Konten dari Pengguna

Paradoks Martir dan Filosofi Detak Bandul: Seni Bertahan Hidup Sehari Penuh

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
4 Desember 2025 11:00 WIB
Ā·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Paradoks Martir dan Filosofi Detak Bandul: Seni Bertahan Hidup Sehari Penuh
Paradoks martir dan filosofi detak bandul: Seni bertahan hidup sehari penuh. Dengan memfokuskan diri pada "satu detak pada satu waktu", kita memberdayakan masa kini. #userstory
Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Khawatir dalam hidup, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Khawatir dalam hidup, sumber: Pexels.
Pada suatu ketika, saya dipusingkan dengan pertanyaan seorang teman pendidik bagaimana agar hidup ini tidak perlu dikhawatirkan. Dia kerap menerima kenyataan pahit, yang membuat trauma berkepanjangan terhadap masa depan.
Saya hanya bilang, bahwa dibalik kekhawatiran, ada sesuatu yang mengejutkan yang perlu disikapi secara bijaksana. Oleh karenanya, ā€œJanganlah khawatir akan hidup kita, kesulitan sekarang cukup untuk saat ini, karena besok memiliki beban hidup yang berbeda,ā€ demikian kutipan orang bijak yang biasa saya dengar.
Dalam banyak segi, analisis tentang kekhawatiran, secara mengejutkan relevan dengan gejolak psikologis dan sosial di zaman modern. Kadang orang bijak tidak hanya memberikan nasihat sederhana untuk "jangan khawatir", melainkan membingkai perintah tersebut dalam sebuah konteks perjuangan abadi.
Ilustrasi mendaki gunung. Foto: KieferPix/Shutterstock
Orang bijak itu mengakui bahwa membela kebenaran merupakan tugas yang tidak pernah mudah, menunjuk pada contoh historis seperti kisah para martir dan pembela kebenaran, menyiratkan bahwa kesulitan yang dihadapi sekarang hanyalah kelanjutan dari resistensi kuno terhadap integritas.
Pengakuan tentang kesulitan historis ini menyiapkan panggung untuk salah satu pengamatan paling sinis dan mendalam tentang sifat manusia, yang disajikan melalui kutipan dari novelis Rusia, Feodor Dostoevski. Sebuah kutipan yang berbunyi, "Manusia menolak nabi-nabi mereka dan membunuh mereka, tetapi mereka mencintai martir mereka dan menghormati orang-orang yang telah mereka bunuh" menggambarkan sebuah paradoks abadi yang sering kali meredupkan semangat para pejuang kebenaran.
Paradoks Dostoevski tersebut adalah sebuah cerminan tragis dari apresiasi retrospektif kita. Ketika seseorang berbicara tentang kebenaran yang tidak populer atau menyerukan perubahan yang menyakitkan, mereka sering kali diasingkan, ditolak, atau bahkan dihancurkan oleh masyarakat. Namun, setelah pengorbanan mereka mencapai titik klimaks (seperti kemartiran), barulah masyarakat merasa nyaman untuk "menghormati" pahlawan yang telah mereka abaikan.
Ilustrasi waktu Foto: Thinkstock
Ironi ini—menolak perjuangan hidup nabi, tetapi memuja sisa-sisa martir—menunjukkan bahwa manusia lebih mudah berinteraksi dengan sejarah yang bersih dan selesai daripada dengan kebenaran yang berantakan dan menantang yang sedang terjadi di depan mata. Memahami hal ini dapat menimbulkan keputusasaan; mengapa harus berjuang jika kita hanya akan dihargai setelah kita pergi?
Tepat ketika pembaca dihadapkan pada kekejaman filosofis ini, teks tersebut beralih dari konteks sosiologis yang luas ke ranah psikologis yang sangat personal, menawarkan penangkal yang kuat dan dapat diterapkan. Penangkal ini diwujudkan melalui narasi sederhana tentang seorang pria yang mengamati bandul jam kakeknya (Link, 2014).
Analogi bandul jam adalah inti naratif yang bertransisi dari beban sejarah (para martir) ke beban pribadi (kekhawatiran). Pria tersebut—yang secara naluriah mencoba menghitung total tugas bandul dalam setahun—mencapai angka yang mencengangkan: lebih dari tiga puluh satu juta detak. Angka yang masif dan menakutkan ini menjadi metafora yang sempurna untuk totalitas tuntutan hidup yang sering dipikul di pundak.
ilustrasi wanita cemas, stres atau depresi Foto: Shutterstock
Kekhawatiran, dalam analisis ini, bukanlah sekadar kecemasan emosional, melainkan adalah kegagalan kognitif untuk memecah tugas. Ketika kita mencemaskan seluruh beban karier, tanggung jawab keluarga, atau utang yang berlangsung selama dua puluh tahun, kita secara efektif menempatkan diri kita pada posisi bandul yang melihat angka 31.449.600 dan berteriak, "Oh, saya tidak akan pernah bisa melakukannya!"
Momen pencerahan datang ketika pria itu menyadari kebenaran yang membebaskan: bandul itu tidak harus melakukan tiga puluh satu juta detak sekaligus. Ia hanya perlu fokus pada satu detak pada satu waktu. Prinsip ini meruntuhkan ilusi totalitas yang melumpuhkan pikiran dan menggantinya dengan realitas yang dapat dikelola dan terjangkau.
Penerapan filosofi detak bandul pada kekhawatiran pribadi sangatlah mendalam. Mark Link (2014) secara eksplisit menyamakan kecemasan tentang penyakit mendadak atau hilangnya penghasilan dengan tugas bandul yang mustahil. Kita menghabiskan energi hari ini untuk menyelesaikan masalah yang jika hanya akan terjadi pada hari esok atau lusa.
Ilustrasi mahasiswa khawatir. Foto: fizkes/Shutterstock
Pesan utama terhadap hal kekhawatiran adalah undangan untuk memimpin kehidupan yang terfragmentasi secara positif. Ini berarti menolak mentalitas beban tahunan dan menerima mentalitas detak harian. Tugas terbesar di dunia—entah itu menyelesaikan sebuah novel epik atau membayar hutang besar—selalu hanya bisa diselesaikan dengan melakukan langkah kecil hari ini.
Dengan memfokuskan diri pada "satu detak pada satu waktu," kita tidak mengabaikan masa depan; kita justru memberdayakan masa kini. Setiap "detak" yang berhasil diselesaikan pada hari ini adalah fondasi yang kokoh yang secara otomatis mengurangi beban pada hari esok. Ini adalah strategi manajemen emosional yang mengajarkan ketekunan yang tenang, menentang histeria totalitas.
Dengan demikian, kajian ini menyajikan jalur yang jelas dalam mengatasi kekhawatiran: dari ironi tragis Dostoevski tentang perjuangan yang diakui terlambat menuju filosofi sederhana, tetapi revolusioner dari detak bandul. Hal demikian mengajarkan bahwa seni bertahan hidup dan berhasil dalam hidup merupakan cara estetis untuk memenangkan hari ini, membiarkan jutaan detak sisanya mengurus dirinya sendiri, asalkan kita setia pada detak tunggal yang sedang dijalani saat ini.
Trending Now