Konten dari Pengguna
Susahnya Membaca Buku, Kok Bisa?
2 Oktober 2025 13:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Susahnya Membaca Buku, Kok Bisa?
Susahnya membaca buku, kok bisa? Yang terpenting adalah bagaimana menyalakan api kecil dalam diri seseorang. Dan ketika api itu menyala, ia akan tumbuh menjadi cahaya yang tak mudah padam. #userstoryOdemus Bei Witono
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di masa depan—tepatnya di tahun 2034—Ratna tertegun memandang tumpukan buku di perpustakaan sekolah. Baginya, buku-buku itu seperti penyakit sampar yang harus dihindari. Bau kertas yang menua, barisan huruf yang rapat, dan tebalnya halaman membuatnya merasa pusing sebelum sempat memulai.
Ia sering bertanya dalam hati, “Mengapa orang suka membaca? Bukankah lebih seru bermain gim, jalan-jalan, atau sekadar mengobrol santai di kafe?”
Baginya, membaca hanyalah beban tambahan, sesuatu yang membuang waktu dan membuat kepala penuh. Pandangan itu pun menular pada keseharian Ratna, hingga ia selalu menghindari perpustakaan seolah tempat itu merupakan ruang asing yang membosankan.
Teman-temannya—Agus, Niman, Nita, Wulan, dan Rajab—nyaris memiliki pandangan sama. Mereka lebih senang menghabiskan waktu dengan aktivitas yang dianggap lebih menyenangkan, yakni nongkrong di kafe, bersepeda keliling kota, bermain gim online sampai larut malam, atau sekadar jalan-jalan tanpa tujuan jelas.
Dalam kelompok itu hanya satu orang yang berbeda, yakni Sari. Gadis berwajah teduh itu tekun belajar, rajin membaca buku, dan tak jarang menuliskan catatan kecil tentang hal-hal yang ia renungi.
Perbedaan kebiasaan itu sering membuat Sari jengkel; sebab setiap kali ia membuka buku dan mencoba berkonsentrasi, teman-temannya kerap datang mengajaknya pergi bersenang-senang.
Suatu sore, Sari duduk termenung di bangku sekolah yang sepi. Di hadapannya tergeletak sebuah buku setengah terbuka, tapi pikirannya tak lagi fokus pada barisan kalimat. Ia bertanya-tanya dalam hati, bagaimana caranya menumbuhkan minat baca di kalangan teman-temannya?
Sari paham betul, buku bukan sekadar kumpulan huruf, melainkan jendela ke dunia luas, tempat gagasan dan imajinasi tumbuh tanpa batas. Namun, bagaimana membuat orang lain menyadari keajaiban itu, sementara mereka lebih senang mengejar hiburan serba instan? Pertanyaan itu terus mengusik, hingga akhirnya Sari bertekad mencari jalan keluar.
Akhirnya, kesempatan itu datang. Sari mendapat kabar dari kampung bahwa sepupunya sedang mencari dua buku filsafat dan sastra. Ia tahu, kedua buku itu bukan bacaan biasa.
Buku filsafat yang dicari berisi perjalanan aneka pemikiran memikat, sedangkan buku sastra yang dicari mengenai padang yang bukan sekadar hamparan rumput liar, melainkan ruang penuh kehidupan, simbol kebebasan, dan tempat menemukan keceriaan masa kecil. Karya sastra ini kaya akan keindahan bahasa dan cerita menyentuh.
Maka dengan penuh semangat, Sari mendekati teman-temannya. “Teman-teman, kalian sering mengajak gue jalan-jalan. Kali ini gantian, temani gue mau mencari buku untuk saudaraku di pelosok desa. Judulnya menarik, loh. Kalian mau kan?” katanya dengan nada penuh harap.
Mendengar permintaan itu, awalnya mereka malas. Membayangkan masuk ke toko buku saja sudah membuat mereka menguap. Namun, karena merasa berutang pada Sari yang selama ini selalu menuruti ajakan mereka, akhirnya mengangguk setuju. Maka, dimulailah perjalanan baru yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya: berburu buku.
Dari satu toko ke toko lain, dari pusat perbelanjaan yang rapi hingga pasar loak di Kwitang yang penuh sesak. Anehnya, pencarian itu justru terasa seperti sebuah petualangan. Rasa penasaran perlahan tumbuh di hati mereka.
Pencarian itu berlangsung berhari-hari, penuh tawa, lelah, dan perdebatan kecil tentang toko mana yang sebaiknya dikunjungi. Namun, semua usaha itu terbayar ketika akhirnya mereka menemukan kedua buku yang dicari.
Di salah satu kios buku bekas, Rajab bersuara sambil mengangkat alis, “Kenapa sih orang di pelosok desa sampai minta buku ini?” Nita—yang ikut membolak-balik sampul lusuh—menjawab sambil tersenyum, “Mungkin isinya bagus. Lihat deh, halaman pertama saja sudah bikin penasaran.”
Agus dan Niman saling pandang, tak menyangka buku bisa memancing rasa ingin tahu seperti itu. Sementara Wulan mulai membaca sinopsis di sampul belakang, seolah mencari alasan lebih untuk memahami daya tariknya.
Ratna, yang biasanya alergi pada buku, tak tahan untuk membuka lembar pertamanya. Tiba-tiba ia terdiam, matanya menelusuri kalimat demi kalimat. “Eh, ini menarik juga, ya,” gumamnya tanpa sadar. Dari situlah segalanya berubah.
Begitu buku itu berada di tangan, mereka berebut untuk membaca. Buku pertama dengan segala penjelasan filsafatnya membuat mereka berpikir lebih dalam tentang kehidupan, tentang siapa diri mereka sebenarnya, dan mengapa dunia berjalan seperti adanya.
Sementara buku kedua menghadirkan nuansa sastra segar, penuh imajinasi dan keindahan bahasa yang jarang ditemukan dalam hiburan sehari-hari. Mereka mendadak tenggelam dalam dunia baru yang sebelumnya mereka hindari.
Ironisnya, mereka begitu asyik membaca hingga hampir lupa bahwa buku-buku itu seharusnya segera dikirimkan ke pelosok desa. Ratna, yang dulu membenci buku, kini justru tak bisa melepaskan diri dari alur cerita.
Agus dan Niman mulai berdiskusi, saling adu pendapat tentang tokoh-tokoh yang mereka temui di halaman buku. Wulan dengan tekun mencatat kalimat favorit di buku catatan kecilnya. Bahkan Rajab—yang biasanya tak bisa lepas dari gim di ponselnya—rela menunda permainan demi melanjutkan bacaan.
Melihat perubahan itu, Sari hanya tersenyum puas. Strateginya berhasil. Ia tidak perlu memaksa atau memberi ceramah panjang tentang pentingnya membaca. Ia cukup menyalakan rasa penasaran mereka dengan sebuah misi sederhana: membantu mencari buku.
Dari situlah, jalan menuju kecintaan pada literasi mulai terbuka. Sari belajar bahwa memotivasi orang lain tidak selalu harus dengan kata-kata serius, tetapi bisa lewat pengalaman nyata yang menggerakkan hati.
Setelah mereka selesai membaca sebagian secara bergiliran, akhirnya buku itu dikirimkan juga kepada sepupu Sari di kampung. Namun, pengalaman mereka tidak berhenti di situ. Justru, rasa penasaran yang sudah tumbuh membuat mereka bertekad membeli buku yang sama untuk masing-masing.
Kali ini mereka pergi ke toko buku dengan sukarela; bukan lagi karena ajakan Sari, melainkan karena dorongan hati sendiri. Semangat baru itu membuat mereka seperti menemukan hobi yang selama ini tersembunyi.
Kini, setiap kali mereka berkumpul, bukan hanya obrolan tentang jalan-jalan atau gim yang terdengar. Ada pula diskusi hangat tentang tokoh-tokoh dalam buku, perdebatan tentang makna kehidupan yang mereka temui, bahkan rencana untuk menulis aneka cerita sendiri.
Ratna—yang dulu tertegun menatap buku seolah-olah musuh—kini justru menjadikan membaca sebagai pelarian favorit. Ia menyadari bahwa buku bukanlah penyakit sampar, melainkan obat yang menyembuhkan kebosanan sekaligus membuka cakrawala baru.
Dari dua buku yang awalnya hanya titipan, lahirlah kebiasaan baru di antara mereka, yakni membaca dan berdiskusi. Sari merasa lega, sebab usahanya tidak sia-sia. Ia tahu, literasi memang membutuhkan strategi, kesabaran, dan sedikit siasat.
Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana menyalakan api kecil dalam diri seseorang. Dan ketika api itu menyala, ia akan tumbuh menjadi cahaya yang tak mudah padam. Begitulah, dari cerita sederhana tentang “susahnya membaca”, akhirnya lahir sebuah kebersamaan baru penuh makna.

