Konten dari Pengguna

Generasi Gelisah, Polemik yang Seharusnya Diselesaikan

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
15 Juli 2025 7:55 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Generasi Gelisah, Polemik yang Seharusnya Diselesaikan
Jika kita mampu menjawabnya dengan kebijakan, keberanian, dan kasih, maka generasi gelisah ini masih bisa diselamatkan.
Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi gelisah di depan laptop, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi gelisah di depan laptop, sumber: Pexels.
Hari ini kita hidup dalam dunia yang secara perlahan namun pasti kehilangan keseimbangan—bukan hanya secara ekologis, tetapi juga psikologis. Krisis iklim yang dahulu terasa jauh dan abstrak, kini menjadi kenyataan dan menyentuh langsung kehidupan manusia sehari-hari.
Suhu bumi terus meningkat, gelombang panas melanda berbagai belahan dunia, hutan-hutan tropis terbakar, kualitas udara menurun drastis, dan keanekaragaman hayati semakin punah.
Di tengah keadaan demikian, generasi muda yang diharapkan menjadi penggerak perubahan justru makin terjebak dalam dunia yang sama sekali berbeda: dunia digital yang menawan sekaligus menyesatkan. Mereka menyelam begitu dalam ke dalam layar ponsel dan laptop, hingga terputus dari dunia nyata yang sedang berteriak meminta perhatian.
Fenomena ini bukanlah gejala yang muncul tiba-tiba, melainkan puncak dari tren yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Sejak awal 2010-an, penggunaan gawai pribadi dan media sosial meningkat tajam, terutama di kalangan anak muda.
Dalam buku The Anxious Generation, Jonathan Haidt (2024) menyoroti bagaimana lonjakan ini berkaitan erat dengan peningkatan gangguan kesehatan mental, terutama kecemasan dan depresi. Data yang disajikan menunjukkan bahwa remaja mengalami peningkatan signifikan dalam gejala stres, self-harm, bahkan bunuh diri, bersamaan dengan meningkatnya waktu layar dan aktivitas online secara berlebihan.
Haidt mengajak kita untuk memandang masalah ini bukan sebagai isu gaya hidup semata, tetapi sebagai ancaman serius terhadap kualitas generasi masa depan.
Dalam analisis Haidt, kita menemukan gambaran generasi dinamis dalam dunia maya yang tak pernah benar-benar tidur. Anak-anak dan remaja masa kini tumbuh dalam ekosistem digital di mana notifikasi tidak pernah berhenti berdenting dan algoritma terus-menerus menyuguhkan konten pemicu keterikatan emosional.
Mereka bermain game online selama berjam-jam, membangun identitas di media sosial, dan menjalani hidup yang secara signifikan terpisah dari ruang fisik dan alam sekitar. Ironi besar pun muncul: di saat planet ini sedang mengalami kerusakan hebat akibat ulah manusia, anak-anak manusia justru makin menjauh dari bumi yang mereka huni.
Mereka akrab dengan teknologi mutakhir, tetapi asing terhadap pohon yang tumbuh di halaman sekolah mereka sendiri.
Kita menghadapi sebuah paradoks menyakitkan. Generasi muda sering disebut-sebut sebagai harapan umat manusia untuk mengatasi krisis iklim dan menjaga keberlangsungan planet ini. Mereka digadang-gadang sebagai generasi hijau, pembawa perubahan, dan sadar diri terhadap lingkungan.
Akan tetapi bagaimana mungkin mereka bisa mencintai dan melindungi sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan secara langsung? Bagaimana mereka dapat menjadi penjaga bumi jika hubungan mereka dengan alam nyaris nihil?
Ketika pengalaman fisik dan sensorik tergantikan oleh visualisasi digital, maka empati ekologis yang tumbuh dari kedekatan langsung pun makin sulit terbangun.
Persoalan ini bukan semata-mata menyangkut pilihan pribadi atau kebiasaan individu, melainkan cerminan dari krisis sosial yang lebih luas. Adiksi terhadap gawai dan media sosial adalah produk dari sistem yang mendorong konsumsi tak terbatas atas perhatian dan waktu manusia.
Dalam situasi lingkungan yang makin memburuk dan masa depan yang semakin tidak pasti, anak muda mestinya diperkuat secara mental dan sosial untuk menjadi pelaku perubahan yang tangguh. Namun yang terjadi justru sebaliknya, yakni mereka dilemahkan secara struktural oleh sistem yang membuat keterhubungan digital lebih mudah daripada keterhubungan manusiawi.
Pendidikan, keluarga, dan masyarakat belum sepenuhnya hadir untuk membekali mereka menghadapi realitas kompleks ini dengan sehat dan bijak.
Bukan berarti teknologi harus ditolak secara total. Game, media sosial, dan berbagai aplikasi digital memiliki sisi positifnya masing-masing. Dalam konteks tertentu, teknologi bisa menjadi alat yang membantu proses belajar, memperluas jaringan sosial, dan mendorong kreativitas.
Kendati demikian yang menjadi masalah adalah ketidakseimbangan dalam penggunaannya, serta minimnya kemampuan kritis dalam memilah dan mengelola keterpaparan terhadap dunia maya.
Ketika keseimbangan tersebut tidak dijaga, maka teknologi bukan lagi alat pembebas, tetapi belenggu yang tak terlihat. Apa yang semula menjanjikan konektivitas, justru berubah menjadi jebakan isolasi sosial dan degradasi mental.
Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa terus berpangku tangan. Polemik ini perlu diselesaikan dengan pendekatan lintas sektor dan lintas generasi. Sistem pendidikan dapat memulai memberi porsi lebih besar bagi aktivitas luar ruangan, eksplorasi alam, dan praktik reflektif yang menjauhkan sejenak peserta didik dari layar.
Kurikulum perlu menanamkan bukan hanya kecakapan digital, tetapi juga literasi emosi dan kesadaran ekologis. Orang tua harus didukung untuk hadir secara aktif dalam membimbing penggunaan teknologi anak-anak mereka.
Pemerintah perlu mengatur platform digital dengan regulasi yang melindungi kesehatan mental generasi muda, bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dari industri digital.
Lebih dari itu, kita perlu membangun kembali budaya yang menempatkan alam dan kebersamaan manusia sebagai nilai utama. Anak muda perlu diajak merasakan kembali tanah di bawah kaki mereka, bau hujan yang membasahi bumi, dan suara burung yang berkicau di pagi hari.
Hal demikian bukan romantisasi masa lalu, melainkan rekonstruksi hubungan dasar antara manusia dan dunia yang menghidupinya. Teknologi seharusnya membantu kita menjangkau lebih luas, bukan menjauhkan kita dari akar eksistensi kita sebagai makhluk hidup yang bergantung pada planet ini.
Penting juga untuk diingat bahwa regenerasi alam dan regenerasi mental generasi muda adalah dua hal yang tak terpisahkan. Dunia yang rusak tidak bisa diselamatkan oleh manusia yang rapuh. Maka, membangun ketangguhan psikologis dan sosial pada anak muda adalah bagian dari perjuangan ekologis.
Kita perlu menyadari bahwa membiarkan generasi muda larut dalam layar tanpa arah, sama saja dengan membiarkan dunia kehilangan pengharapan. Kini alam dan makhluk yang mendiami berada di titik kritis.
Dunia sedang menanti generasi yang sadar, berdaya, dan terhubung kembali dengan kenyataan. Tapi generasi itu tidak akan muncul secara otomatis jika manusia tidak bersedia membuat ruang sehat bagi tumbuh dan berkembang suatu generasi.
Masa depan bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal keberanian untuk kembali ke hal-hal mendasar: relasi yang sehat, tubuh yang bergerak, alam yang dijaga, dan jiwa yang tenang.
Jika kita gagal menjawab polemik ini dengan serius, maka yang akan diwariskan bukanlah dunia lebih baik, melainkan dunia rusak dengan anak-anak yang lelah, cemas, dan kesepian. Namun jika kita mampu menjawabnya dengan kebijakan, keberanian, dan kasih, maka generasi gelisah ini masih bisa diselamatkan—dan merekalah yang akan menyelamatkan dunia ini kembali.
Trending Now