Konten dari Pengguna

Tawuran Meningkat, Hari Guru Mengingatkan Bahwa Pendidikan Dimulai dari Rumah

Bayu Susena
Saya bekerja sebagai legal drafting di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Memiliki latar belakang pendidikan di bidang hukum dan saat ini aktif mengembangkan kemampuan menulis di berbagai media.
24 November 2025 14:10 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tawuran Meningkat, Hari Guru Mengingatkan Bahwa Pendidikan Dimulai dari Rumah
Tawuran remaja mencerminkan krisis adab. Hari Guru mengingatkan: pendidikan karakter dimulai dari rumah, dengan orang tua sebagai guru pertama.
Bayu Susena
Tulisan dari Bayu Susena tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Foto: Dokumen Kemendikdasmen Republik Indonesia
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Dokumen Kemendikdasmen Republik Indonesia
Di tengah gemerlap kota yang tak pernah tidur, suara klakson kendaraan kerap bersahut dengan teriakan remaja yang berlari membawa senjata tajam. Mereka bukan penjahat, bukan pula preman pasar. Mereka adalah pelajar, anak-anak kita yang terjebak dalam budaya tawuran antar “basis”. Fenomena ini bukan sekadar kenakalan remaja, tapi tanda bahwa ada yang retak dalam sistem pendidikan nilai, baik di sekolah maupun di rumah.
Di kota besar, “basis” bukan sekadar tempat nongkrong, tapi simbol solidaritas, gengsi, bahkan harga diri. Para remaja memberi nama pada kelompoknya, membuat logo, bahkan punya akun media sosial sendiri. Konflik antar basis seringkali bermula dari ejekan di kolom komentar, tantangan di TikTok, hingga sindiran di grup WhatsApp. Di era digital ini, perkelahian bisa dimulai dengan emoji marah dan berakhir dengan luka di dunia nyata.
Dalam pandangan sosiologis, fenomena ini menunjukkan lemahnya kontrol sosial dan kegagalan internalisasi nilai disiplin serta toleransi. Namun, dari sisi pendidikan Islam, ini juga pertanda kaburnya orientasi tarbiyah, pendidikan yang seharusnya menumbuhkan akhlak mulia, bukan sekadar prestasi akademik. Nabi Muhammad SAW menegaskan, “Tidaklah seorang ayah memberikan kepada anaknya pemberian yang lebih baik daripada adab yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Namun kini, adab seringkali kalah oleh algoritma, dan pengakuan teman lebih berharga dari ridha orang tua. Mengapa remaja mencari pelarian dalam kelompok seperti basis? Mereka mencari pengakuan. Di usia remaja, dorongan untuk merasa diterima lebih kuat daripada logika moral. Mereka ingin dianggap “berani”, “solid”, atau “setia kawan”. Ketika rumah tidak memberi ruang aman untuk didengar, dan sekolah sibuk dengan target nilai, kelompok sebaya menjadi tempat paling hangat meski hangatnya bisa berujung pada kekerasan.
Psikolog Agoes Dariyo pernah menulis bahwa banyak remaja di wilayah padat dan remaja tumbuh tanpa pengawasan cukup dari orang tua yang sibuk bekerja. Mereka belajar solidaritas bukan dari keluarga, melainkan dari geng di jalanan. Ironisnya, makna kebersamaan itu dibangun di atas semangat permusuhan.
Dalam Islam, rumah seharusnya menjadi madrasah pertama. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini bukan hanya soal akidah, tapi juga pendidikan karakter, anak menjadi seperti apa tergantung pada pola asuh dan nilai yang diwariskan.
Ketika anak tumbuh dalam suasana rumah yang penuh teriakan, konflik, atau acuh tak acuh, maka cinta dan kehangatan yang mereka cari akan berpindah ke luar bahkan ke kelompok yang salah.
Edwin H. Sutherland, seorang kriminolog Amerika, pernah menjelaskan bahwa perilaku menyimpang itu dipelajari, bukan diwariskan. Teorinya, Differential Association, menjelaskan bahwa seseorang menjadi pelaku penyimpangan karena belajar dari lingkungan sosial yang membenarkan tindakan tersebut.
Dalam konteks tawuran, teori ini menemukan relevansinya. Seorang remaja tidak lahir dengan sifat agresif. Ia mempelajarinya dari senior di sekolah, dari teman di tongkrongan, bahkan dari konten media sosial yang menormalisasi kekerasan. Ketika lingkungan mengatakan bahwa berkelahi adalah bentuk keberanian, dan viral di TikTok dianggap kemenangan, maka nilai-nilai moral mulai runtuh pelan-pelan.
Dalam Islam, Nabi SAW menekankan pentingnya lingkungan yang baik: “Seseorang tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman akrabnya.” (HR. Abu Dawud).
Peringatan ini kini terasa lebih aktual dari sebelumnya, sebab “teman” anak-anak kita tak lagi terbatas pada manusia nyata, tapi juga pada algoritma media sosial yang menampilkan kekerasan sebagai hiburan.
Banyak sekolah merespons tawuran dengan cara yang paling mudah yaitu skorsing atau dikeluarkan. Padahal, pendekatan seperti ini hanya memindahkan masalah dari halaman sekolah ke jalanan. Siswa yang dikeluarkan justru semakin kuat identitas menyimpangnya. Ia merasa “tidak diterima” oleh sistem, dan kembali ke kelompok yang mau menerimanya yaitu para pelaku tawuran itu sendiri.
Sekolah yang mendidik hanya otak, tanpa menyentuh hati, telah kehilangan makna. Dalam konsep pendidikan Islam, pembelajaran seharusnya mencakup tiga unsur yaitu ta’lim (transfer ilmu), tarbiyah (pembinaan akhlak), dan ta’dib (penanaman adab). Jika tiga unsur ini tidak seimbang, maka lahirlah generasi cerdas tapi kehilangan arah moral. Mereka hafal rumus, tapi tidak paham empati.
Di sinilah pentingnya kolaborasi antara guru dan orang tua. Sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Guru seharusnya menjadi figur panutan, bukan sekadar pengajar kurikulum. Sedangkan orang tua harus hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi emosional. Sebab anak-anak yang kehilangan teladan, akan menciptakan teladan mereka sendiri meskipun dari lingkungan yang keliru.
Fenomena tawuran tidak hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga luka sosial. Banyak keluarga hancur karena anak mereka tewas dalam perkelahian yang tidak bermakna. Sekolah kehilangan reputasi. Masyarakat kehilangan rasa aman. Semua ini bukan hanya persoalan sosial, tapi juga moral dan spiritual.
Dalam perspektif Islam, kekerasan yang dilakukan atas nama solidaritas atau gengsi adalah bentuk penyimpangan dari ajaran rahmatan lil ‘alamin. Rasulullah SAW tidak pernah membalas kekerasan dengan kekerasan. Beliau mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada otot atau senjata, melainkan pada kemampuan menahan amarah. “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam perkelahian, melainkan yang mampu menahan amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mendidik anak berarti menanamkan makna kasih sayang yang melampaui gengsi. Mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan dalam mengangkat senjata, tapi dalam menundukkan ego. Bahwa kemenangan sejati bukan ketika musuh kalah, tetapi ketika hati mampu memaafkan.
Peran orang tua dalam mencegah kekerasan remaja tidak bisa digantikan oleh siapa pun. Pengawasan bukan sekadar melarang, tapi memahami dunia anak. Ketika anak mulai lebih percaya pada teman atau media sosial, itu tanda bahwa komunikasi keluarga melemah. Maka, tugas orang tua bukan hanya mengontrol, tapi juga mendengarkan, menemani, dan memberi arah.
Islam mengajarkan tanggung jawab orang tua secara spiritual dan moral. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini tidak berbicara tentang larangan semata, melainkan tentang tanggung jawab membentuk nilai dalam diri anak agar mereka tumbuh sebagai generasi yang beradab dan beriman.
Mengajak anak berdialog, membacakan kisah teladan, melibatkan mereka dalam kegiatan masjid atau sosial, semua itu bagian dari ikhtiar membangun karakter. Sebab anak yang tumbuh dengan cinta, tidak akan mencari pengakuan dengan kekerasan.
Jika teori Sutherland menjelaskan bahwa penyimpangan dipelajari dari lingkungan, maka kebajikan pun bisa diajarkan dengan cara yang sama. Artinya, jika anak bisa belajar kekerasan dari teman sebaya, mereka juga bisa belajar kasih sayang dari orang tua, guru, dan lingkungan yang baik.
Kita tidak bisa menumpas tawuran hanya dengan patroli polisi atau sanksi sekolah. Kita perlu membangun ekosistem nilai yang sehat di rumah, sekolah, dan masyarakat. Membiasakan anak berdialog, menghargai perbedaan, serta menumbuhkan kebanggaan pada hal-hal positif seperti prestasi, kepedulian, dan kemandirian.
Mendidik anak di era digital memang tidak mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Tugas kita bukan hanya mencegah anak berbuat salah, tapi membimbing mereka agar mencintai kebaikan. Karena generasi yang kuat tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari cinta dan teladan.
Tawuran antar pelajar hanyalah gejala dari persoalan yang lebih dalam yaitu krisis adab dan kehilangan arah spiritual. Ia adalah cermin dari rumah yang kehilangan percakapan, sekolah yang kehilangan makna, dan masyarakat yang kehilangan empati.
Namun di balik kegetiran itu, masih ada harapan. Selama masih ada orang tua yang mau mendidik dengan hati, guru yang mengajar dengan keteladanan, dan masyarakat yang menanamkan nilai kasih, maka generasi muda kita masih bisa diselamatkan.
Karena sesungguhnya, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari). Dan kepemimpinan paling awal itu adalah kepemimpinan kita sebagai orang tua, di rumah sendiri.
Di momentum Hari Guru ini, kita diingatkan bahwa guru tidak hanya mereka yang berdiri di depan kelas, tetapi juga sosok-sosok yang membersamai anak setiap hari yaitu ayah dan ibu. Sekolah dapat membangun pengetahuan, tetapi rumahlah yang membentuk karakter. Guru dapat menanamkan disiplin, tetapi orang tualah yang mewariskan nilai hidup.
Hari Guru bukan sekadar perayaan profesi mulia, melainkan pengingat bahwa pendidikan adalah kerja bersama. Ketika tawuran meningkat dan krisis adab terasa kian nyata, Hari Guru menyeru kita untuk kembali ke dasar dan menghadirkan cinta di rumah, menumbuhkan keteduhan di sekolah, dan membangun empati di lingkungan. Karena pendidikan sejati selalu dimulai dari rumah dan dari hati orang tua yang menjadi guru pertama, dan guru seumur hidup bagi anak-anaknya.
Trending Now