Konten Media Partner
Menengok Berbagai Kebudayaan dengan Kalender Berbeda: Tahun Ini Bukan 2023
7 Januari 2023 15:50 WIB
ยท
waktu baca 8 menit
Konten Media Partner
Menengok Berbagai Kebudayaan dengan Kalender Berbeda: Tahun Ini Bukan 2023
Bagi banyak kultur di beberapa negara, ini bukanlah tahun 2023. Banyak orang di berbagai belahan dunia hidup menggunakan kalender yang berbeda. #publisherstory #BBC News IndonesiaBBC NEWS INDONESIA

Banyak orang di berbagai belahan dunia hidup menggunakan kalender yang berbeda, dan bagi sebagian orang, perbedaan itu mengakibatkan perayaan ulang tahun yang unik.
Saya mulai curiga ketika saya berusia 40 tahun untuk ketiga kalinya.
Pertama kali berulang tahun ke-40, saya sedikit sibuk dan tidak siap memasuki usia baru, apalagi karena saya kira saya baru berusia 38 tahun.
Saya berulang tahun ke-40 lagi beberapa bulan kemudian. Saya memang tidak jago matematika, tapi setelah itu saya berusia 41 tahun beberapa kali, dan kemudian menjadi 40 tahun lagi. Waktunya jelas-jelas tidak sesuai.
Ternyata ada banyak budaya yang merasa baik-baik saja dengan perbedaan tahun, atau beberapa di antaranya usia, secara bersamaan.
Saat ini adalah awal tahun 2023 di seluruh dunia. Tetapi di Myanmar, ini juga tahun 1384, sementara di Thailand sudah tahun 2566.
Saat beribadah, orang Maroko masih berada di tahun 1444, tetapi ketika bertani mereka ada di tahun 2972. Sedangkan sebagian orang Ethiopia masih menjalani tahun 2015 karena ada 13 bulan dalam setahun.
Sementara itu di Korea Selatan, tempat saya tinggal, Tahun Baru adalah hari ulang tahun semua orang. Inilah mengapa saya tiga kali berusia 40.
Orang-orang Korea Selatan lahir pada usia satu tahun, dan sejak lahir mereka memiliki dua hingga tiga usia resmi yang berdasar pada waktu domestik, internasional (yang dihitung dari nol), serta tahun bonus ketika seluruh negara itu menua pada 1 Januari. (Secara simbolis, ini juga bisa terjadi pada Tahun Baru Imlek.)
Selain itu, orang Korea bisa memilih apakah mau merayakan ulang tahun pribadi mereka sesuai kalender Gregorian atau kalender lunar tradisional.
Secara teknis, saya bisa mengeksploitasi sistem ini untuk enam kali ulang tahun, tapi siapa yang senang menyambut usia 40 berkali-kali?
Keragaman yang kasual ini terbilang baru bagi saya, sebagai orang Amerika yang nyasar.
Saya pikir waktu adalah satu dari sedikit hal yang bisa disepakati oleh manusia. Tentu, orang mengukur waktu secara berbeda di masa lalu (seperti melalui Stonehenge sebagai kalender raksasa), tetapi saya tidak terbiasa menganggap kalender lain sebagai masih kalender yang berlaku saat ini.
Tentu saja tidak bersamaan. Biasanya, saya sama sekali tidak mempertanyakan pengalaman saya sendiri mengenai waktu.
Jalan lambat menuju masa kini
Tanggal adalah latar belakang kehidupan kita, dan menjadi salah satu hal yang tampak nyata.
Namun tentu saja setiap tanggal (1 Januari 2023, misalnya) merupakan konstruksi dari sistem ketepatan waktu tertentu, dalam hal ini kalender Gregorian.
Sebagai kalender standar global yang disetujui Organisasi Standardisasi Internasional (ISO), ini menjadi acuan seluruh sektor internasional mulai dari penerbangan hingga politik. Orang bahkan mungkin menganggap kalender Gregorian sangat akurat dan efisien. Faktanya, tidak demikian.
Dominasinya sebagian besar dipicu karena berasal dari tempat yang tepat, waktu yang tepat, dan budaya imperialis yang tepat.
Sebagai produk dari doktrin agama dan sains Renaisans, kalender Gregorian diciptakan untuk mengoreksi pergeseran antara tahun liturgi Katolik (yang pada saat itu berdasar pada kalender Julian) dan tahun matahari yang sebenarnya.
Julian hanya meleset 11 menit dan 14 detik, perhitungan yang mengesankan pada abad ke-45 Sebelum Masehi, tetapi perbedaan itu terus bertambah selama berabad-abad.
Pada saat Paus Gregorius XIII memerintahkan reformasi pada akhir abad ke-16, tahun kalender saat itu tidak selaras selama 10 hari dengan musim.
Kalender Gregory mengurangi selisih itu menjadi 26 detik. Namun, pengenalan kalender itu pada 1582 memicu perlawanan langsung: baik dari Protestan maupun Ortodoks yang enggan menata ulang konsep waktu berdasarkan dekrit kepausan.
Jadi hanya bagian Eropa Katolik yang mengadopsi kalender baru itu tepat pada tahun 1600.
Wilayah lain perlahan ikut mengadopsi seiring berjalannya waktu: Jerman Protestan dan Belanda pada tahun 1700, Inggris dan koloninya pada tahun 1800.
Pada tahun 1900, ketika kalender ini menyebar luas, wilayah-wilayah non-Kristen seperti Jepang dan Mesir mulai memasukkannya ke dalam metode ketepatan waktu mereka, namun negara-negara Ortodoks seperti Rumania, Rusia dan Yunani bertahan sampai abad ke-20.
Baru pada tahun 2000, Eropa dengan suara bulat menyambut abad baru pada 1 Januari versi Gregorian.
Namun, sebagian besar kekuatan imperial menggunakan acuan waktu Gregorian pada pertengahan abad ke-19, ketika periode penjajahan menyebabkan lebih dari 80% wilayah dunia berada di bawah kekuasaan Eropa.
Ini bertepatan dengan gerakan yang muncul di kalangan komunitas ilmiah dan bisnis di Eropa/Amerika untuk menghadirkan Kalender Dunia yang universal demi memfasilitasi perdagangan. Secara otomatis, Gregorian mengisi peran itu.
Di wilayah-wilayah yang tidak dijajah Eropa, kalender Gregorian menyebar melalui cara lain.
Dalam bukunya berjudul The Global Transformation of Time, sejarawan Vanessa Ogle berpendapat bahwa kapitalisme, penginjilan, dan hasrat ilmiah untuk keseragaman lebih berperan membakukan waktu dibanding kebijakan imperialis manapun. Kolonialisme bahkan tidak menjadi faktor penting.
Beirut berada di bawah kekuasaan Ottoman ketika penanggalan Gregorian muncul di almanaknya pada akhir 1800-an.
Jerpang tidak pernah dijajah sama sekali, namun mengadopsi kalender Gregorian pada 1872, meskipun penerimaan itu tidak bersifat monogami.
Sejumlah kalender telah digunakan selama ribuan tahun sebelum Gregorian muncul.
Orang Mesir kuno dan Maya sama-sama menggunakan dua kalender, satu kalender keagamaan dan yang lainnya adalah kalender administratif.
Raja Seong dari Korea secara khusus menugaskan dua sistem untuk reformasi kalender tahun 1430-an, yang satu diadaptasi dari kalender China dan yang lainnya dari bahasa Arab.
Pada 1880-an di Berikut, Gregorian hanyalah salah satu dari empat kalender yang digunakan sehari-hari.
Bahkan Jepang, yang seolah-olah beralih sepenuhnya ke waktu Gregorian, tetap mempertahankan sistem penanggalan kekaisarannya, kalender Rokuyo untuk hari-hari keberuntungan, dan kalender 24 Sekki untuk perubahan musim โ yang semuanya masih digunakan sampai sekarang.
Antropolog sosial Clare Oxby, yang telah mempelajari penggunaan kalender di Sahel dan Sahara, menciptakan istilah "pluralisme kalender" untuk menggambarkan koeksistensi beberapa sistem ketepatan waktu, seperti halnya pluralisme hukum menggambarkan masyarakat dengan banyak sistem hukum.
Dalam praktiknya, kalender yang berbeda juga memiliki fungsi yang berbeda. Di Afrika Utara, Imazighen, Tuareg, dan komunitas berbahasa Berber lainnya menggunakan tiga atau empat sistem secara bersamaan: kalender bintang menandai musim pertanian; kalender lunar Islam untuk acuan ibadah; Gregorian untuk urusan pemerintahan.
Hidup dalam berbagai garis waktu dapat menjadi cara praktis untuk menyatukan kebutuhan duniawi yang berbeda.
Ini bukanlah konsep yang asing di Eropa dan Amerika Utara: orang memiliki tahun sekolah dan tahun fiskal, misalnya. Dalam banyak hal, ini hanya masalah di mana Anda mulai menghitung.
"Mungkin penggunaan beberapa kalender secara paralel jauh lebih banyak hadir di dunia kontemporer kita daripada yang kita duga," kata Oxby.
Tetapi sementara pluralisme telah menjadi konstanta sejarah, kalender itu sendiri berubah sepanjang waktu. Yang digunakan saat ini mungkin terlihat berbeda bahkan beberapa dekade ke depan.
"Anda mungkin memiliki lebih banyak kalender, atau mungkin kalender yang berbeda. Budaya manusia terus berkembang.โ
Salah satu pergeseran budaya lainnya ditandai oleh ekspansi kita ke ranah digital.
Kabel serat optik telah menggantikan jalur perdagangan lama, membawa kalender Gregorian ke tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh kolonialisme.
Setidaknya untuk saat ini, konektivitas telah menciptakan pluralisme kalender jenis baru.
Nepal adalah salah satu dari sedikit negara di dunia di mana Gregorian tidak menjadi kalender nasional. Di Nepal, tahun resmi saat ini adalah 2079 (Bikram Sambat) atau 1143 (Newari Nepal Sambat) atau keduanya.
Secara keseluruhan, setidaknya empat kalender digunakan di antara kelompok etnis yang berbeda, dengan berbagai tahun baru. Nepal bahkan 15 menit tidak sinkron dengan zona waktu standar. Ini adalah negara dengan hal temporalnya sendiri yang terjadi.
Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi orang Nepal seperti Sanjeev Dahal untuk menggunakan banyak kalender.
โSaya Cuma menggunakan kalender Bikram Sambat. Saya tidak pernah menggunakan Nepal Sambat seumur hidup saya,โ kata Dahal.
Ini bukan monotemporalisme โ Bikram Sambat berisi sejumlah lapisan penunjuk waktu budaya dan agama dalam tahun matahari, 12 bulan lunar, dan enam musim โ tetapi bagi seorang Hindu yang tinggal di Kathmandu, sistem ini mencakup semua aspek kehidupan sehari-hari dari hari puasa hingga hari gajian.
Meski di Nepal dia hanya membutuhkan satu kalender, Dahal adalah mahasiswa doktoral jarak jauh di Boston College, yang mempelajari soal diaspora Nepal.
Itu berarti dia juga sangat bersentuhan dengan kalander budaya lain: budaya digital yang khususnya bersifat Gregorian.
"Saya ada di dua ruang dan waktu," kata Dahal, yang mengatasi teka-teki teknologi ini dengan solusi teknologi pula.
Laptopnya disetel untuk 2023 dan ponsel cerdasnya untuk 2079. Sebuah aplikasi membantunya bernavigasi di antara keduanya dengan cepat.
Dahal mengamati perbedaan antargenerasi dalam penggunaan kalender: orang tuanya sama sekali tidak menggunakan waktu Gregorian. Tapi di antara teman-temannya juga ada pembagian fungsional, dimana Gregorian untuk bisnis dan Bikram Sambat untuk acara sosial dan keluarga.
Di saat kalender Barat mendominasi media sosial (dan dengan demikian ketika orang mengucapkan selamat ulang tahun), Gregorian tidak berguna untuk menentukan hari baik dan melacak siklus bulan yang penting dalam budaya Nepal. Mempertimbangkan itu, Dahal merasa kalender Gregorian belum akan menjadi acuan resmi di negara itu dalam waktu dekat.
Sejarah mungkin berputar-putar. Seperti gerakan Kalender Dunia pada akhir abad ke-19, abad ke-21 mendorong sebuah kesatuan atas alasan ekonomi.
Pada 2016, Arab Saudi mengubah jadwal gajian pegawai pemerintah dari kalender Islam ke Gregorian, yang oleh sebagian besar pihak ditafsirkan sebagai langkah memotong biaya.
Pada Desember, Korea Selatan mengesahkan undang-undang yang menghilangkan usia tradisional dengan alasan bahwa sistem multi-usia tidak efisien secara ekonomi. Undang-undang tersebut akan mulai berlaku tahun ini, yang berarti ulang tahun saya berikutnya mungkin hanya datang dua kali atau bahkan satu kali.
Tapi apa yang mungkin hilang atau didapat dari mengkonsolidasikan satu kalender, terutama yang dibuat sesuai dengan waktu dan tempat lain?
"Yah, pemerintah bisa mengontrol dengan memaksakan kalender terpusat," kata Oxby, yang telah menulis tentang dinamika kekuatan penggunaan kalender.
"Bangsa itu bisa kehilangan sejarah budaya dan keragaman. Orang-orang bisa kehilangan. Jika mereka adalah bagian dari budaya daerah minoritas, mereka mungkin merasa diremehkan di tingkat nasional."
Lagi pula, 150 tahun globalisasi tidak membuat pluralisme menjadi usang. Kalender mungkin datang dan pergi; lebih sering mereka berubah. Dan jika ada satu hal yang bisa dilakukan manusia dengan baik, itu adalah perubahan.
Versi bahasa Inggris artikel ini berjudul The people who live in multiple timelines dapat Anda baca di BBC Future.
