Konten dari Pengguna

Hari Pertama Murid Baru

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
12 Juli 2025 12:13 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hari Pertama Murid Baru
Romi berdiri di depan cermin, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memastikan setiap lipatan baju jatuh sempurna dan tidak ada kerutan mengganggu.
Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak Sekolah Dasar Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak Sekolah Dasar Foto: Shutterstock
Pagi itu, aroma wangi menyeruak dari seragam baru yang tergantung rapi di balik pintu kamar. Seragam putih bersih, celana merah menyala, dan sebuah badge kecil dengan benang jahitan masih tampak segar di ujung lengan kiri.
Romi memandangi seragam itu sejenak, sebelum akhirnya mengenakan dengan rasa bangga yang sulit digambarkan. Ia berdiri di depan cermin, memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri, memastikan setiap lipatan baju jatuh sempurna dan tidak ada kerutan mengganggu.
Romi mendekatkan wajahnya ke badge kecil bergambar lambang SD Angkasa Jaya, dan menciumnya perlahan. Masih tercium bau kain dari pasar, bercampur harum sabun dan kehangatan tangan Ibu yang menjahit sendiri semalam, menandai permulaan sebuah perjalanan panjang yang belum ia pahami benar arahnya, tapi terasa begitu penting di dalam dadanya yang kecil.
Tahun itu 1980-an, masa di mana segala sesuatu masih sederhana tapi terasa hangat dan tulus. Tak ada toko daring yang bisa memilihkan ukuran dalam satu klik, tak ada seragam instan dalam plastik bersegel rapi, dan belum ada jasa antar yang mengetuk pintu rumah.
Semuanya dirawat dan disiapkan dengan cinta, mulai dari mencari kain ke pasar, memilih badge sekolah di kios kecil yang menjual pernak-pernik pendidikan, sampai menjahit sendiri dengan mesin jahit tua peninggalan nenek.
Setiap tusukan benang menjadi doa dari ibu, dan setiap lipatan baju adalah harapan agar anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berani menapaki dunia luar yang mulai terbuka.
“Nanti di sekolah, ketemu Bu Juju, ya,” kata Ibu sambil merapikan kerah Romi dengan jemari yang lembut tapi tegas. “Guru yang katanya tegas tapi sayang anak-anak. Kalau kamu dengar-dengar baik, pasti disayang balik.”
Romi hanya mengangguk pelan, menyimpan nama itu dalam benaknya seolah-olah sedang mencatat tokoh utama dari cerita yang akan ia hadapi. Ia membayangkan sosok perempuan berwibawa dengan kaca mata tebal dan suara lantang, seperti yang sering digambarkan kakak-kakak kelas.
Romi juga pernah dengar nama Pak Samidi disebut-sebut oleh para tetangga. Katanya, beliau guru olahraga yang ramah, suka bercanda, tapi kalau sudah meniup peluit, semua anak langsung baris rapi. “Kalau telat, lari keliling lapangan!” begitu cerita yang beredar.
Romi mulai membayangkan suasana sekolah seperti taman bermain yang diatur, diisi dengan tokoh-tokoh yang belum dikenal tapi sudah terasa dekat. Dua nama itu—Bu Juju dan Pak Samidi—berputar-putar di kepala Romi sepanjang perjalanan menuju sekolah pagi itu, bersamaan dengan detak jantung yang pelan-pelan mempercepat iramanya.
Sesampainya di gerbang sekolah, suasana ramai menyambutnya. Anak-anak berlari ke sana kemari, sebagian digandeng erat oleh orangtua mereka yang juga tampak gugup. Ada yang menangis, ada yang tersenyum lebar, dan ada yang hanya diam mematung seperti Romi.
Ia sempat ragu untuk melangkah masuk, merasa kecil di antara kerumunan yang ramai. Namun sebuah suara lembut memanggilnya dari samping, “Romi!” Suara yang ia kenal betul. Ia menoleh dan melihat Yuni, tetangga rumahnya yang manis, rambutnya dikepang rapi dengan jepit warna-warni, dan senyumnya seperti menyalakan kembali keberanian Romi yang sempat padam.
Dengan langkah kecil yang mulai mantap, Romi dan Yuni masuk ke halaman sekolah. Mereka tidak lagi merasa benar-benar sendiri. Tak lama kemudian, mereka bergabung dengan beberapa anak lain yang sedang duduk-duduk di bangku panjang di bawah pohon trembesi tua.
Ada Ruli yang baru dikenal, wajahnya berseri-seri seperti tidak pernah takut pada apa pun. Ada Koko, anak berkacamata yang pendiam, tapi selalu menggambar sesuatu di ujung buku tulisnya.
Ada pula Sari, dengan matanya yang berbinar-binar seperti habis menang undian, dan Ningsih yang langsung menyodorkan permen jahe dari saku rok merahnya, seolah menawarkan rasa manis guna mengusir gugup dari pagi pertama mereka.
Hari itu, meski belum dimulai dengan pelajaran membaca atau berhitung, Romi merasa seperti telah belajar banyak hal. Ia belajar bahwa keberanian tidak selalu datang dalam bentuk teriakan atau langkah besar, tetapi sering kali tersembunyi dalam langkah kecil ke gerbang sekolah dengan seragam baru.
Romi belajar bahwa pertemanan bisa tumbuh dari senyum pertama, dari kesamaan rasa takut, dan dari sebutir permen jahe yang dibagi tanpa diminta. Ia juga belajar bahwa dunia sekolah bukanlah tempat asing yang menakutkan, tapi sebuah panggung luas yang akan dipenuhi oleh kisah-kisah baru yang belum dituliskan.
Ketika bel masuk berbunyi untuk pertama kalinya, semua anak dipandu masuk ke dalam barisan. Romi berdiri di tengah-tengah teman-teman barunya, menegakkan tubuhnya, merasa lebih tinggi dari sebelumnya.
Ia masih memegang badge di lengannya, mengusapnya sekali lagi dengan jari telunjuknya, seperti menyentuh kompas kecil yang akan menuntunnya ke arah yang benar.
Di hadapannya, berdiri Bu Juju, dengan senyum yang tak setegang bayangannya. “Selamat pagi, anak-anak!” suaranya lantang, tapi hangat, membuat semua anak ikut menjawab meski sebagian masih gemetar.
Dari arah lapangan, terdengar suara peluit yang melengking. Semua kepala menoleh dan melihat seorang pria berseragam olahraga melambaikan tangan. “Itu pasti Pak Samidi,” bisik Ruli di samping Romi.
Mereka semua tertawa kecil. Suara tawa pertama itu mengalir seperti air sungai kecil yang jernih, membawa serta rasa takut, dan menggantinya dengan rasa penasaran dan harapan. Romi tersenyum, merasa bahwa semua cerita yang didengar tentang Bu Juju dan Pak Samidi akan segera menjadi nyata, dan ia akan jadi bagian dari cerita itu.
Hari pertama itu berjalan seperti kilasan mimpi yang menyenangkan. Ia mengisi daftar hadir dengan tulisan miring-miring, belajar menyanyikan lagu wajib, dan memperhatikan papan tulis yang seperti layar bioskop.
Ketika Ibu menjemput di siang hari, Romi tidak langsung bercerita, hanya menggenggam tangan Ibu sambil berjalan pulang. Di kepalanya, ada ratusan potongan gambar yang saling berebut tempat untuk dikenang, yakni badge kecil, suara peluit, sapaan hangat, dan permen jahe.
Malam harinya, Romi meletakkan seragam dengan hati-hati di kursi dekat tempat tidurnya. Ia kembali mencium badge kecil itu sebelum tidur, kini baunya sudah sedikit bercampur dengan keringat dan debu halaman, tapi bagi Romi, justru di situlah letak keindahannya.
Seragam itu kini bukan sekadar kain wangi, tapi telah menjadi saksi awal petualangannya sebagai murid sekolah dasar. Ia menutup mata sambil tersenyum, membayangkan hari esok dengan lebih berani. Tahun ajaran baru ini, pikirnya, akan jadi kisah yang tak akan pernah ia lupakan.
Trending Now