya.
Kedua, dharma penelitian. Perguruan tinggi perlu menggali lebih dalam aspek-aspek transisi energi sebagai objek penelitian untuk menghasilkan temuan, sehingga program transisi energi berjalan lebih cepat tanpa merugikan masyarakat selaku pengguna energi, baik untuk keperluan produktif maupun konsumtif.
Ilustrasi penelitian di laboratorium. Foto: ITB.
Sebagaimana dikatakan di atas bahwa transisi energi harus memperhatikan dua hal utama yaitu ketahanan energi dan affordabilitas harga. Perlu dikawal agar proses transisi energi tidak membuat harga energi menjadi mahal sehingga tidak terjangkau oleh masyarakat. Hasil penelitian dari perguruan tinggi sangat ditunggu kalangan industri untuk mengeksekusi program transisi energi.
Terakhir, dharma pengabdian masyarakat. Lembaga pendidikan tinggi bisa melakukan pendampingan dan supervisi kepada masyarakat untuk mengeksplorasi potensi lokal khususnya energi terbarukan agar bisa dikembangkan dan segera bermanfaat bagi masyarakat. Sivitas perlu memahami betul potensi energi terbarukan setempat untuk dijadikan agenda dalam program pengabdian masyarakat.
Pada akhirnya, tugas perguruan tinggi adalah mencetak sumber daya manusia berkarakter, kompeten, terampil, dan unggul. Kalangan industri menunggu lulusan perguruan tinggi untuk mengeksekusi program-program transisi energi demi kemaslahatan bumi.
Selamat Hari Listrik Nasional. Dirgahayu Kelistrikan Indonesia.
Trending Now