Konten dari Pengguna

Sepotong Senyum Mawar

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
9 Agustus 2025 16:51 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sepotong Senyum Mawar
Di sudut kamar, cermin retak memantulkan senyum Mawar yang damai, senyuman yang akhirnya mencapai hatinya.
Odemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi, senyum yang tertahan, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi, senyum yang tertahan, sumber: Pexels.
Malam meneteskan kesepian seperti lilin yang sedang mencair di balik meja. Di sudut kota yang tak pernah benar-benar tidur, Mawar berjalan dengan langkah ringan, namun hatinya terasa berat.
Di gemerlap lampu jalan, wajah semunya tampak seperti cermin retak—cantik, tetapi tergores luka yang tak kasat mata. Para lelaki melirik dengan pandangan yang tak memerlukan kata-kata lagi, hanya transaksi rupiah yang tergambar di mata mereka.
Mawar tersenyum, senyuman yang telah terlatih dengan baik. Akan tetapi senyum itu tak pernah sampai ke mata hatinya. Dalam senyumnya, ada kepahitan, seperti rasa pahit empedu yang tertinggal di pangkal lidahnya. Dia menjadi bagian dari malam, hidup dalam gelapnya, menari di antara bayang-bayang keinginan dan penyesalan.
Lelaki datang dan pergi, membawa janji-janji kosong yang hanya terucap di bibir. Belaian mereka tak lebih dari angin dingin yang melintas, menyentuh kulit tetapi tak pernah mencapai lubuk hati.
Setiap malam, Mawar merasa hidupnya diiris menjadi serpihan kecil, seperti kertas yang digunting perlahan, meninggalkan jejak luka yang tak terlihat. Mimpi tentang rumah tangga yang pernah ia bangun dalam kepalanya kini hanya menjadi reruntuhan total, seperti kastil pasir yang dihancurkan ombak.
Malam itu, di sebuah sudut jalan yang remang, Mawar berpapasan dengan beberapa teman sekolahnya dulu. Mereka mengenali dirinya, dan dengan cepat ejekan tajam meluncur dari mulut mereka seperti panah yang tak bisa dihindari.
"Perempuan murahan," salah satu dari mereka berbisik, cukup keras untuk memastikan Mawar mendengar. Yang lain menambahkan, "Kita harus melaporkan ini ke orang tuanya di kampung. Mereka berhak tahu apa yang dia lakukan di sini."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang pernah Mawar bayangkan, seperti cawan yang pecah dan tak dapat diisi lagi. Di tengah gemerlap malam yang penuh kebisingan, ia merasa lebih kosong dari sebelumnya. Mawar ingin berlari, berteriak, atau mungkin hanya menghilang, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah berdiri diam, merasakan tiap luka yang mereka goreskan dengan kata-kata tajam menusuk.
Ketika pagi tiba, Mawar pulang ke kamar mungil sewaan, dinding-dindingnya dipenuhi oleh aneka bayangan mimpi yang pernah dimiliki. Mawar duduk di depan cermin yang retak, melihat wajahnya sendiri, wajah yang dulu dibanggakan.
Kini, wajah itu tampak lelah, dengan mata yang tak lagi bersinar. Ada borok di pangkal pahanya, luka yang ditutupi dengan kain tipis, tetapi rasa sakitnya tak pernah bisa disembunyikan dari dirinya sendiri.
"Kenapa aku di sini?" gumamnya lirih, pertanyaan yang telah ia tanyakan berkali-kali, tetapi tak pernah mendapatkan jawaban. Dalam kesunyian kamarnya, ia mendengar suara hatinya sendiri, suara yang telah lama diabaikan. Suara itu mengingatkan pada seorang teman yang dulu dimiliki, seseorang yang selalu ada untuknya, tetapi kini telah pergi.
Teman itu, seorang lelaki bernama Johan, adalah satu-satunya cahaya dalam hidup Mawar yang gelap. Johan mencintainya tanpa syarat, tetapi Mawar terlalu buta untuk melihatnya. Ia memilih jalan yang salah, meninggalkan Johan dan mengejar kehidupan yang dipikir akan membahagiakannya.
Kini, ia hanya bisa mengingat senyum Johan yang hangat, tatapannya yang penuh pengertian, dan kata-katanya yang selalu menenangkan.
"Maafkan aku, Johan," bisik Mawar, air mata mengalir di pipinya. Ia tahu bahwa persahabatan mereka telah lama berakhir, dan tak ada cara untuk mengembalikannya. Tetapi di dalam hatinya, ia masih merindukan kehadiran Johan, merindukan cinta yang tak pernah ia hargai.
Malam itu, Mawar merasa dunia batinnya semakin gelap. Ia tak lagi memiliki kekuatan untuk bangkit, melanjutkan hidupnya yang penuh kepalsuan. Ia terjatuh di lantai kamar, tubuhnya lemah dan tak berdaya. Mata sayunya menatap langit-langit, mencoba mencari harapan yang telah lama hilang.
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu di wajahnya. Seekor semut kecil merayap mendekat, mengendus kulitnya yang dingin. Mawar tak bergerak, membiarkan semut itu mendekat dan mengecup pipinya.
Dalam momen kecil itu, ada sesuatu yang berubah dalam hatinya. Ia merasa ada kehidupan, meski kecil, yang masih mengelilinginya. Semut itu seolah-olah membawa pesan dari alam, pesan bahwa ia tak sepenuhnya sendirian.
Hatinya yang kosong mulai menyala, seperti lilin kecil yang menyala di tengah kegelapan. Mawar menangis, tangis yang ditahan selama bertahun-tahun akhirnya pecah. Ia menangisi hidupnya, pilihan-pilihannya, dan semua yang telah ditinggalkan. Tetapi di tengah tangisnya, ia merasakan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya—pengampunan.
Mawar teringat Tuhan, sosok yang pernah ia lupakan. Dalam pikirannya, ia melihat tangan Tuhan yang terulur, menawarkan pengampunan bagi yang tak berdaya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berdoa, "Tuhan, kasihanilah saya, orang berdosa."
Tangisnya semakin deras, hingga tenggorokannya kering. Tetapi di tengah kepedihan itu, ada kedamaian yang perlahan-lahan mengisi hatinya. Ia merasa beban yang selama ini menghimpit mulai terangkat. Ia tahu bahwa hidupnya tak akan kembali seperti dulu, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa damai.
Dan di momen terakhir hidupnya, Mawar mengembuskan napas terakhir dengan senyum di wajahnya. Senyum yang bukan karena transaksi, bukan karena kepalsuan, tetapi karena cinta sejati yang ditemukan dalam Tuhan. Doa dirinya sampai ke langit, membawa jiwanya ke tempat yang lebih baik.
Kamar kecil itu menjadi sunyi kembali, tetapi ada kehangatan yang tersisa. Semut-semut kecil berjalan perlahan menjauh, seolah-olah mereka tahu bahwa tugas mereka telah selesai. Di sudut kamar, cermin retak memantulkan senyum Mawar yang damai, senyuman yang akhirnya mencapai hatinya.
Trending Now