Konten dari Pengguna
Zohran Mamdani dan Revolusi Sosialis di New York
8 Juli 2025 15:58 WIB
Ā·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Zohran Mamdani dan Revolusi Sosialis di New York
Ketika New York mulai memberikan contoh perubahan besar dan politik mereka, di Indonesia malah kita maju mundur soal pemilu serentak dan pemilu dipisah. Ternyata kita masih mengurus soal waktu.Robby Patria
Tulisan dari Robby Patria tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

āKita telah membuktikan bahwa harapan lebih kuat daripada ketakutan, dan bahwa masa depan kota ini ditentukan bukan oleh segelintir elite, tapi oleh jutaan rakyat biasa yang tak lelah bermimpi dan berjuang.ā (Mamdani)
Usianya masih muda. Baru 33 tahun kini disebut sebut akan memenangkan pemilihan wali kota New York, Amerika Serikat. Jika menang, maka dia wali kota beragama Muslim pertama di kota dengan biaya hidup termahal di dunia.
Menariknya Mamdani yang berlatar belakang sosial demokrat ini adalah penantang utama Donald Trump. Supaya program Trump mengusir imigran tidak terjadi di New York. Dengan pengalaman tiga periode anggota parlemen, Mamdani akan menantang calon dari Partai Demokrat lainnya yakni mantan Gubernur New York Andrew Cuomo untuk masuk dalam tiket Demokrat.
Ketika menjadi anggota parlemen, dia menjanjikan akan membuat 20 undang undang pada saat kampanye, namun baru terealisasi tiga undang undang saja. Melalui jejak pendapat, Mamdani menang 52 persen dan 48 persen untuk Cuomo. Mengapa penduduk New York tertarik dengan calon wali kota Muslim yang masih muda itu?
Jawabannya singkat saja. Mamdani menawarkan program-program yang mudah dipahami warga. Seperti tiket bus gratis, penitipan anak gratis untuk usia anak 6 minggu, menekan biaya sewa rumah di New York yang selama ini mahal.
Dari mana duitnya? Tentu pertanyaan yang harus dijawab? Mamdani mengatakan jika dia menang akan menaikkan pajak untuk kalangan 1 persen penduduk kaya di New York dan pajak-pajak perusahaan besar di sana.
Rencana pendapatan Zohran Mamdani akan menaikkan tarif pajak perusahaan agar sesuai dengan tarif pajak New Jersey sebesar 11,5%, sehingga menghasilkan $5 miliar.
"Dan ia akan mengenakan pajak tetap sebesar 2% kepada 1% warga New York terkaya mereka yang berpenghasilan di atas $1 juta per tahun (saat ini tarif pajak pendapatan kota pada dasarnya sama, baik Anda berpenghasilan $50.000 atau $50 juta," katanya di situs web kampanye yang mereka kelola.
Misalnya selama ini pajak pajak yang kaya dan miskin sama saja. Nanti tidak. Yang kalangan kaya akan dikenakan pajak lebih besar.
Di mana dana itulah yang akan dipakai untuk membiayai program program kampanye seperti tiket bus gratis dan program program pro kerakyatan. menjadikan biaya bus gratis, membuat toko kelontong milik kota yang berfokus pada menjaga harga tetap rendah, bukan mencari untung.
Di kota yang tengah berjuang dengan keterjangkauan perumahan, Mamdani berencana untuk merombak kantor Wali Kota untuk menuntut pemilik bertanggung jawab atas kondisi bangunan mereka, dan berjanji untuk melipatgandakan produksi rumah yang terjangkau secara permanen, dibangun oleh serikat pekerja, dan dengan harga sewa yang stabil.
Tentu ide sangat progresif mendapatkan respons positif dari warga. Tak heran anak profesor di Universitas top Amerika itu banyak mendapatkan dukungan dari 27 ribu relawan dan donatur.
Mamdani tercatat memiliki dukungan relawan terbesar dalam sejarah politik New York. Dia kini mendapatkan dukungan puluhan ribu relawan. Saya harus mengangkat telepon untuk lebih dari 20.000 warga New York yang menyumbangkan sumbangan rata-rata sekitar $80 untuk memecahkan rekor penggalangan dana dan menempatkan kampanye kami di posisi kedua," kata politisi kelahiran Uganda itu di Majalah Time.
Revolusi Politik New York
Sebagai kandidat Wali Kota New York, Ia perlu memastikan kemenangan elektoral yang menghasilkan perbaikan nyata dalam kehidupan masyarakat. Banyak harapan masyarakat New York menggantungkan harapan kepadanya.
Kemenangan Mamdani dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat di New York City sebagai penegasan bahwa politik progresif, jika dijalankan dengan disiplin, visi, dan semangat, dapat bergema secara luas bahkan di kota yang dikenal dengan struktur kekuasaannya yang kuat.
Karena di New York, Bamdani berhasil mengalahkan Cuomo, mantan gubernur yang sebelumnya memposisikan dirinya sebagai favorit yang sangat kuat didukung Partai Demokrat. Cuomo juga didukung oleh jutaan orang dari kepentingan perusahaan, super PAC,dan donor miliarder seperti Michael Bloomberg dan Bill Ackman.
Menurut Bhaskar Sunkara, Presiden The Nation, dan penulis The Socialist Manifesto, Mamdani memiliki bakat politik yang berakar pada karisma yang sejati. Kefasihannya dalam berbahasa, kejelasan tujuan, dan keasliannya memungkinkannya untuk berbicara dengan meyakinkan kepada para pemilih dari berbagai latar belakang. Ia bukan sekadar aktivis-politisi biasa; ia membuktikan dirinya sebagai pemimpin alami seseorang yang mampu mengomunikasikan kebenaran moral tanpa terdengar moralistik.
Politikus muda di Indonesia setidaknya bisa meniru Mamdani yang sukses menjalani visi serta misinya untuk merebut dukungan warga New York dengan menggunakan sumbangan dana kampanye warga bukan dari sponsor sponsor oligarki.
Mamdani mengalahkan petahana Eric Adams dalam pemilihan yang berlangsung ketat. Meskipun Adams tetap populer di kalangan pemilih moderat dan institusi bisnis, kampanyenya dianggap gagal menjawab kebutuhan mendesak warga pasca-pandemi, seperti meningkatnya tunawisma dan biaya hidup yang melonjak.
Debat publik antara Mamdani dan Adams menjadi momen penting, di mana Mamdani secara konsisten menawarkan solusi konkret dan menyuarakan ketidakpuasan rakyat terhadap kebijakan lama yang dianggap tidak memihak warga biasa.
Simbol Perubahan Politik Urban
Kemenangan Mamdani mencerminkan perubahan arus besar di kota-kota besar Amerika, di mana gerakan progresif mulai menantang dominasi politik korporat. New York, dengan keragamannya yang kompleks, kini punya pemimpin dari kalangan yang benar-benar mencerminkan kehidupan warganya sehari-hari.
Meski kemenangan ini monumental, tantangan besar menanti. Mamdani harus menghadapi Dewan Kota yang masih bercampur antara kelompok progresif dan moderat, serta tekanan dari pelaku bisnis besar dan media konservatif. Namun, dengan mandat rakyat yang kuat dan gerakan akar rumput yang terus berkembang, peluang untuk merealisasikan visinya terbuka lebar.
Zohran Mamdani tidak hanya akan memenangkan jabatan Wali Kota, ia memenangkan kepercayaan rakyat yang mendambakan perubahan nyata. Kini, dunia menanti bagaimana seorang aktivis komunitas akan memimpin kota paling ikonik di dunia menuju masa depan yang lebih adil dan inklusi. Kemenangan Zohran Mamdani atas lawannya bukan sekadar kemenangan politik. Ini adalah pernyataan keras: kapitalisme telah gagal. New York telah berubah menjadi taman bermain eksklusif bagi investor real estate dan oligarki global. Apartemen kosong dibeli sebagai aset, bukan tempat tinggal. Harga sewa naik gila-gilaan, tunawisma meningkat, dan gaji pekerja tak pernah cukup menutup kebutuhan hidup dasar.
Di tengah itu, narasi kapitalis masih dijajakan, tapi warga tidak lagi bodoh. Mereka melihat siapa yang mendapat keuntungan, dan siapa yang harus bekerja dua pekerjaan hanya untuk bertahan hidup.
Mamdani tidak menawarkan ilusiāia menawarkan realitas alternatif: bahwa perumahan bisa jadi hak, bukan komoditas; bahwa transportasi harus gratis, bukan ladang laba; bahwa pajak harus membiayai rakyat, bukan menyejahterakan yang sudah kaya.
Generasi Baru, Kesadaran Baru
Anak muda di New York tumbuh di tengah kebohongan neoliberal: bahwa kerja keras akan membuahkan hasil, bahwa pendidikan mahal sepadan dengan penghasilan, bahwa āinvisible handā pasar akan membawa keadilan. Hari ini, mereka punya gelar, utang pendidikan, dan pekerjaan bergaji minimum.
Mereka tidak mencari retorika kosongāmereka mencari sistem baru. Dan ketika Mamdani menyebut dirinya āsosialisā, mereka tidak mundur. Mereka maju. Karena label itu bukan lagi momok, melainkan satu-satunya narasi politik yang mengakui bahwa sistem kapitalis di AS saat ini memang rusak.
Lawan-lawan Mamdani baik dari kanan maupun liberal Tengah berusaha mengecapnya ekstrem, utopis, berbahaya. Tapi bagi rakyat New York yang sehari-hari menghadapi gentrifikasi, brutalitas polisi, dan kemiskinan struktural, yang ekstrem justru adalah status quo.
Mamdani tidak menjanjikan revolusi berdarah. Ia menjanjikan reformasi radikal yang berakar pada keadilan kelas, ras, dan lingkungan. Ia tidak bersandar pada modal kampanye jutaan
dolar, tapi pada kekuatan komunitas, penyewa, pekerja, dan anak muda yang tahu bahwa perubahan tidak akan datang dari atas. Pilihan rakyat New York adalah tamparan bagi elite politik yang selama ini menjanjikan jalan tengah. Masyarakat tidak ingin kompromi. Mereka ingin pemimpin yang berpihak. Dan itulah mengapa Mamdani menang.
Kemenangan Mamdani bukan akhir, tapi pembuka bab baru. Sebab kekuasaan di kota itu tidak akan dilepaskan tanpa perlawanan. Kapital besar, media korporat, dan politikus status quo akan mencoba menenggelamkannya.
Tapi satu hal telah berubah rakyat tahu bahwa mereka punya pilihan. Dan ketika rakyat sadar bahwa mereka berhak marah, berhak menuntut, dan berhak memimpin sistem lama mulai runtuh dari dalam.

