Seni Bela Diri, Olahraga Berkarakter dalam Pendidikan

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tanggal 8 Agustus 2024, saya berkesempatan mengunjungi SMP Strada Kampung Sawah di Kota Bekasi. Ketika tiba di sana, saya melihat para murid tengah berlatih seni bela diri karate dengan penuh semangat di lapangan sekolah.
Ketika melihat mereka berlatih, saya kembali merasakan nostalgia kuat, mengingatkan betapa besar pengaruh seni bela diri dalam perjalanan hidup personal. Kesan dan nilai-nilai yang dipelajari dari pengalaman tersebut terus membentuk pandangan hidup saya hingga hari ini.
Pemandangan demikian segera membangkitkan kenangan masa kecil, lebih dari empat dekade silam, ketika saya juga merasakan ketertarikan yang sama terhadap dunia seni bela diri.
Energi dan antusiasme yang terpancar dari para murid tersebut mengingatkan saya pada masa lalu, penuh dengan rasa kagum dan rasa ingin tahu. Saya tertarik oleh kekuatan dan keindahan dalam setiap gerakan, serta dedikasi bela diri yang ditunjukkan.
Kenangan saya kembali ke tahun 1981, saat saya masih berusia 8 tahun. Setiap sore menjelang malam, saya sering bermain di tanah lapang sebelum akhirnya berjalan menuju aula belakang di SD Angkasa 1 Halim Perdanakusumah.
Di sana, saya sering berdiri di tepi aula, terpesona melihat para murid senior berlatih seni bela diri. Meskipun saat itu belum sepenuhnya memahami jenis bela diri yang mereka latih, saya sudah dapat merasakan kekuatan dan disiplin di balik tiap jurus yang ditampilkan.
Pengalaman melihat tersebut ternyata menjadi bibit yang tumbuh subur dalam diri saya. Ketika keluarga kami pindah rumah ke Kampung Sawah pada tahun 1983, saya mulai serius berlatih Taekwondo di halaman SD Strada Kampung Sawah sekitar tahun 1986.
Kecintaan saya pada seni bela diri berlanjut selama masa SMP pada tahun 1987-1990 dan berlatih dengan guru Pak Ibon di dekat kompleks Bulog 1. Saat itu, lokasi latihan kami, tak jauh dari pintu gerbang perumahan Bulog 1 yang sedang dibangun, namun semangat kami tidak pernah luntur.
Melalui perjalanan panjang ini, saya mulai menyadari betapa pentingnya peran bela diri dalam membentuk karakter. Lebih dari sekadar olahraga fisik, seni bela diri adalah sarana yang sangat efektif dalam pendidikan karakter. Di dalamnya, tertanam nilai-nilai keberanian, kejujuran, tanggung jawab, dan kesetiaan pada kebenaran.
Sebagai contoh, dalam latihan Taekwondo, para praktisinya diwajibkan mengucapkan janji sebelum memulai latihan atau pada saat upacara bela diri:
Janji Taekwondo Indonesia: (1) Menjunjung tinggi nama bangsa dan negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. (2) Mentaati azas-azas Taekwondo Indonesia. (3) Menghormati pengurus, pelatih, senior, dan sesama Taekwondoin dalam mengembangkan Taekwondo Indonesia. (4) Selalu berlaku jujur dan bertanggung jawab dalam menjaga nama baik Taekwondo Indonesia. (5) Menjadi pembela keadilan dan kebenaran.
Begitu pula dalam Karate, terdapat janji yang hampir serupa, yakni: (1) Sanggup memelihara kepribadian. (2) Sanggup patuh pada kejujuran. (3) Sanggup mempertinggi prestasi. (4) Sanggup menjaga sopan santun. (5) Sanggup menguasai diri.
Janji yang diucapkan dalam seni bela diri bukan sekadar rangkaian kata, tetapi merupakan pedoman moral dalam menanamkan semangat luhur dalam diri setiap anggotanya. Dengan mengingat dan mengamalkan janji ini, para praktisi bela diri diharapkan dapat mengupayakan keluhuran dalam setiap tindakan, menjadikan janji tersebut sebagai landasan bagi tindakan dan keputusan mereka.
Dari janji-janji tersebut, terlihat jelas bahwa seni bela diri bukan hanya tentang latihan fisik yang berfokus pada teknik dan kekuatan, tetapi juga sebagai sarana pengembangan karakter mulia. Seni bela diri mengajarkan nilai-nilai seperti disiplin, keberanian, dan rasa hormat, yang semuanya penting dalam pembentukan pribadi utuh dan seimbang.
Melalui latihan konsisten dan penuh dedikasi, siswa bela diri tidak hanya mempelajari gerakan tertentu tetapi juga menginternalisasi prinsip-prinsip moral yang membimbing mereka dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, bela diri menjadi lebih dari sekadar olahraga; yakni juga menjadi sarana dalam membentuk mentalitas tangguh dan etika yang tinggi.
Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mendukung sekolah-sekolah yang menyediakan kegiatan ekstrakurikuler seni bela diri sebagai bagian dari kurikulum mereka. Kegiatan seperti ini menawarkan kesempatan bagi siswa agar tidak hanya mengasah keterampilan fisik, tetapi juga memperkaya pengalaman mereka dengan pelajaran berharga tentang nilai-nilai kehidupan.
Dengan menyediakan ruang bagi siswa agar terlibat dalam latihan seni bela diri, sekolah berkontribusi pada pengembangan karakter generasi muda yang lebih kuat, disiplin, dan bertanggung jawab. Dukungan terhadap program-program seperti ini adalah investasi dalam masa depan penuh dengan individu yang memiliki integritas dan rasa tanggung jawab tinggi.
Sebagai catatan akhir, diharapkan bahwa dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler seni bela diri, karakter peserta didik dapat terbentuk dengan baik. Sekolah-sekolah seharusnya melihat bela diri bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi sebagai sarana utama dalam membentuk karakter mulia.
Melalui seni bela diri, siswa dapat belajar disiplin, rasa tanggung jawab, dan penghormatan terhadap orang lain, yang semuanya merupakan aspek penting dalam pendidikan karakter. Oleh karena itu, integrasi bela diri ke dalam kurikulum sekolah menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pendidikan karakter berjalan seiring dengan pendidikan akademis.
Dengan menjadikan seni bela diri sebagai salah satu kegiatan utama, kita dapat membentuk generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga kokoh dalam moral dan etika. Seni bela diri memiliki potensi besar untuk menanamkan nilai-nilai positif yang akan membekali mereka dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Generasi muda yang bertumbuh dalam lingkungan yang menekankan pentingnya integritas, keberanian, dan penghormatan terhadap orang lain akan menjadi pilar masyarakat lebih baik di masa depan.
