Konten dari Pengguna

Anas Al Sharif: Suara Gaza yang Dibungkam

Arvenda Prihanarko
Guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung, Alumnus Magister Manajemen Pendidikan Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta.
18 Agustus 2025 10:16 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Anas Al Sharif: Suara Gaza yang Dibungkam
Organisasi pemantau independen mencatat angka kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya. CPJ mencatat hampir 190 jurnalis dan pekerja media telah gugur hingga awal Agustus ini.
Arvenda Prihanarko
Tulisan dari Arvenda Prihanarko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Instagram.com/anas.jamal33
zoom-in-whitePerbesar
Instagram.com/anas.jamal33
Sejak dimulainya konflik 7 Oktober 2023, wartawan yang meliput konflik di Gaza menghadapi ancaman yang mengerikan, bukan sebagai saksi peristiwa tetapi juga sebagai korban langsung.
Organisasi pemantau independen mencatat angka kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Committee to Protect Journalists (CPJ) mencatat hampir 190 jurnalis dan pekerja media telah gugur hingga awal Agustus 2025, belum ditambah korban serangan terakhir yang menewaskan 5 jurnalis Al Jazeera pada 10-11 Agustus 2025.
Anas al-Sharif, seorang koresponden muda yang dicintai rekan-rekannya, gugur ketika tenda tempat para jurnalis berlindung di sekitar Rumah Sakit al-Shifa dihantam serangan udara. Anas memang pernah bertekad dalam postingannya di media sosial, bahwa akan terus bertahan di Gaza atau pergi (gugur) ke syurga.

Anas Al-Sharif Sang "Voice of Gaza"

Lahir pada 1996 di Kamp Pengungsi Jabalia, Anas Jamal al-Sharif tumbuh di tengah puing-puing peperangan. Wajahnya kini terpampang di berbagai berita, sebagai simbol keberanian para jurnalis, yang terus meliput berita dan bersuara meski suara peluru terus mendekat. Ia dikenal sebagai "suara terakhir dari Gaza Utara", sebagaimana disebut oleh organisasi jurnalis internasional, setelah sebelumnya dijuluki sebagai sang "voice of Gaza"
Tak sedikit warga dunia yang heran mengapa pemberitaan dari Gaza Palestina bisa mempunyai kualitas yang sangat baik, sebabnya ternyata para jurnalis Palestina adalah jurnalis terbaik. Seperti Anas, yang berhasil menyelesaikan pendidikan di Fakultas Media Universitas Al-Aqsa, lalu menjadi relawan di Al-Shamal Media Network, hingga kemudian bergabung dengan Al Jazeera dan menjadi salah satu wajah paling dikenali dalam laporan konflik Gaza.
Pada Desember 2023, sang ayah, Jamal al-Sharif, gugur dalam serangan udara Israel yang menghancurkan rumah mereka. Meski begitu, Anas berjanji kepada dunia untuk terus bersuara:
Karena dedikasinya, Anas pernah menerima penghargaan Best Young Journalist in Palestine pada 2018 dan Human Rights Defender Award dari Amnesty International Australia. Anas juga pernah menjadi bagian dari tim Reuters yang memperoleh Pulitzer Prize for Breaking News Photography 2024 atas peliputan perang Gaza.

Sebuah Pesan Wasiat

Beberapa jam sebelum gugur, Anas masih mengunggah video di X dengan caption, "Pemboman tanpa henti... selama 2 jam terakhir, serangan Israel di Kota Gaza makin intensif".
Sebelum kepergiannya, Anas sempat membuat kata-kata terakhir sebagai kalimat perpisahan untuk masyarakat dunia:
“If these words reach you, know that Israel has succeeded in killing me and silencing my voice... I have lived through pain in all its details... yet I never hesitated to convey the truth as it is... Do not forget Gaza… And do not forget me in your sincere prayers.”
"Jika kata-kata ini sampai kepada Anda, ketahuilah bahwa Israel telah berhasil membunuhku dan membungkam suaraku... Aku telah hidup melalui rasa sakit dalam semua detailnya... namun aku tak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran apa adanya... Jangan lupakan Gaza... Dan jangan lupakan saya dalam doa tulus Anda."

Anas Menjadi Target Pembunuhan

Minggu malam pukul 23.22 waktu setempat, sebuah serangan udara secara tiba-tiba menghantam tenda jurnalis utama di pintu gerbang Rumah Sakit al-Shifa, Gaza City. Menewaskan 7 orang, termasuk Anas al-Sharif. IDF mengaku melancarkan serangan dengan alasan bahwa Anas adalah “pemimpin sel Hamas” dan menyamar sebagai jurnalis, tuduhan mengada-ada tanpa bukti yang langsung dibantah keras oleh Al Jazeera, organisasi HAM, dan RSF.
Pada Senin dini hari, peti-peti jenazah para jurnalis dibawa dari Rumah Sakit al-Shifa menuju pemakaman di Gaza City’s Sheikh Radwan Cemetery. Ribuan pelayat hadir, dengan tuntutan agar masyarakat internasional mengambil tindakan.
Guardian dan berbagai pihak lainnya menyebut insiden ini sebagai salah satu serangan paling brutal terhadap kebebasan pers. RSF menyebutnya sebagai “pembunuhan yang diakui oleh militer Israel” terhadap jurnalis yang jelas-jelas diyakini sebagai warga sipil. Sementara RSF, PBB dan berbagai lembaga dunia lain menuntut penyelidikan atas dugaan kejahatan perang yang jelas-jelas terjadi.
Anas al-Sharif telah pergi menemui Tuhannya, meninggalkan seorang istri, Ummu Salah (Bayan), dan dua anak kecil. Kisah Anas, dan kisah-kisah jurnalis Gaza lainnya, menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan menyebarkan berita dan kebenaran sangat beresiko. Di tengah penjajahan Israel, pekerjaan ini telah menjadi satu ujung tombak perjuangan tersendiri, di samping perlawanan para pejuang dan dukungan dunia untuk kemerdekaan Palestina.
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki". (QS. Ali Imran : 169)
Trending Now