Konten dari Pengguna
Polemik Kegiatan OSIS
18 Juli 2025 8:54 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Polemik Kegiatan OSIS
Tina tahu dan mengerti, di balik semua perdebatan dan drama, mereka adalah tim yang solid.Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Senja merambat pelan di balik jendela ruang OSIS SMP Nusa Bangsa di sebuah kota di ujung Pulau Jawa. Ada suara perdebatan lima sekawan pada suatu ruang, yakni Tina sang ketua OSIS yang selalu serius, Beno si bendahara teliti, Anto si humas cekatan, Ragil si kreatif yang ide-idenya kadang nyeleneh, dan Nita si sekretaris sabar. Di hadapan mereka, daftar panjang ide Pensi Gebyar Nusantara terhampar, lengkap dengan coretan dan tanda tanya besar.
"Aku tetap pada pendirian, kita harus undang semua orang tua murid," tegas Tina, matanya menatap satu per satu teman-temannya.
Beno langsung menyela, "Tina, anggaran kita mepet! Sekolah cuma menanggung 50%. Sisa 50% lagi siapa yang cari? Kalau semua orang tua diundang, berapa banyak dana yang kita butuhkan? Kita harus realistis."
"Betul kata Beno," timpal Nita lembut, "Dana kita terbatas. Mungkin kita bisa undang perwakilan orang tua dari setiap kelas dulu?"
Ragil mendengus. "Ah, terlalu formal! Pensi itu harus meriah. Kita undang saja semua, nanti kita pikirkan cara cari dananya. Jualan makanan, cuci mobil, apa saja!"
Anto yang biasanya kalem ikut bersuara, "Jualan makanan? Cuci mobil? Ini acara sekolah, Ragil. Bukan bazar RT. Kita butuh sponsor besar kalau mau undang semua orang tua. Siapa yang mau cari sponsor?" Ia melirik Tina.
Tina menghela napas. "Baik, baik. Kita punya masalah anggaran dan siapa yang cari dana. Lalu, siapa saja yang boleh tampil? Semua siswa yang daftar?"
"Jelas!" seru Ragil bersemangat. "Semakin banyak yang tampil, semakin beragam acaranya."
"Tapi kita kan punya standar, Ragil. Kualitas penampilan juga harus dijaga," ujar Tina.
Perdebatan terus memanas hingga Pak Hendro dan Bu Tika, guru pembimbing OSIS, masuk ruangan. Keduanya tersenyum melihat kegaduhan yang sudah menjadi pemandangan biasa.
"Wah, ramai sekali. Ada apa ini?" tanya Pak Hendro santai, sambil meletakkan tasnya.
Tina segera menjelaskan semua permasalahan yang mereka hadapi. Pak Hendro mengangguk-angguk. "Begini, anak-anak. Kalian ini hebat, punya ide besar. Tapi memang, merencanakan acara itu butuh strategi. Untuk masalah tamu, bagaimana kalau kita buat skala prioritas? Kita undang orang tua yang anaknya tampil, dan perwakilan komite sekolah. Sisanya bisa kita undang secara daring, misalnya kita adakan live streaming?"
Mata Ragil berbinar. "Ide bagus, Pak! Jadi, yang datang langsung ke sekolah itu terbatas, tapi yang lain tetap bisa nonton."
Bu Tika menambahkan, "Untuk masalah dana, kalian bisa membuat proposal sponsorship yang menarik. Lalu, bentuk tim khusus yang bertugas mencari donatur dan sponsor. Jangan hanya mengandalkan sekolah. Dan untuk yang tampil, kita bisa adakan audisi kecil. Jadi, ada seleksi, tapi tetap terbuka untuk semua."
Seketika suasana menjadi lebih tenang. Ide-ide dari Pak Hendro dan Bu Tika seperti air dingin yang memadamkan api perdebatan.
Beberapa minggu kemudian, ruang OSIS tak lagi diisi perdebatan sengit, melainkan dengungan aktivitas. Tina membentuk panitia-panitia kecil, yaitu tim pencari dana yang dipimpin Anto, tim audisi yang diketuai Nita, dan tim dekorasi yang dikomandoi Ragil. Beno sibuk dengan rincian anggaran, mencoba menekan setiap pos pengeluaran.
Namun, di tengah kesibukan itu, benih-benih persoalan internal mulai tumbuh. Tim pencari dana merasa kurang didukung oleh tim dekorasi yang dianggap terlalu boros. Ragil dan Anto sering beradu argumen tentang prioritas. Tina, sebagai ketua, merasa tertekan di antara keinginan teman-teman yang berbeda.
Puncaknya, seminggu sebelum hari H. Tim dekorasi tiba-tiba memutuskan mogok kerja karena merasa ide-ide mereka tidak dihargai. Ragil ngambek, mengunci diri di rumah. Tanpa dekorasi, panggung Pensi akan terlihat hambar. Tanpa Ragil, semangat tim dekorasi langsung luntur.
Tina panik. Pensi Gebyar Nusantara, yang sudah mereka impikan dan kerjakan mati-matian, nyaris tidak jadi. Ia mencoba menghubungi Ragil, namun ponselnya tidak aktif.
"Gimana ini, Tin? Kalau Ragil enggak mau bantu, dekorasi kita berantakan semua," keluh Nita, wajahnya cemas.
Beno hanya bisa menunduk, menghitung ulang anggaran yang sudah mepet. Anto mencoba menenangkan Tina, tapi ia sendiri pun terlihat lesu.
Pak Hendro dan Bu Tika datang ke ruang OSIS, melihat wajah-wajah lesu panitia. "Ada apa lagi ini?" tanya Bu Tika lembut.
Tina menceritakan semua masalah, termasuk mogoknya Ragil. Pak Hendro menghela napas. "Begini, anak-anak. Setiap acara besar pasti ada rintangannya. Kuncinya adalah komunikasi. Tina, Beno, Anto, Nita, kalian harus mendatangi Ragil. Dengarkan keluhan, pahami perasaannya. Mungkin ada kesalahpahaman."
Dengan berat hati, Tina, Beno, Anto, dan Nita mendatangi rumah Ragil. Setelah dibujuk rayu dan sedikit drama, Ragil akhirnya mau membuka pintu. Mereka berempat dengan sabar mendengarkan uneg-uneg Ragil. Ternyata, Ragil merasa idenya tentang dekorasi panggung yang terinspirasi dari rumah adat seluruh Nusantara kurang didukung karena dianggap terlalu mahal.
Tina meminta maaf, Beno menawarkan untuk mencari alternatif bahan yang lebih murah, Anto berjanji akan membantu mencarikan sponsor tambahan untuk dekorasi, dan Nita mengingatkan bahwa semua ide Ragil sangat dihargai. Akhirnya, Ragil luluh. Ia setuju kembali bergabung.
Hari Pensi Gebyar Nusantara tiba. Aula sekolah disulap menjadi sebuah panggung megah dengan dekorasi rumah-rumah adat mini yang memesona, hasil kerja keras Ragil dan timnya. Para orang tua yang hadir terpukau. Pertunjukan demi pertunjukan ditampilkan, mulai dari tari Saman yang energik, musik angklung yang syahdu, hingga drama musikal yang mengocok perut.
Di balik panggung, Tina tersenyum lega. Beno sibuk mencocokkan daftar kehadiran, Anto mondar-mandir memastikan kelancaran acara, Ragil sibuk membenarkan hiasan panggung, dan Nita dengan tenang mencatat semua yang terjadi. Mereka memang sempat ribut, nyaris menyerah, tapi pada akhirnya, semangat kebersamaan dan kerja keraslah yang membawa Pensi Gebyar Nusantara sukses besar.
Ketika acara usai dan tepuk tangan menggema, Tina menatap teman-teman. Ia tahu dan mengerti, di balik semua perdebatan dan drama, mereka adalah tim yang solid. Pengalaman ini mengajarkan mereka banyak hal, yakni tentang tanggung jawab, kompromi sehat, dan yang terpenting, tentang arti sebuah persahabatan dalam mewujudkan mimpi bersama.

