Konten dari Pengguna
Aku Kerja 60 Jam Seminggu, Tapi Dipanggil 'Anak Muda Harus Semangat'
6 Oktober 2025 13:14 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Aku Kerja 60 Jam Seminggu, Tapi Dipanggil 'Anak Muda Harus Semangat'
Kerja lembur tiap hari, tapi disebut kurang semangat? Ini wajah nyata burnout generasi muda di tengah budaya kerja toxic yang masih memuja kelelahan.Bambang Riyadi
Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekan lalu, seorang teman menulis status singkat di Instagram Story:
"Baru pulang jam 1 pagi. Meeting Zoom sampai mata perih. Tapi tadi siang atasan bilang, ‘Kamu anak muda, harusnya energik!’"
Di kolom komentar, ratusan orang membanjiri dengan emoji nangis dan tanda hati. Bukan karena lucu. Tapi karena terlalu nyata.
Kita hidup di era di mana bekerja 60 jam seminggu bukan lagi ekstrem — tapi normal. Di mana kelelahan dijadikan ukuran kesetiaan, dan kalimat “Anak muda harus semangat!” digunakan untuk membungkam keluhan.
Padahal, di balik layar laptop yang menyala hingga subuh, ada tubuh yang remuk, jiwa yang lelah, dan hati yang bertanya:
“Untuk apa semua ini?”
🔥 Budaya 'Semangat' yang Sebenarnya Toxic
Kalimat “Kamu masih muda, harus semangat!” terdengar seperti dorongan positif. Tapi dalam konteks kerja, kalimat itu sering menjadi alat normalisasi eksploitasi.
Bayangkan:
Ini bukan semangat. Ini gaslighting struktural.
Sebuah survei oleh Indonesia Millennial Workforce Report (2023) menunjukkan:
Dan siapa yang paling sering mendengar kalimat “harus semangat”?
Bukan manajer senior. Bukan direktur. Tapi anak-anak muda di lini bawah yang dibayar pas-pasan, tapi diminta bekerja seperti mesin.
⏳ WFH yang Tidak Melepas, Tapi Mengikat Lebih Erat
Dulu, kita pikir kerja dari rumah akan memberi lebih banyak fleksibilitas. Nyatanya?
WFH justru mengaburkan batas antara kerja dan hidup.
Tidak ada lagi ritual “pulang kerja”. Tidak ada lagi jeda perjalanan yang bisa jadi waktu melepas stres. Sekarang, begitu meeting selesai, langsung muncul notifikasi:
“Boss: Tolong cek email ini dulu ya, urgent.”
Padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 malam — dan kamu belum makan malam.
Menurut data dari APJII (2024), 57% pekerja remote mengaku bekerja lebih dari 10 jam/hari, dan 41% merasa “tidak enak” jika tidak membalas pesan di luar jam kerja.
Hasilnya?
Produktivitas tidak naik. Yang naik hanya tingkat stres.
🧠 Burnout Bukan Aib — Tapi Alarm Bahaya
Burnout bukan tanda lemah. Ia adalah reaksi alami tubuh ketika dipaksa terus berjalan tanpa istirahat.
Dr. Christine Maslach, pakar burnout dari UC Berkeley, mendefinisikannya sebagai:
Artinya:
Namun, budaya kerja kita masih menganggap burnout sebagai aib. Padahal, di negara-negara seperti Swedia atau Belanda, work-life balance dijamin secara struktural — cuti panjang, jam kerja fleksibel, dan atasan yang tidak seenaknya DM di malam hari.
Sementara di sini?
Masih ada yang bangga bilang:
“Aku nggak libur seminggu, tapi tetap produktif!”
Seolah-olah kehancuran diri adalah prestasi.
🚩 Saatnya Stop Memuja Kelelahan
Kita perlu mengubah narasi.
Bukan “Siapa paling semangat?”
Tapi:
Beberapa langkah kecil yang bisa dimulai:
Dan bagi para pemimpin:
Kalau Anda benar-benar peduli pada tim, jangan puji yang lembur — puji yang selesai tepat waktu tanpa stres.
✍️ Penutup: Semangat Bukan Soal Kuat Menahan, Tapi Bijak Merawat Diri
Kita tidak lahir untuk menjadi baterai yang habis dipakai demi target perusahaan.
Kita lahir untuk hidup — bukan sekadar bertahan.
Jadi, jika suatu hari kamu merasa lelah, jangan dengarkan suara yang menyuruhmu “semangat terus”.
Dengarkan suara yang lebih penting:
Suara tubuhmu yang berkata, “Aku butuh istirahat.”
Karena semangat sejati bukan yang terus berlari tanpa henti.
Tapi yang berani berhenti, bernapas, lalu melanjutkan — dengan lebih sehat.

