Konten dari Pengguna
Punya 2.000 Follower, Tapi Nggak Ada yang Bisa Diajak Curhat
7 Oktober 2025 14:12 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Punya 2.000 Follower, Tapi Nggak Ada yang Bisa Diajak Curhat
Followernya banyak, feed-nya aesthetic, tapi hatinya sepi. Di balik layar, banyak anak muda urban hidup dalam kesepian yang tak terlihat.Bambang Riyadi
Tulisan dari Bambang Riyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, saya menerima DM dari seseorang yang tidak saya kenal baik. Isinya bukan promosi atau spam. Hanya satu kalimat:
"Aku sering nangis malem-malem, tapi feed-ku selalu aesthetic."
Saya diam. Tidak tahu harus jawab apa.
Tapi kalimat itu terngiang-ngiang β karena terlalu familiar.
Di era di mana jumlah follower bisa jadi ukuran "kesuksesan sosial", makin banyak anak muda yang hidup dalam paradoks:
Dunia maya penuh orang. Dunia nyata? Sepi.
π Ironi Koneksi: Makin Terhubung, Makin Kesepian
Lihat saja timeline kita.
Ada yang lagi liburan ke Jepang. Ada yang dinner di rooftop Jakarta. Ada yang baru nikah, punya bayi, dapat promosi. Semua terlihat⦠sempurna.
Tapi coba tanya:
Siapa di antara mereka yang benar-benar kamu ajak bicara saat kamu hancur?
Siapa yang kamu telepon jam 2 pagi hanya untuk ditemani diam-diam lewat suara?
Banyak dari kita memiliki 2.000, 5.000, bahkan 10.000follower β tapi saat butuh tempat curhat, jari berhenti di atas kontak. Karena takut jadi beban. Karena malu. Karena merasa, "Ah, hidup mereka kayaknya udah perfect, pasti nggak bakal ngerti aku."
Padahal, kemungkinan besar β mereka juga sedang sepi.
π Data yang Mengejutkan: Kesepian Jadi Epidemi Generasi Muda
Kesepian bukan sekadar perasaan. Ia sudah menjadi epidemi kesehatan publik, terutama di kalangan urban.
Menurut survei LIPI (2023):
Dan ironisnya, media sosial β yang seharusnya menyambungkan β justru memperparah rasa terasing.
Studi dari The Lancet Psychiatry (2022) menunjukkan bahwa semakin sering seseorang membandingkan hidupnya dengan konten media sosial, semakin tinggi risiko merasa tidak cukup baik, tidak dicintai, dan tidak penting.
Kita bukan hanya melihat highlight reel orang lain.
Kita juga dipaksa menjadi highlight reel diri sendiri.
π Hidup Seperti Teater: Saat Feed Lebih Nyata daripada Diri Sendiri
Bayangkan:
Kenapa?
Karena kita belajar: yang dibagikan adalah yang "layak ditonton" β bukan yang "benar-benar dirasakan".
Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (2024) menemukan bahwa 61% pengguna Instagram usia 18β30 tahun mengaku sengaja menyembunyikan kondisi mental buruk demi menjaga citra online.
Akibatnya?
Kita hidup dalam lingkaran setan:
Posting β dapat like β merasa valid β butuh lebih banyak validasi β sembunyikan rasa sakit β makin kesepian β butuh lebih banyak posting.
Dan siapa yang paling rentan?
Anak-anak kota. Anak Jaksel, Bandung, Surabaya β yang tumbuh di budaya "terlihat baik" lebih penting daripada "merasa baik".
π€ Teman vs. Teman Online: Perbedaan yang Menyelamatkan
Teman sejati bukan yang like story-mu.
Teman sejati adalah yang:
Tahu kapan kamu pura-pura kuat.
Mau datang tengah malam bawa bubur saat kamu sakit.
Tidak langsung kasih solusi, tapi bilang: "Aku di sini."
Masalahnya?
Persahabatan dalam kedalaman mulai langka.
Kita punya banyak teman online, tapi sedikit tempat pulang emosional.
Dan ketika tidak ada ruang aman untuk berkata, "Aku capek," maka rasa sakit itu akan mencari jalan lain:
π οΈ Bagaimana Harusnya? Mulai dari Hal Kecil
Kita tidak bisa langsung mengubah sistem. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri:
βοΈ Penutup: Kesepian Bukan Aib. Dan Kamu Tidak Sendiri
Kalau kamu membaca ini sambil menahan air mata,
dengar baik-baik:
Kamu tidak gagal karena merasa sepi.
Kamu tidak lemah karena butuh orang lain.
Kamu manusia β dan manusia memang butuh koneksi.
Followernya boleh sedikit.
Feed-nya boleh berantakan.
Yang penting:
Ada satu orang yang tahu versi aslimu.
Dan jika belum adaβ¦
Mulailah dari memberi ruang pada dirimu sendiri untuk jujur.
Karena curhat bukan beban.
Curhat adalah cara kita bertahan hidup β
di tengah kota yang ramai, tapi terasa begitu sunyi.

