Konten dari Pengguna
Sanksi Berujung Perkara
21 Oktober 2025 16:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Sanksi Berujung Perkara
Tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menegakkan kebenaran, meski harus menanggung risiko. Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu langit di atas SMA Ramu Lestari tampak suram, seolah-olah ikut menyimpan sesuatu yang tak beres. Ujian semester sedang berlangsung, dan suasana ruang kelas XII IPA-2 hening. Hanya suara gesekan pensil dan detak jam dinding yang terdengar. Bu Rina, guru matematika yang terkenal disiplin, berdiri di depan kelas sambil sesekali berjalan di antara barisan meja.
Di barisan tengah, Robby dan Alan duduk bersebelahan. Mereka sudah bersahabat sejak SMP, sama-sama pandai berbicara tapi sering ceroboh. Ketika menghadapi soal ujian sulit, Robby mulai gelisah. Ia menatap Alan dan berbisik lirih, “Nomor lima rumusnya apa?” Alan membuka kertasnya sedikit, memberi isyarat tangan, dan menulis angka di sudut kertas.
Sayangnya, gerakan kecil itu tak luput dari pandangan Bu Rina. “Robby! Alan! Apa yang kalian lakukan?” suaranya menggema. Semua kepala menoleh. Kedua murid itu terdiam, wajah mereka memucat. Bu Rina berjalan mendekat, mengambil kertas ujian mereka tanpa bicara, lalu menulis sesuatu di lembar laporan pelanggaran.
Setelah ujian berakhir, mereka dipanggil ke ruang guru. Di sana sudah menunggu Pak Jupri, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, yang dikenal adil tapi tegas.
“Bu Rina sudah melaporkan bahwa kalian menyontek,” katanya pelan namun mantap. “Sesuai tata tertib, kalian diskors tiga hari dan nilai ujian kalian nol.”
Robby menunduk, menyesal, tapi Alan mencoba membela diri. “Pak, Bu, kami cuma saling nanya. Nggak sampai nyontek. Bu Rina salah paham.”
Bu Rina menghela napas. “Alan, saya melihat sendiri kalian bertukar kertas. Jangan berbohong.”
Alan menggigit bibirnya, tapi tidak menjawab lagi.
Keesokan harinya, Robby dan Alan dinyatakan bersalah. “Murid atas nama Robby dan Alan dinyatakan melanggar tata tertib dan dikenai sanksi skorsing tiga hari.” Demikian isi surat itu, Alan merasa malu, terutama ketika teman-temannya mulai berbisik-bisik.
Malamnya, Alan menceritakan kejadian itu kepada ibunya, Bu Tarni, seorang pedagang alat rumah tangga di pasar. Tarni dikenal keras dan tidak suka anaknya dipermalukan. “Apa? Kamu dipermalukan di sekolah?” bentaknya.
Alan mencoba menjelaskan, “Aku memang salah, Bu, tapi Bu Rina marahnya keterlaluan. Aku disuruh tanda tangan surat pernyataan, padahal aku nggak nyontek.”
Emosi Tarni memuncak. Esok paginya, ia datang ke sekolah. Tanpa janji, ia langsung masuk ke ruang guru. “Saya mau ketemu Bu Rina!” serunya dengan nada tinggi. Guru-guru lain kaget. Bu Rina yang baru datang dari kelas langsung menemuinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”
“Bantu? Anak saya dipermalukan dan dipaksa mengaku nyontek!” katanya keras. “Guru macam apa yang menekan murid sampai nangis?”
Pak Jupri datang mencoba menenangkan. “Bu Tarni, mari kita bicarakan baik-baik.”
Tapi Tarni tak mau mendengar. Ia menuding Bu Rina. “Saya akan laporkan Ibu ke polisi. Ini sudah termasuk pelecehan psikologis terhadap anak saya.”
Suasana ruang guru menjadi tegang. Setelah Tarni pergi, Bu Rina hanya bisa duduk lemas. Ia merasa apa yang dilakukannya adalah bentuk tanggung jawab. Tapi kini, ia justru jadi pihak tertuduh.
Beberapa hari kemudian, benar saja, panggilan dari kepolisian datang. Laporan resmi dari Tarni diterima. Tuduhannya: “Tekanan psikologis terhadap anak di bawah umur di lingkungan pendidikan.”
Berita itu cepat menyebar. Media lokal menulis judul besar: Guru Diduga Tekan Murid Hingga Trauma.
Bu Rina menangis di ruang kepala sekolah. “Saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun, Pak. Saya hanya ingin anak-anak belajar jujur.”
Kepala sekolah menepuk pundaknya. “Saya percaya, Bu. Tapi kita harus hadapi ini dengan tenang.”
Sementara itu, Robby merasa semakin bersalah. Ia tahu kejadian itu bermula karena dirinya yang lebih dulu meminta bantuan Alan. Di rumah, ia tidak bisa tidur. “Aku yang salah. Tapi Bu Rina yang disalahkan,” gumamnya.
Keesokan harinya, ia menulis surat panjang dengan tangan sendiri, berisi pengakuan bahwa mereka memang menyontek dan bahwa Bu Rina tidak pernah memaksa atau menekan siapa pun. Ia menyerahkan surat itu langsung ke kepala sekolah.
Surat itu kemudian diserahkan kepada penyidik sebagai bukti baru. Polisi memanggil Robby dan beberapa saksi dari kelas mereka. Semua bersaksi bahwa Bu Rina hanya menegur dengan nada tegas, tanpa makian atau ancaman. Setelah pemeriksaan berjalan hampir dua minggu, pihak kepolisian menyatakan tidak ada unsur pidana dalam tindakan Bu Rina. Laporan Tarni pun dinyatakan tidak cukup bukti dan dihentikan.
Ketika kabar itu sampai ke sekolah, banyak guru menitikkan air mata lega. Bu Rina masih terlihat murung, tapi Pak Jupri menenangkannya. “Kebenaran memang kadang terlambat menang, Bu. Tapi dia tidak akan hilang.”
Suatu sore, setelah jam pelajaran usai, Alan datang ke ruang guru. Ia berdiri lama di depan pintu, menatap Bu Rina yang sedang merapikan berkas ujian.
“Bu…” suaranya pelan, nyaris tak terdengar. “Saya minta maaf. Saya terlalu takut waktu itu. Saya tahu kami salah. Saya juga sudah bilang ke Ibu saya kalau semua itu salah paham.”
Bu Rina menatapnya lama, lalu tersenyum lembut. “Saya tidak marah, Alan. Saya hanya ingin kamu belajar dari kesalahan. Kadang kejujuran itu menyakitkan, tapi hanya itu yang membuat kita tumbuh jadi manusia sejati.”
Alan menunduk, matanya berair. “Terima kasih, Bu.” Ia keluar dengan langkah ringan, seakan-akan beban berat dirinya terangkat.
Beberapa minggu kemudian, kepala sekolah mengadakan rapat dengan para guru dan murid. Ia menegaskan kembali pentingnya disiplin, tapi juga pentingnya empati dan komunikasi antara guru, murid, dan orang tua. “Kesalahpahaman bisa menjadi perkara besar jika kita tidak saling mendengar,” katanya bijak.
Robby dan Alan kembali aktif belajar. Mereka kini duduk di barisan depan, berusaha menunjukkan bahwa mereka sudah berubah. Kadang Bu Rina melihat mereka dari kejauhan dan tersenyum kecil. Ia tahu, badai sudah berlalu, tapi pelajarannya akan tetap tertanam.
Sejak kejadian itu, sekolah menjadi lebih hati-hati dalam menangani pelanggaran. Guru tidak hanya menegakkan disiplin, tetapi juga berusaha memahami latar belakang setiap murid. Sementara para murid mulai menyadari bahwa kejujuran bukan hanya soal nilai, tapi soal harga diri dan keberanian.
Bagi Bu Rina, pengalaman itu menjadi luka sekaligus pelajaran. Ia menulisnya dalam catatan pribadinya:
“Tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi juga menegakkan kebenaran, meski harus menanggung risiko. Namun, di balik setiap kesalahpahaman, selalu ada kesempatan untuk saling memahami kembali.”
Dan di halaman terakhir catatan itu, ia menulis satu kalimat kecil yang menjadi renungan bagi seluruh sekolah:
“Kebenaran memang bisa diseret ke ruang perkara, tapi ia (seharusnya) tidak pernah bisa dipenjara.”

