Konten Media Partner

Kembali Sebagai Kaum Beriman

20 Juli 2018 11:49 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:07 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kembali Sebagai Kaum Beriman
zoom-in-whitePerbesar
Penulis: Pribakti B (Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan Dokter RSUD Ulin Kota Banjarmasin). Opini ini tulisan pribadi yang dikirim untuk banjarhits.id.
Banjarhits.id - Ketika orang masih dapat mengandalkan kemampuannyaโ€”akal pikiran, ilmu pengetahuan, kekayaan dan kekuasaannya-โ€“ lalu lupa kepada Tuhan yang memberinya kemampuan, mungkin masih wajar. Tapi sungguh keterlaluan dan tidak bisa dimengerti bila orang sudah tak bisa lagi mengandalkan apa-apa, lalu tidak kembali kepada Tuhannya. Orang mukmin sejatinya justru tak berani mengandalkan dirinya, meski memiliki kemampuan.
Ia mengerahkan kemampuan hanya sebagai ikhtiar, sesuatu yang diperintahkan Tuhannya, tanpa kehilangan keyakinan sedikitpun bahwa ikhtiarnya akan berhasil apabila Tuhan menghendaki.
Indonesia dan Bangsa Indonesia, terlebih seperti dewasa ini ketika menjelang pileg dan pilpres tahun 2019 semakin bermasalah. Hampir semua orang di negeri ini punya masalah. Mereka yang berkeluarga, punya masalah dengan keluarga atau kekeluargaan mereka. Mereka yang memerintah, punya masalah dengan pemerintahan atau perintahnya. Mereka yang berwenang, punya masalah dengan wewenang atau kewenangannya.
Lalu mereka yang berusaha, punya masalah dengan usaha atau perusahaannya. Mereka yang bekerja , punya masalah dengankerja atau pekerjaan mereka. Mereka yang berpikir, punya masalah dengan pikiran atau akal pikiran mereka. Mereka yang berpolitik, punya masalah dengan politik atau perpolitikan mereka. Mereka yang bergaul, punya masalah dengan pergaulan atau gaulnya.
Demikian seterusnya hingga mereka yang beragama pun, masih punya masalah dengan agama atau keagamaan mereka. Belum lagi masalah-masalah yang muncul dari letupan-letupan kejengkelan alam terhadap perilaku manusia. Dan masalah-masalah itu bagai percikan api yang dapat, dan bahkan sudah menimbulkan kobaran sosial yang mengkhawatirkan banyak orang.
Konon, dahulu bangsa Indonesia dikenal kaum beriman. Mestinya dalam kondisi seperti sekarang, bangsa Indoensia sudah harus kembali kepada pribadinya sebagai kaum beriman. Kaum yang tidak hanya menyadari kekhalifahannya, tapi kehambaannya. Tidak kaum yang hanya percaya dan mengandalkan akal pikirannya saja. Coba dipikir: mengandalkan teori-teori pakar politik/sosial/ ekonomi saja, , nyatanya hanya mendapat tenaga kerja asing, saabeban utang dan rasa sungkan.
Mengandalkan improvisasi petinggi negara, malah menyuburkan protes dan demonstrasi. Mengandalkan politisi? Ha ha ha! Bangsa Indonesia sudah saatnya harus menoleh kepada sila pertama Pancasilanya. Harus kembali kepada Tuhannya Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Boleh jadi banyak yang sudah โ€œkembaliโ€ kepadanya, namun agaknya sudah salah jalan, tersesat entah kemana. Jangankan mereka yang sehari-hari memang lebih akrab dengan dunia ketimbang Tuhan mereka. Sedangkan mereka yang tidak akrab dengan dunia dan terpaksa harus mengakrabi akhirat pun, karena sudah terbiasa berpikir secara dunia, sulit beranjak dari tempatnya menuju kepada-Nya. (Bukankah sangat ironis, bom dirakit dan diledakkan oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam, agama yang berintikan akhlak dan kasih sayang?)
Maka, jika setuju bagaimana kalau kita kembali kepadaNya dengan cara yang diajarkan para arif. Yaitu dengan pertama-tama, masing-masing kita, terutama para pemimpin atau yang terlanjur dianggap pemimpin atau yang mengaku pemimpin mulai mengingat-ingat dosa masing-masing (jangan mengingat-ingat dosa orang lain, biar dia mengurusi sendiri dosanya!), lalu benar-benar menyesalinya dan kemudian memohon ampun.
Mereka yang merasa berdosa kepada Allah segera bersimpuh mohon ampunanNya. Mereka beristigfar dengan tulus dan berjanji tidak mengulangi kesalahan. Allah Maha Pengampun, terutama kepada mereka yang mengakui dosa.
Mereka yang mempunyai kesalahan terhadap sesama, segera mengaku dan meminta maaf kepada yang bersangkutan. Apabila kesalahan itu berupa pelanggaran hak-hak, segera minta keikhlasan dan penghalalannya. Misalnya, bila ada yang pernah memakan harta saudaranya, segera menemui dan meminta keikhlasannya.
Apabila seorang pejabat pernah memakan harta rakyat sekian miliar, umumkan saja di media publik (karena tidak mungkin mendatangi rakyat satu persatu), misalnya begini:
โ€œSaya Fulan bin Anu, pernah atau sedang menjadi sebagai Anu. Dengan ini saya nyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa saya pernah mendapatkan cobaan memakan harta Anda sekalian, rakyat Indonesia, sekian miliar. Separo dari harta itu sudah habis saya makan bersama orang-orang dekat saya. Yang separo sudah saya kembalikan kepada kas negara dan yang separo lagi saya mohon keikhlasan Anda semua untuk menghalalkannya. Sungguh bila mau demikian, maka saya bersedia mengajak para kawan saya untuk berkampanye memohon kepada rakyat untuk mengikhlaskan dan menghalalkannya demi Indonesia!โ€
Saya membayangkan, bila bangsa Indonesia mau melakukan pertobatan itu bersama-sama atau sendiri secara serempak, wahmantab. Karena hal ini tidak hanya akan bermanfaatkan bagi semua , tetapi terutama juga bagai masing-masing yang melaksanakannya. Insya Allah.
Trending Now