Konten dari Pengguna
Pendidikan ala Karet
3 Oktober 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Pendidikan ala Karet
Pendidikan ala Karet: Jika karet mampu menopang laju kendaraan di seluruh dunia, pendidikan pun seharusnya mampu menopang laju kemajuan manusia. #userstoryOdemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi sebuah kampung di perbatasan Jambi dan Sumatera Barat. Di sana, hamparan pohon karet (Hevea brasiliensis) tumbuh dengan tenang, seakan-akan menjadi saksi bisu kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil sadapannya.
Dari batang-batang karet itu, keluarlah getah putih—lateks—yang kemudian diolah menjadi berbagai kebutuhan vital, yakni ban kendaraan, peralatan medis, hingga beragam produk rumah tangga.
Dari sebuah pohon sederhana, lahirlah manfaat yang begitu besar. Pemandangan itu membuat saya tergerak untuk merenung bahwa pendidikan sesungguhnya punya wajah tak jauh berbeda dengan pohon karet.
Pohon karet tidak serta-merta menghasilkan lateks dalam hitungan hari. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh kuat, berakar dalam, dan baru bisa disadap. Hal ini mengingatkan kita bahwa pendidikan juga bukan proses instan. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, pemeliharaan, dan ketekunan.
Guru, orang tua, dan masyarakat dapat kita ibaratkan sebagai para petani karet yang dengan telaten merawat generasi muda hingga tiba saatnya mereka “disadap”—yakni berbagi pengetahuan, keterampilan, dan kebijaksanaan kepada dunia.
Sifat karet pun menyimpan pelajaran berharga. Dari getahnya yang sederhana, lahir produk-produk elastis, lentur, dan tahan banting. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia dengan sifat serupa, yaitu lentur menghadapi perubahan zaman, elastis dalam berpikir, dan tangguh saat menghadapi guncangan hidup.
Dunia terus bergerak cepat, penuh ketidakpastian, dan menuntut daya lenting tinggi. Di sinilah pendidikan diharapkan menjadi lahan subur yang menumbuhkan generasi dengan pikiran terbuka, adaptif, dan ulet (resilient).
Seperti ban karet yang menopang laju kendaraan, manusia berpendidikan pun berperan menopang peradaban agar tetap bergerak maju. Pendidikan bukan hanya soal kecerdasan individual, melainkan juga daya dukung sosial bagi kehidupan bersama.
Bayangkan bagaimana ban tanpa karet tidak akan sanggup menahan beban berat perjalanan; begitu pula peradaban tanpa manusia berpendidikan tidak akan sanggup menggerakkan roda kemajuan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan pondasi elastis yang menjaga agar peradaban tidak patah di tengah jalan.
Namun, pohon karet juga mengajarkan batas. Jika disadap berlebihan, pohon akan rusak, getahnya berkurang, bahkan bisa mati. Demikian pula pendidikan, para murid tidak bisa dipaksa menyerap pengetahuan tanpa henti. Ada ritme alami yang mesti dihormati, ada ruang bagi jeda, kreativitas, dan permainan.
Pendidikan yang hanya menekankan hasil tanpa memahami proses, sama seperti menyadap karet tanpa henti—akhirnya merusak pohon dan mengeringkan sumber daya. Di sinilah pentingnya kebijaksanaan dalam mengelola pendidikan agar tidak menjadikan anak sekadar “mesin produksi nilai”.
Selain itu, karet juga hanya bisa diolah dengan proses yang tepat. Getah yang dibiarkan begitu saja tidak akan berguna, bahkan bisa membusuk. Baru setelah melalui proses pengolahan, getah itu berubah menjadi bahan yang fleksibel, kuat, dan bermanfaat luas.
Hal ini sama dengan pendidikan: bakat alami murid hanyalah potensi mentah yang belum tentu menghasilkan nilai. Diperlukan proses bimbingan, kurikulum yang relevan, dan pembelajaran bermakna untuk mengubah potensi itu menjadi kompetensi nyata. Tanpa pengolahan yang tepat, talenta manusia akan terbuang sia-sia.
Pohon karet juga mengajarkan arti keberlanjutan. Kebun karet tidak ditanam hanya untuk satu musim, melainkan untuk puluhan tahun. Begitu pula pendidikan seharusnya tidak hanya memikirkan kepentingan jangka pendek seperti ujian nasional atau ranking semata, melainkan berorientasi pada keberlanjutan hidup manusia dalam menghadapi tantangan zaman.
Pendidikan perlu menanamkan nilai, etika, dan kebijaksanaan yang tahan lama, sebagaimana pohon karet yang terus memberi manfaat selama puluhan tahun setelah matang.
Narasi pohon karet juga mengandung nilai kebersahajaan. Ia bukanlah pohon anggun dengan bunga indah atau buah manis yang bisa langsung dimakan. Namun, justru dalam kesederhanaan itulah tersembunyi kekuatan besar: getahnya mampu menjadi fondasi industri global.
Pendidikan pun seharusnya tidak hanya mengagungkan yang spektakuler, seperti lomba prestisius atau angka-angka statistik, tetapi juga menghargai proses sederhana yang membentuk karakter, disiplin, dan rasa empati. Hal-hal kecil itulah yang sesungguhnya menopang kekuatan manusia.
Lebih jauh, karet adalah hasil kerja kolektif. Dari petani penyadap, pengepul, pabrik pengolah, hingga industri manufaktur—semuanya terhubung dalam rantai yang panjang.
Pendidikan juga demikian, ia bukan hanya digerakkan oleh sekolah atau guru semata, melainkan merupakan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Pendidikan menjadi ekosistem bersama yang hasilnya tidak bisa diraih tanpa kerja kolektif yang terintegrasi.
Refleksi ini semakin menegaskan bahwa pendidikan ideal bukanlah pendidikan keras, kaku, dan serba instan. Pendidikan justru perlu meniru karet, yakni fleksibel, tahan uji, dan tetap bermanfaat meski menghadapi tekanan.
Dengan fleksibilitas, manusia dapat menghadapi perubahan zaman; dengan ketahanan, mereka tidak mudah patah; dan dengan daya guna, mereka dapat memberi kontribusi nyata bagi sesama.
Pohon karet telah membuktikan dirinya bermanfaat bagi dunia. Dari sebuah desa kecil di perbatasan, getah karet bisa menjelma menjadi produk global yang menggerakkan roda kehidupan.
Demikian juga pendidikan, ia harus mampu mengangkat para murid termasuk mereka yang berasal dari kampung-kampung terpencil hingga bisa memberi kontribusi bagi dunia. Pendidikan tidak boleh berhenti pada batas lokal, melainkan dapat melahirkan manusia yang mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan akar budayanya.
Akhirnya, kita bisa belajar dari kebun karet bahwa kekuatan pendidikan terletak pada kesabaran, kelenturan, dan manfaat yang dihasilkannya. Pendidikan tidak boleh tergesa-gesa, tidak boleh serba dipaksakan, melainkan perlu dirawat dengan telaten dan berorientasi pada kebermanfaatan jangka panjang.
Jika karet mampu menopang laju kendaraan di seluruh dunia, pendidikan pun seharusnya mampu menopang laju kemajuan manusia. Kini, tinggal bagaimana kita merawatnya dengan bijaksana agar pohon pendidikan tidak pernah kering getahnya.

