Konten dari Pengguna
APBN 2026: Delapan Agenda Besar Menuju Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi
19 November 2025 16:00 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
APBN 2026: Delapan Agenda Besar Menuju Kedaulatan Pangan, Energi, dan Ekonomi
APBN 2026 mengarahkan delapan agenda prioritas untuk memperkuat kedaulatan pangan, energi, ekonomi, serta kualitas pendidikan, kesehatan, UMKM, pertahanan, dan investasi nasional.Benny Eko Supriyanto
Tulisan dari Benny Eko Supriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengesahan APBN 2026 menandai babak baru arah pembangunan Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, kerangka fiskal negara disusun dengan fokus yang sangat tegas pada kedaulatan: kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan kedaulatan ekonomi.
Delapan agenda prioritas yang menjadi tumpuan kebijakan bukan sekadar daftar program, melainkan peta jalan yang mencerminkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap pembangunan jangka panjang.
APBN tidak lagi berdiri sebagai alat belanja tahunan, tetapi sebagai instrumen strategis untuk memastikan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri dalam situasi global yang makin tidak menentu.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim, dan volatilitas harga komoditas dunia, arah pembangunan nasional membutuhkan keteguhan. APBN 2026 mencoba menghadirkan hal itu melalui investasi fiskal yang menyentuh langsung sumber daya strategis bangsa: pangan, energi, pendidikan, kesehatan, pertahanan, UMKM, dan investasi.
Delapan agenda prioritas tersebut dirancang bukan hanya untuk menjawab kebutuhan hari ini, tetapi untuk menyiapkan fondasi kekuatan negara beberapa dekade ke depan.
Ketahanan Pangan: Menjawab Tantangan Iklim dan Geopolitik
Isu pangan menjadi āurat nadiā pembangunan 2026. Pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas pertama, bukan tanpa alasan. Fluktuasi harga beras di beberapa tahun terakhir, perubahan iklim yang mengancam produksi, hingga ketergantungan terhadap impor komoditas strategis menghadirkan risiko besar terhadap stabilitas nasional.
APBN 2026 mengarahkan penguatan cadangan pangan nasional, pembangunan infrastruktur pertanian, modernisasi alat mesin pertanian, perluasan lahan produksi, dan mendorong diversifikasi konsumsi pangan berbasis komoditas lokal.
Langkah-langkah ini menegaskan bahwa kedaulatan pangan bukan sekadar jargon politik. Ia membutuhkan mesin fiskal yang konsisten, pendampingan petani, serta industrialisasi pascapanen yang lebih matang. Ketahanan pangan adalah benteng pertama kemandirian sebuah bangsa.
Ketahanan Energi: Transisi yang Sadar Realitas
Agenda kedua adalah ketahanan energiāisu strategis yang kini tak lagi dapat ditunda. Kenaikan konsumsi energi domestik, ketergantungan pada impor BBM, serta tingginya biaya subsidi energi mengharuskan negara menemukan titik keseimbangan baru. APBN 2026 mendorong percepatan penggunaan energi hijau, transisi menuju listrik berbasis EBT, efisiensi energi, serta penambahan infrastruktur penyimpanan energi.
Namun kebijakan fiskal 2026 tidak bersikap idealistis semata. Pemerintah tetap menjaga pasokan energi fosil sambil memperkuat kapasitas kilang domestik. Pendekatan ini mencerminkan paradigma baru: transisi energi yang berkelanjutan, terukur, dan berbasis kemandirian.
Makan Bergizi Gratis (MBG): Investasi Masa Depan Bangsa
Program makan bergizi gratis masuk sebagai agenda prioritas ketiga. Bukan sekadar intervensi sosial, kebijakan ini adalah investasi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia. Banyak studi menunjukkan bahwa malnutrisi di usia sekolah berdampak pada kualitas pendidikan, produktivitas ekonomi, hingga daya saing global. APBN 2026 memastikan eksekusi MBG berlangsung bertahap, terukur, dan melibatkan kolaborasi pusat-daerah serta pelibatan UMKM lokal sebagai pemasok bahan pangan.
Dengan demikian, MBG bukan hanya mencetak generasi yang sehat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui rantai pasok pangan domestik.
Pendidikan Bermutu: Melampaui Infrastruktur Fisik
APBN 2026 menempatkan pendidikan bermutu sebagai agenda keempat. Tantangannya tidak lagi berhenti pada pemerataan akses, tetapi peningkatan kualitas pembelajaran. Transformasi pendidikan mulai diarahkan pada modernisasi kurikulum, peningkatan kompetensi guru, digitalisasi proses belajar, hingga penguatan pendidikan vokasi dalam menjawab kebutuhan industri masa depan.
Pendidikan bermutu menjadi syarat mutlak bagi negara untuk memetik manfaat dari bonus demografi. Tanpa kualitas, jumlah penduduk produktif justru menjadi beban. APBN 2026 berperan sebagai akselerator yang memastikan pondasi sumber daya manusia berada pada arah yang benar.
Kesehatan Berkualitas: Memperkuat Ketahanan Sistem Kesehatan Nasional
Agenda kelima menitikberatkan pada kesehatan berkualitas yang inklusif. Pelajaran dari pandemi mendorong pemerintah memperbaiki respons sistem kesehatan nasional melalui peningkatan fasilitas layanan primer, modernisasi rumah sakit daerah, pemerataan tenaga kesehatan, hingga investasi pada industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri. Maskapai fiskal diarahkan untuk memutus ketergantungan pada impor alat kesehatan yang selama ini menjadi titik lemah nasional.
Kesehatan yang berkualitas menjadi syarat utama produktivitas ekonomi. Tanpa masyarakat yang sehat, tidak ada pembangunan yang dapat berjalan kokoh.
Pembangunan Desa, Koperasi, dan UMKM: Penopang Ekonomi Kerakyatan
Agenda keenam menjadi pondasi bagi ekonomi rakyat. APBN 2026 mempertegas kebijakan pembangunan yang bertumpu pada desa sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru. Penguatan koperasi dan UMKM dilakukan melalui akses pembiayaan, digitalisasi, pendampingan, serta perluasan pasar.
Kebijakan ini membuka jalan bagi pemerataan ekonomi yang lebih substansial. UMKM tidak lagi ditempatkan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pilar utama ekonomi domestik yang menyerap tenaga kerja, memperkuat kapasitas produksi lokal, dan menopang konsumsi nasional.
Pertahanan Semesta: Membangun Kekokohan Negara Demokratis
Agenda ketujuh adalah pertahanan semesta. Di tengah dinamika geopolitik dunia, investasi pertahanan menjadi prioritas tak terelakkan. Namun APBN 2026 tidak hanya mengarah pada penguatan alat utama sistem senjata (alutsista), tetapi juga pada pertahanan rakyat semestaākonsep pertahanan yang melibatkan kekuatan militer, sipil, dan seluruh potensi nasional. Modernisasi teknologi pertahanan dan industri pertahanan dalam negeri menjadi perhatian khusus.
Kedaulatan tidak mungkin terwujud tanpa pertahanan yang kokoh.
Akselerasi Investasi dan Perdagangan: Mesin Penggerak Pertumbuhan
Agenda terakhirāakselerasi investasi dan perdaganganāmerupakan āmesin pertumbuhanā yang menjaga daya dorong ekonomi. APBN 2026 memfasilitasi percepatan perizinan, reformasi birokrasi, penguatan layanan ekspor, dan pembangunan infrastruktur logistik. Pemerintah menyadari bahwa tanpa arus investasi yang stabil, agenda pembangunan nasional tidak akan berjalan optimal.
Investasi yang kuat, perdagangan yang kompetitif, dan ekosistem bisnis yang kondusif adalah fondasi bagi kedaulatan ekonomi nasional.
APBN 2026 sebagai Tonggak Kemandirian Nasional
Delapan agenda prioritas APBN 2026 menunjukkan upaya serius pemerintah dalam membangun fondasi kedaulatan bangsa. Setiap agenda saling berkelindan, membentuk ekosistem pembangunan yang komprehensif: pangan yang berdaulat, energi yang mandiri, manusia yang berkualitas, desa yang produktif, pertahanan yang kuat, dan investasi yang tumbuh. APBN 2026 berperan sebagai instrumen yang menegaskan arah besar negara: Indonesia harus mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Kedaulatan bukanlah tujuan yang dicapai dalam satu tahun anggaran. Namun pengesahan APBN 2026 adalah satu langkah besar menuju Indonesia yang lebih percaya diri di panggung globalāsebuah negara yang mandiri dalam pangan, energi, dan ekonomi, sekaligus sejahtera rakyatnya dalam pendidikan dan kesehatan. Peta jalan pembangunan itu kini telah terbentang. Tantangannya adalah bagaimana memastikan implementasinya berjalan konsisten dan tepat sasaran.

