Konten dari Pengguna

Bayang Feodalisme di Balik Dunia Pesantren: Antara Tradisi dan Transformasi

Banyu Ma'ruf
Mahasiswa Prodi Perbandingan Madzhab Fakultas Syari'ah dan Hukum di UIN Jakarta
26 Desember 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bayang Feodalisme di Balik Dunia Pesantren: Antara Tradisi dan Transformasi
Bayang feodalisme di balik dunia pesantren: Antara tradisi dan transformasi. Pesantren perlu bertransformasi; menjaga wibawa kiai, sekaligus membuka kanal musyawarah dan koreksi internal. #userstory
Banyu Ma'ruf
Tulisan dari Banyu Ma'ruf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi pesantren. Ilustrasi dibuat oleh pengguna dengan bantuan AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pesantren. Ilustrasi dibuat oleh pengguna dengan bantuan AI

Pesantren, Hormat, dan Dinamika Kuasa

Di benak banyak orang, pesantren identik dengan kesederhanaan, keikhlasan, dan adab santri kepada kiai. Hubungan kiai-santri sering digambarkan sebagai relasi penuh cinta ilmu: santri sowan, mencium tangan, dan patuh terhadap nasihat guru. Di ruang publik, pesantren dipuji sebagai benteng moral dan penjaga tradisi keilmuan Islam di tengah perubahan sosial yang serba cepat.
Namun, di balik narasi ideal itu, ada dinamika kuasa yang tidak selalu dibicarakan secara terbuka. Ketika penghormatan berubah menjadi ketakutan, ketika kepatuhan menutup ruang kritis, dan ketika figur kiai menjadi pusat segala keputusan, muncul pertanyaan: Apakah di sana bersemayam bayang-bayang feodalisme yang perlu dibaca ulang? Pertanyaan inilah yang penting diajukan; bukan untuk menjatuhkan pesantren, melainkan untuk merawatnya agar tetap relevan dan adil bagi semua yang ada di dalamnya.

Apa yang Dimaksud Bayang Feodalisme di Pesantren?

Istilah feodalisme biasanya dipakai untuk menggambarkan struktur sosial yang bertumpu pada kekuasaan segelintir elite, patronase, dan kepatuhan yang hampir tanpa ruang bantahan. Dalam konteks modern, feodalisme dapat hadir dalam bentuk relasi yang terlalu hierarkis di mana suara pihak bawah sulit naik ke atas dan kritik mudah dilabeli sebagai pembangkangan.
Dalam beberapa praktik, pola seperti ini bisa muncul di lingkungan pesantren. Figur kiai bukan hanya sebagai guru agama, melainkan juga sebagai pengendali penuh hampir semua aspek: dari kurikulum hingga urusan pribadi santri dan pengurus.
Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock
Ada situasi ketika keputusan kiai dianggap final dalam segala hal, meski menyentuh ranah yang seharusnya bisa dimusyawarahkan bersama. Di titik ini, penghormatan yang semula bernilai ibadah berpotensi bergeser menjadi pola relasi yang feodal.

Adab, Sanad, dan Otoritas Keilmuan

Tentu tidak adil jika setiap bentuk kepatuhan santri langsung diberi label feodalisme. Dalam tradisi pesantren, penghormatan kepada kiai berakar pada konsep adab dan sanad keilmuan. Santri diajarkan bahwa ilmu tidak hanya pindah lewat teks, tetapi juga melalui keteladanan guru yang menjaga akhlak, lisan, dan amanah.
Otoritas kiai juga tidak muncul begitu saja, melainkan dibangun dari perjalanan panjang belajar, ijazah dari guru-guru sebelumnya, dan pengabdian kepada masyarakat. Kiai menjadi rujukan bukan sekadar karena posisinya di struktur lembaga, melainkan juga karena kedalaman ilmunya. Dalam banyak kasus, kiai tampil sebagai figur yang membela kaum lemah, memediasi konflik warga, dan menggerakkan solidaritas sosial. Sisi inilah yang membuat pesantren tetap dipercaya publik hingga hari ini.

Ketika Tradisi Bergeser Menjadi Pola Feodal

Masalah mulai muncul ketika otoritas keilmuan berubah menjadi otoritarianisme sosial. Ada gejala di mana kritik ilmiah dari santri atau alumni dianggap kurang ajar, sekalipun disampaikan dengan bahasa sopan dan berbasis dalil. Di beberapa tempat, penunjukan posisi penting di lingkungan pesantren lebih banyak ditentukan oleh kedekatan emosional daripada kapasitas dan integritas.
Ilustrasi pesantren Foto: Getty Images
Santri atau alumni yang mencoba menawarkan pembaruan sering kali merasa terpinggirkan, bahkan dicap tidak setia. Dalam suasana seperti ini, budaya dialog melemah, sementara budaya “asal ikut saja” menguat. Pola demikian tidak hanya merugikan santri, tetapi juga pesantren itu sendiri karena menutup kesempatan lahirnya ide-ide segar yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman.

Tantangan Zaman: Transparansi dan Suara Santri

Konteks hari ini berbeda dengan masa lalu. Santri hidup berdampingan dengan gawai, media sosial, dan wacana tentang hak asasi manusia, perlindungan anak, dan akuntabilitas lembaga. Kasus-kasus kekerasan, perundungan, atau penyalahgunaan otoritas di lembaga pendidikan semakin sering diangkat ke ruang publik. Hal ini juga—disadari atau tidak—ikut menyoroti pesantren sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nasional.
Tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas pun makin kuat. Pesantren didorong untuk membenahi tata kelola: dari pengelolaan keuangan, mekanisme pengaduan, hingga sistem rekrutmen pengajar dan pengurus.
Di sisi lain, santri generasi baru semakin berani menyuarakan pengalaman dan kegelisahannya, baik lewat forum internal maupun kanal digital. Jika tidak direspons dengan bijak, suara-suara ini malah bisa menjauhkan santri dari pesantren, padahal mereka adalah aset masa depan lembaga.

Dari Takut Kiai ke Dialog dengan Kiai

Ilustrasi pemuka agama saat memberikan ceramah. Foto: Getty Images
Dalam situasi ini, yang dibutuhkan bukan penggulingan wibawa kiai, melainkan penataan ulang cara memaknai penghormatan dan ketaatan. Santri tetap diajarkan adab, tetapi juga diberi ruang untuk bertanya, berdiskusi, bahkan berbeda pandangan dalam koridor ilmu. Menghormati guru tidak boleh diartikan sebagai pembenaran terhadap semua hal secara buta.
Generasi muda pesantren yang belajar fikih, hukum, dan ilmu sosial dapat menjadi jembatan antara tradisi dan tuntutan zaman. Mereka dapat membantu merumuskan mekanisme musyawarah, kode etik internal, dan tata kelola yang lebih terbuka, tanpa mencabut akar-akar keikhlasan dan kesederhanaan pesantren. Dengan begitu, relasi kiai–santri bergerak dari sekadar hubungan satu arah menjadi ruang dialog yang saling menguatkan.

Pesantren Adil, Pesantren Berdaya

Membicarakan “bayang feodalisme” di pesantren tidak berarti menuduh semua pesantren feodal, tetapi mengajak melakukan muhasabah bersama. Lembaga yang selama ini menjadi sumber cahaya ilmu dan akhlak justru makin kuat jika berani melihat sisi-sisi gelap yang mungkin tersembunyi di balik wibawa dan tradisi.
Pesantren yang berani bertransformasi—menyatukan adab, ilmu, dan keterbukaan—akan semakin berdaya di tengah kegaduhan sosial dan politik. Di tangan pesantren yang adil dan transparan, santri tidak hanya menjadi penghafal teks, tetapi juga manusia merdeka yang mampu bersuara, berpikir kritis, dan tetap beradab kepada gurunya. Itulah pesantren yang bukan sekadar bangga dengan masa lalu, melainkan juga siap menyambut masa depan dengan kepala tegak.
Trending Now