Konten dari Pengguna

Setiap Hari Ada Pelecehan Seksual yang Terjadi di Dunia Pendidikan Kita

Arvenda Prihanarko
Guru di SD Muhammadiyah 7 Bandung, Alumnus Magister Manajemen Pendidikan Univ. Ahmad Dahlan Yogyakarta.
1 Oktober 2025 17:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Setiap Hari Ada Pelecehan Seksual yang Terjadi di Dunia Pendidikan Kita
KPAI mencatat, tahun 2023, ada lebih 861 kasus kekerasan di sekolah dan hampir separuhnya kekerasan seksual. Artinya, setiap hari ada 2 - 3 anak sekolah menjadi korban.
Arvenda Prihanarko
Tulisan dari Arvenda Prihanarko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Freepik.com
Kutipan ini berasal dari seorang siswi SMP di Jakarta yang pernah mengalami pelecehan oleh gurunya sendiri. Ia butuh waktu berbulan-bulan sampai akhirnya berani menceritakan peristiwa itu pada orang tuanya. Sayangnya, ketika kasus dibawa ke pihak sekolah, respons yang muncul bukan perlindungan, melainkan kekhawatiran soal nama baik lembaga.
Kisah itu bukan satu-satunya. Seorang guru ngaji di Tebet, Jakarta Selatan, ditangkap tahun lalu karena diduga mencabuli murid-muridnya. Di Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, seorang guru SD dilaporkan mencabuli belasan murid. Sementara di Malang, seorang dosen sebuah perguruan tinggi negeri dilaporkan mahasiswinya atas dugaan pelecehan seksual.
Sekolah, pesantren, dan kampus--tempat yang seharusnya aman bagi anak untuk tumbuh--justru menjadi lokasi terjadinya pelanggaran serius terhadap moral dan martabat manusia.
Data pun mengonfirmasi keresahan ini. Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan 2024 mencatat 330 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan, dengan ratusan kasus dilaporkan di lingkungan pendidikan. KPAI mencatat, hanya dalam Januari–Agustus 2023, ada 861 kasus kekerasan di sekolah, hampir separuhnya berupa kekerasan seksual. Itu artinya, setiap hari ada dua hingga tiga anak sekolah menjadi korban.
Ilustrasi pelecehan seksual. Foto: Fatah Afrial/kumparan

Mengapa Bisa Terjadi?

Kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan bukan kebetulan. Ada faktor-faktor mendasar yang terus berulang:

1. Relasi kuasa yang timpang.

Guru, ustaz, dosen, atau pembina punya posisi dominan. Murid atau mahasiswa sering merasa tak berdaya menolak, apalagi bila ancamannya berupa nilai, hukuman, atau reputasi sosial.
Psikolog anak Seto Mulyadi (Kak Seto) menegaskan, “Ketika relasi kuasa terlalu berat sebelah, anak kehilangan keberanian untuk melawan. Rasa hormat pada guru kadang dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan tindakan menyimpang.”

2. Relasi sosial yang kaku.

Sejak kecil, anak diajarkan untuk patuh pada guru, tapi jarang diajarkan berani berkata “tidak” ketika merasa tidak nyaman. Celah ini sering dimanfaatkan pelaku.

3. Budaya diam dan stigma.

Banyak korban memilih bungkam karena takut disalahkan, dianggap mempermalukan keluarga, atau merusak nama baik sekolah.
Menurut Komisioner KPAI, Ai Maryati Shalihah, “Korban sering kali merasa sendirian. Alih-alih dilindungi, mereka justru distigma. Inilah yang membuat kasus pelecehan di sekolah sering tidak terungkap.”

4. Minimnya pendidikan seksualitas dan consent.

Topik tubuh, batasan, dan persetujuan masih dianggap tabu. Akibatnya, banyak anak bahkan tidak sadar dirinya dilecehkan. Batas interaksi antara guru-murid dan murid-murid pada remaja ke atas harus secara disiplin diterapkan. Apalagi dalam agama Islam batasan pergaulan antara lawan jenis sudah sangat ketat ditetapkan.

5. Lemahnya sistem perlindungan.

Meski ada aturan, banyak sekolah dan kampus menutupi kasus demi menjaga citra. Laporan korban sering dipetieskan, sementara pelaku tetap beraktivitas seperti biasa.
Pakar pendidikan Prof. Anita Lie menambahkan, “Institusi pendidikan kadang lebih sibuk menjaga nama baik lembaga daripada melindungi peserta didiknya. Padahal, yang dipertaruhkan adalah masa depan anak.”
Ilustrasi Pelecehan Seksual. Foto: Shutterstock

Jalan Keluar: Dari Rumah Hingga Sekolah

Bagi para pendidik, maka wajib untuk membangun relasi yang sehat dengan siswa: dihormati karena integritas, bukan ditakuti karena kuasa. Jaga batas interaksi: hindari candaan, sentuhan atau ucapan yang bisa "mengarah" dan menyinggung. Dan jika ada laporan pelecehan, harus sikapi dengan serius dan transparan, jangan disapu ke bawah karpet.
Untuk orang tua, berbicaralah secara terbuka dengan anak tentang tubuh, batasan, dan ajarkan hak mereka untuk berkata “tidak”. Jadilah tempat aman untuk anak bercerita tanpa takut dimarahi atau dipersalahkan. Kenali pula lingkungan belajar anak: siapa guru dan teman akrabnya, bagaimana interaksinya, dan apakah sekolah punya mekanisme perlindungan yang baik atau tidak.
Institusi pendidikan sudah seharusnya membuat satgas independen yang benar-benar melindungi korban, bukan sekadar formalitas. Masukkan pendidikan tentang pencegahan pelecehan seksual ke kurikulum sejak dini. Pastikan korban mendapat layanan pemulihan: konseling psikologis, bantuan hukum, hingga dukungan akademik.
Pelecehan seksual di dunia pendidikan adalah ironi. Tempat yang seharusnya melahirkan generasi berilmu malah meninggalkan trauma seumur hidup. Kasus di Tebet, Labuhanbatu, hingga kampus Malang hanyalah puncak gunung es untuk kasus yang jauh lebih banyak yang belum terungkap.
Jika kita terus diam, maka setiap hari akan ada anak yang pulang dengan luka tak kasat mata. Kasus-kasus di atas sudah harus menjadi alarm tanda bahaya. Dunia pendidikan harus kembali jadi ruang aman. Itu hanya bisa terjadi bila guru, orang tua, sekolah, dan pemerintah bersama-sama berkata: cukup sudah.
Trending Now