Konten Media Partner

Kenapa Nama Bayi yang 'Tidak Lazim' Terus Bermunculan?

23 Maret 2022 13:00 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konten Media Partner
Kenapa Nama Bayi yang 'Tidak Lazim' Terus Bermunculan?
Penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya popularitas nama-nama bayi yang unik saat ini mencerminkan perpindahan dari kolektivisme ke masyarakat individualistis. #publisherstory BBC News Indonesia
BBC NEWS INDONESIA
Kenapa Nama Bayi yang 'Tidak Lazim' Terus Bermunculan?
zoom-in-whitePerbesar
Kunjungan pertama saya ke Pakistan menggugurkan keyakinan saya bahwa saya punya nama yang unik. Nama saya sangat langka di California, tetapi di negara ini saya bertemu dengan Aysha, Aisyah, atau Aisha di setiap tempat.
"Seperti membuka buku berisi daftar nama bayi dan tidak beralih dari huruf depan A," begitulah yang saya pikirkan.
Saya berkata kepada orang tua saya sambil bersumpah bahwa ketika saya punya anak, saya akan memilih nama yang sama sekali berbeda.
Dan pada akhirnya saya memang melakukannya. Saya menamai putri saya Sidrat-ul-Muntaha. Nama itu merujuk pohon bidara misterius yang diyakini menandai batas tertinggi di surga ketujuh β€” titik ekstrem yang tidak dapat dilewati siapa pun.
Penamaan bayi adalah proses emosional. Orang tua khawatir tentang dampak jangka panjang dari nama anak dan merasa perlu memilih yang terbaik untuk menyiapkan kesuksesan sang anak.
Kecenderungan itu muncul karena kita tahu bahwa nama itu penting. Nama yang kita berikan menempa identitas kita, mempengaruhi stereotip, dapat menentukan jenis pekerjaan yang kita kejar, dan bahkan memprediksi pencapaian karier.
Tren seputar bagaimana orang tua memilih nama untuk anak-anak mereka adalah produk dari budaya yang berkembang. Budaya ini bergeser ketika aspirasi untuk anak-anak juga berganti.
Penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya popularitas nama-nama bayi yang unik saat ini mencerminkan perpindahan dari kolektivisme ke masyarakat individualistis. Ini memberikan petunjuk kontekstual penting tentang hal yang diinginkan orang tua untuk anak-anak mereka.
Secara global, tampaknya, orang tua semakin menghargai nama unik untuk mendorong anak menjadi menonjol, bukan menyesuaikan diri.

Dari tradisi ke ekspresi

Pada abad-abad sebelumnya, kesesuaian nama yang didorong oleh tradisi adalah dorongan utama. Pendapat itu dikatakan Laura Wattenberg, pendiri namerology.com dan penulis buku berjudul The Baby Name Wizard.
"Orang tua hanya melakukan apa yang sebelumnya selalu dilakukan," katanya.
Dia berkata bahwa di Inggris, John dan William, misalnya, adalah nama anak laki-laki teratas dari tahun 1200-an hingga 1930-an.
"Menurut statistik yang disusun oleh ekonom Douglas Galbi, pada tahun 1600-an, tiga nama teratas untuk anak laki-laki dan perempuan mencakup setengah dari populasi Inggris," ucapnya.
Itu terjadi karena konvensi penamaan didirikan dalam ikatan agama dan leluhur. Misalnya, nama-nama kitab suci sangat populer, dan kaum Puritan Inggris kadang-kadang menamai anak-anak mereka dengan atribut moral, seperti Faith atau Mercy.
Nama semakin menjadi mode ekspresi diri serta cara untuk menandakan nilai.
Serupa pula dengan umat Islam di negara-negara Arab dan Asia Selatan yang menjunjung tinggi religiusitas. Nama-nama Muslim tradisional biasanya diambil dari tokoh sejarah terkemuka dalam Islam (misalnya Nabi Muhammad, para sahabatnya, Ummul Mu'minin atau istri-istrinya-termasuk Aisyah RA-dan khalifah-khalifah negara Islam). Seringkali, nama-nama menekankan pengabdian agama, seperti 'Abdul' yang berarti hamba, diikuti salah satu dari 99 nama Allah. Tradisi penamaan Arab yang unik juga merepresentasikan garis keturunan, dengan nama-nama yang sering diawali dengan kata-kata seperti 'Binti-' (putri), 'Ummu-' (ibu dari), 'Abu' (ayah dari) atau 'Ibnu' (putra dari).
Tergantung kecepatan perkembangan di berbagai daerah, tidak semua tradisi ini bertahan. Melemahnya ikatan budaya dan lebih banyak populasi bergerak di sekitar Revolusi Industri membuat pilihan orang tua muda tidak terlalu ditentukan oleh keluarga besar dan kebiasaan lokal di dunia Barat, menurut Wattenberg. "Nama semakin menjadi mode ekspresi diri. Seluruh budaya bergerak menuju perayaan kebebasan pribadi dan individualitas yang lebih besar."
Penelitian sebelumnya telah menemukan penurunan yang stabil dalam nama-nama umum di AS dari tahun 1950-an, terutama dari tahun 1983. Riset tingkat makro baru-baru ini, yang menganalisis 348 juta nama bayi Amerika selama 137 tahun (dari 1880 hingga 2017), menunjukkan bahwa generasi Baby Boomers meningkatkan jumlah nama baru per seribu bayi sebanyak empat kali lipat untuk anak laki-laki dan 2,75 kali lipat untuk anak perempuan.
Meski beberapa orang tua merasa bahwa memberi anak nama yang unik akan membedakan mereka atau menuntun mereka menuju kesuksesan, angan itu tidak selalu terwujud.
Studi dari China juga menunjukkan nama bayi yang unik adalah salah satu dari banyak cara untuk memenuhi NFU (Need For Uniqueness) yang meningkat. Ini merupakan buah dari peningkatan otonomi dan kebebasan, diiringi dengan penurunan persepsi pentingnya praktik budaya dan kolektivisme tradisional China.
Selain itu, penelitian seputar tingkat peningkatan nama bayi perempuan unik di Jepang memberikan wawasan tentang aspirasi orang tua. Salah satu temuan Ogihara yang paling menarik adalah bahwa gender adalah faktor dalam praktik penamaan budaya. Di Jepang, nama-nama unik meningkat lebih cepat untuk anak perempuan daripada anak laki-laki.
Sementara itu, studi NFU China mengungkap bahwa nama anak perempuan lebih unik daripada nama anak laki-laki pada satu titik waktu. Ini sebuah temuan yang konsisten dengan penelitian sebelumnya yang mengungkapkan anak perempuan cenderung tidak mendapatkan nama populer.
Tidak peduli apakah perbedaan gender diukur pada satu titik waktu atau dipetakan sebagai tingkat peningkatan, dalam konteks budaya konformis tradisional seperti China dan Jepang, itu mewakili harapan yang tenang dari orang tua agar anak perempuan mereka lebih unik daripada anak laki-laki mereka.
Sebelumnya, kata Ogihara, orang tua di Jepang mungkin telah menamai anak perempuan mereka untuk menyesuaikan diri dan menjadi saling bergantung, biasa, dan peduli dengan keharmonisan kelompok agar sesuai dengan masyarakat.
"Sekarang, lebih banyak orang tua berharap agar putri mereka menjadi lebih mandiri, berbeda, dan mandiri agar sesuai dengan norma dan harapan masyarakat yang berubah. Jadi, diasumsikan mereka [memberi mereka lebih banyak] nama unik".

Aspirasi orang tua yang dominan

Saat tren ini berkembang, haruskah kita mengharapkan kemunculan nama-nama asli yang tidak lazim?
Uchida memprediksi bahwa di Jepang, tren nama-nama yang tidak biasa pada akhirnya akan mencapai puncaknya. Lagi pula, ada batasan jumlah kanji (karakter) yang dapat digunakan dalam nama dan stigma sosial pun tetap berlaku.
"Setelah peningkatan jumlah nama 'kira-kira' (nama eksentrik dan unik) di Jepang, sebuah stigma melekat, seperti 'berasal dari kelas bawah'," kata Uchida. "Sebaliknya, nama yang terlalu tradisional cenderung dihindari karena dianggap kuno. Jadi saya pikir akan ada tren, tetapi tidak meningkat dan yang berkelanjutan untuk nama-nama yang cukup bergaya dan cukup unik," ucapnya.
Dan mengejar nama unik mungkin tidak selalu menjadi jawaban atau tiket menuju kesuksesan yang diinginkan orang tua.
"Orang tua punya naluri bahwa memilih nama yang khas akan memberikan keuntungan bagi anak mereka dalam hidup. Ini adalah dorongan cinta, tetapi dalam istilah praktis tidak jelas apakah cara kerjanya seperti itu," kata Wattenberg.
"Bagaimanapun juga, populer berarti sangat disukai dan nama yang terlalu khas tidak selalu disukai. Orang barangkali menunjuk ke selebritas sukses dengan nama yang tidak biasa, tetapi untuk setiap Madonna dan BeyoncΓ© ada Michael Jackson, Emma Thompson, Sam Smith, dan Elizabeth Taylor," ujarnya.
Pada akhirnya, menurut Redmond, menamai anak adalah perwujudan kasih sayang orang tua, yang dipengaruhi oleh mimpi pribadi dan transmisi nilai-nilai budaya. "Orang tua datang kepada kami untuk meminta bantuan dalam menemukan nama yang disesuaikan dengan sempurna untuk mereka, lebih dari satu yang berbeda dari orang lain," tuturnya.
Uchida setuju. "Alih-alih membuat anak mereka 'menonjol' dalam kelompok atau 'menjadi bintang', saya pikir itu adalah keinginan yang lebih sederhana - yaitu anak-anak dapat menjalani hidup mereka sendiri."
--
Aysha Imtiaz adalah jurnalis lepas dan guru bahasa di sekolah dasar di Karachi, Pakistan
Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini di BBC Worklife.
Trending Now