Konten dari Pengguna
Modernisasi Treasury: DJPb Perkuat SDM Lewat Budaya Belajar Terpadu
9 Desember 2025 14:00 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Modernisasi Treasury: DJPb Perkuat SDM Lewat Budaya Belajar Terpadu
Budaya belajar DJPb menjadi fondasi penguatan kompetensi pegawai melalui Learning Path, KMS–LMS, dan metrik kinerja untuk mendorong inovasi serta meningkatkan kualitas layanan perbendaharaan negara.Benny Eko Supriyanto
Tulisan dari Benny Eko Supriyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah perubahan cepat dalam pengelolaan keuangan negara, organisasi publik dituntut lebih adaptif, presisi, dan inovatif. Namun satu faktor fundamental sering terabaikan: kemampuan manusia yang menggerakkan seluruh sistem itu. Di Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) - Kementerian Keuangan, kesadaran inilah yang memunculkan komitmen untuk membangun budaya belajar terpadu—sebuah ekosistem yang bukan hanya mendorong peningkatan kompetensi, tetapi juga mentransformasi cara organisasi bekerja.
Belajar sebagai Fondasi Modernisasi Treasury
Teknologi dapat diperbarui, sistem dapat diganti, tetapi kapasitas sumber daya manusia memerlukan proses yang berkelanjutan. DJPb memahami bahwa kualitas layanan perbendaharaan tidak mungkin terjaga tanpa SDM yang profesional, adaptif, dan haus akan pengetahuan baru. Karena itu, belajar ditempatkan bukan sebagai aktivitas insidental, melainkan sebagai bagian dari identitas kelembagaan.
Budaya belajar ini menjadi jawaban atas tantangan nyata yang dihadapi DJPb: eksekusi anggaran yang semakin kompleks, digitalisasi layanan kas, keharusan akurasi pelaporan, hingga berkembangnya mandat special mission treasury yang menuntut talenta lintas ilmu. Tanpa dorongan belajar yang konsisten, organisasi akan tertinggal dibanding dinamika fiskal dan teknologi.
Menata Ekosistem Belajar yang Terstruktur
Untuk memastikan pembelajaran tidak hanya menjadi slogan, DJPb membangun sistem yang teruji. Ada lima pilar utama yang menjadi pondasi.
Pertama, Learning Value Chain yang mengarahkan setiap inisiatif belajar melalui proses analisis kebutuhan, desain materi, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Setiap pelatihan dievaluasi dampaknya, bukan hanya jumlah pesertanya.
Kedua, pelibatan seluruh pegawai melalui model learning participants: ada learning buddy, coach, mentor, dan pimpinan yang bertindak sebagai teachers sekaligus teladan. Belajar tidak berhenti pada ruang kelas; ia dibawa ke meja rapat, ruang kerja, hingga dinamika pelayanan harian.
Ketiga, dukungan learning infrastructures, mulai dari ruang belajar, internet, hingga akses sumber pengetahuan yang memadai.
Keempat, knowledge management yang mengubah praktik baik dan pengalaman kerja menjadi aset pengetahuan yang dapat dibagikan kembali.
Kelima, metrik pembelajaran yang mengaitkan proses belajar dengan kinerja organisasi, sehingga setiap jam belajar memiliki makna dan kontribusi nyata.
Pilar-pilar ini memastikan budaya belajar tumbuh bukan dari program seremonial, melainkan dari proses yang terukur dan berkelanjutan.
Learning Path: Jalur Bertumbuh Sepanjang Karier
DJPb menyusun Learning Path sebagai pedoman pengembangan kompetensi yang menyeluruh. Jalur ini memetakan perjalanan pegawai sejak menjadi CPNS hingga menjelang pensiun. Ada empat rumpun utama—Treasury Operation, Regional Chief Economist, Financial Advisory, dan Strategic Supporting.
Setiap pegawai diberi titik awal yang jelas berdasarkan jabatan, pendidikan, dan pengalaman. Dari situ, mereka diarahkan bertahap untuk menguasai kompetensi dasar hingga tingkat lanjutan. Dengan model ini, peningkatan kapasitas tidak lagi mengandalkan keberuntungan atau kesempatan sporadis, tetapi mengikuti peta kompetensi yang transparan dan adil.
Learning Path juga membagi kompetensi dalam klaster: fundamental knowledge, leveled competencies, dan thematic competencies. Struktur ini memastikan pegawai dapat melakukan reskilling, upskilling, dan cross-skilling sesuai dinamika tugas.
Teknologi Pembelajaran: TLEGO, KLC, dan Aplikasi Training DJPb
Modernisasi pembelajaran tidak lepas dari pemanfaatan teknologi. DJPb mengintegrasikan berbagai platform agar pengetahuan dapat diakses kapan saja.
Aplikasi Training DJPb menjadi rumah besar pengelolaan diklat, beasiswa, hard competency, hingga coaching dan counselling.
TLEGO, sebagai platform knowledge management system, menyimpan aset intelektual organisasi dan menjadi kanal konsultasi teknis melalui Call the Expert.
Kemenkeu Learning Center (KLC) menyediakan modul e-learning dan microlearning yang fleksibel, sekaligus menjadi medium berbagi pengetahuan secara lintas unit.
Dengan infrastruktur digital ini, hambatan waktu dan ruang tidak lagi menjadi penghalang bagi pembelajaran.
Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Kegiatan
Salah satu terobosan penting dalam budaya belajar DJPb adalah Treasury Learning Metric, alat ukur terstruktur yang mengaitkan jam belajar, penguasaan hard competency, perubahan perilaku kerja, hingga dampaknya terhadap kinerja organisasi. Pengukuran dilakukan secara triwulanan untuk memastikan pembelajaran tidak berhenti sebagai rutinitas administrasi.
Melalui metrik ini, pembelajaran menjadi bagian strategis dari manajemen kinerja, bukan sekadar aktivitas pendamping.
Membentuk SDM yang Adaptif melalui Empat Jalur Pembelajaran
DJPb mengoperasikan empat jalur pembelajaran yang saling melengkapi:
1. Self Learning
Mendorong pegawai belajar mandiri melalui literatur, video, kursus daring, atau materi KMS.
2. Social Learning
Melibatkan diskusi kelompok, forum berbagi, coaching–mentoring, hingga komunitas praktik. Belajar tumbuh melalui interaksi.
3. Structured Learning
Meliputi diklat formal, PJJ, blended learning, dan sertifikasi teknis.
4. Learning While Working
Belajar yang berorientasi kinerja melalui project assignment, action learning, job enlargement,atau task force.
Dengan kombinasi ini, belajar tidak lagi terbatas pada ruang pelatihan, tetapi menjadi aktivitas yang hidup di ruang kerja sehari-hari.
Tantangan Budaya dan Tuntutan Konsistensi
Transformasi budaya tentu tidak datang tanpa hambatan. Perubahan cara pandang—dari “pelatihan sebagai acara” menjadi “belajar sebagai kebiasaan”—memerlukan keteladanan pimpinan dan konsistensi implementasi. Beban tugas yang padat, kualitas konten, hingga ketersediaan infrastruktur juga menjadi tantangan yang harus diselesaikan.
Namun, DJPb merespons dengan strategi: memaksimalkan microlearning, memperkuat leaders as teachers, dan memastikan KMS–LMS terus berkembang.
Dampak bagi Pegawai dan Organisasi
Budaya belajar membawa banyak manfaat. Bagi pegawai, ia memperluas kompetensi teknis dan manajerial. Bagi pimpinan, ia memperkuat kualitas kepemimpinan yang berorientasi pembinaan. Bagi organisasi, budaya belajar meningkatkan ketepatan layanan, mempercepat proses kerja, dan memperkuat reputasi profesional.
Lebih jauh lagi, DJPb membangun ekosistem kolaboratif dengan lembaga pelatihan internal dan mitra internasional, membuka ruang transfer pengetahuan yang semakin luas.
Belajar sebagai Mesin Pertumbuhan Organisasi
Di banyak organisasi modern, budaya belajar menjadi indikator kematangan. DJPb telah menempatkan pembelajaran bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai mesin yang menggerakkan modernisasi treasury. Mesin yang senyap, tetapi bekerja tanpa henti—menguatkan kompetensi, memperbaiki cara kerja, dan melahirkan inovasi.
Dalam lanskap fiskal yang berubah cepat, hanya organisasi yang terus belajar yang mampu bertahan dan memimpin. Dengan budaya belajar terpadu, DJPb menyalakan kompas perubahan: menuju layanan perbendaharaan negara yang lebih presisi, transparan, dan berdampak bagi publik.

