Konten dari Pengguna

Membangun Keberanian Moralitas dalam Dunia Pendidikan

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
30 Januari 2024 8:36 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Membangun Keberanian Moralitas dalam Dunia Pendidikan
Keberanian moralitas dalam dunia pendidikan melibatkan diri dalam tindakan-tindakan yang mendukung nilai-nilai positif
Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi keberanian dalam mendalami pengetahuan, sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keberanian dalam mendalami pengetahuan, sumber: Pexels
Pandangan umum seringkali mengaitkan keberanian dengan penampilan fisik seseorang. Banyak orang cenderung menilai bahwa keberanian hanya terlihat pada mereka yang memiliki kekuatan fisik yang tangguh. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki postur tubuh besar dan berotot kuat seringkali dianggap sebagai individu penuh keberanian.
Namun, pandangan tersebut seringkali tidak mencerminkan hakikat sejati dari keberanian. Keberanian sejati bukanlah sekadar gambaran fisik yang terlihat, melainkan lahir dari keadaan batiniah dan terwujud dalam tindakan nyata.
Keberanian sejati muncul dari dalam diri seseorang dan tercermin dalam keputusan-keputusan serta tindakan nyata yang diambil dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian hidup.
Seseorang yang memiliki keberanian sejati mungkin tidak selalu menunjukkan tanda-tanda fisik yang mencolok, tetapi mereka mampu berdiri teguh di tengah cobaan, menghadapi ketakutan, dan melakukan kebaikan meskipun dalam keadaan sulit.
Oleh karena itu, untuk memahami keberanian secara menyeluruh, penting untuk melampaui penilaian berdasarkan aspek fisik semata dan melihat lebih dalam ke dalam esensi nilai-nilai, keyakinan, dan integritas yang menjadi pendorong keberanian sejati.
Bicara perihal keberanian saya jadi ingat sosok orang nekat yang berani terjun dari ketinggian. Suatu pagi yang cerah di bulan Agustus 1985, aura keberanian menyelimuti lingkungan Air Terjun Niagara ketika seorang pria berusia 22 tahun, Steve Trotter, memutuskan untuk menantang takdir dengan terjun dari ketinggian 176 kaki atau sekitar 54 meter di atas air yang bergemuruh.
Tindakan nekat Trotter menjadikan dia sebagai orang ketujuh dalam sejarah yang berhasil selamat dari prestasi mencengangkan di lokasi ikonik tersebut. Trotter, dengan hati penuh adrenalin dan semangat petualang, berhasil menyelinap melalui rintangan air terjun dahsyat, menciptakan kisah yang akan dikenang selamanya.
Ketika ditanya tentang pengalaman luar biasa ini, Trotter dengan tenang menjelaskan sensasi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Baginya, terjun dari ketinggian tersebut terasa seperti mengalami momen di dalam lift tanpa kabel terpasang. Perasaan bebas dan berat tanpa batas, seolah-olah menjadi bagian dari aliran energi yang tak terukur.
Trotter dengan lugas menggambarkan betapa adrenalin memenuhi dirinya, menyatu dengan suara gemuruh air terjun yang menjadi saksi bisu keberaniannya. Momen tersebut tidak hanya menciptakan pengalaman yang sulit dilupakan bagi Trotter, tetapi juga menorehkan namanya dalam sejarah sebagai sosok yang menaklukkan keangkeran Air Terjun Niagara dengan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa.
Mark Link (2014) memperkenalkan suatu perspektif yang memperluas konsep keberanian melampaui aspek fisik, dengan menekankan dimensi yang lebih mendalam, yaitu keberanian moralitas. Dalam pandangannya, keberanian tidak hanya terkait dengan kemampuan untuk mengatasi rintangan fisik, melainkan juga terjalin erat dengan keputusan dan tindakan yang didasari oleh moralitas.
Menurut Link, moralitas menjadi fondasi yang memberikan nilai yang signifikan pada setiap tindakan seseorang, terutama ketika melibatkan pengorbanan demi mewujudkan nilai-nilai luhur. Dalam konteks demikian, keberanian moralitas dipahami sebagai kemampuan untuk berdiri teguh dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip moral yang tinggi, bahkan ketika dihadapkan pada situasi yang sulit atau memerlukan pengorbanan.
Link menegaskan bahwa keberanian fisik, meskipun dianggap positif dalam beberapa konteks, sebenarnya hanya memiliki nilai yang pasti ketika didasarkan pada keberanian moralitas yang tinggi, seperti moralitas religius atau etis. Oleh karena itu, keberanian yang terkait dengan aspek moralitas mulia dianggap lebih mendasar dan lebih dihargai daripada keberanian fisik semata.
Dalam konteks dunia pendidikan, nilai-nilai luhur tersebut menjadi fondasi yang seharusnya diajarkan kepada para murid. Para guru memiliki kesempatan penting untuk mengenalkan berbagai bentuk keberanian kepada para murid.
Keberanian mencakup kemampuan untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat dengan percaya diri, serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seperti berdeklamasi, mengekspresikan diri, dan berkontribusi pada kegiatan positif melalui program live in, kerja tim, bakti sosial, operasi sampah, penanaman pohon, penyebaran eko enzim, kegiatan camping, kepramukaan, ekskul bela diri, dan pembuatan karya ilmiah remaja.
Pentingnya keberanian moralitas dalam aneka kegiatan tersebut menciptakan makna mendalam bagi para murid. Ketika keberanian terhubung dengan nilai-nilai luhur, seperti moralitas religius atau etis, kegiatan-kegiatan tersebut bukan hanya memberikan manfaat bagi diri sendiri tetapi juga bagi sesama dan lingkungan sekitar.
Dengan mendasarkan semua kegiatan berkualitas pada keberanian moralitas, para murid tidak hanya diajak untuk menghadapi ketakutan atau rintangan secara fisik, tetapi juga untuk melibatkan diri dalam tindakan-tindakan yang mendukung nilai-nilai positif.
Sebagai contoh, melalui bakti sosial, para murid dapat merasakan sukacita moral dengan membantu mereka yang membutuhkan. Penanaman pohon, operasi sampah, dan penyebaran eko enzim menjadi wujud konkret dari keberanian untuk menjaga keberlanjutan lingkungan. Kegiatan ke-pramuka-an dan ekstra kurikuler aneka bela diri, sementara melibatkan aspek fisik, juga memperkuat karakter moral dan integritas.
Dengan demikian, perkenalan keberanian moralitas melalui beragam kegiatan sekolah dapat membantu membentuk karakter para murid dan menciptakan dampak positif yang lebih luas dalam masyarakat. Semoga setelah dididik secara baik, banyak murid yang ketika lulus memiliki keberanian dan ketangguhan dalam mengupayakan hal-hal yang baik dan mulia dalam tindakan nyata keseharian di mana pun mereka berada.
Trending Now